
Pagi hari Zava sudah bangun dan sekarang sedang menghias tanaman bunga mawar yang diberi Dion karena tidak ingin layu diapun berinisiatif merawatnya didalam pot sehingga menambah kecantikan kontrakannya dia juga menaruh dikamarnya.
"Wah... cantik sekali bunganya harum lagi persis seperti orangnya." ucap Wawan tiba-tiba sudah didepan Zava.
Zava langsung terkejut sambil mengelus dadanya, "Bang Wawan, mengagetkan saja!" lalu kembali fokus pada bunganya.
"Begitu saja kaget, atau jangan-jangan kau tidak memperhatikan aku datang." tebak Wawan yang ternyata benar.
"Iya, aku memang tidak tau kedatanganku." jawab Zava tapi matanya tetap kebunga itu sambil tersenyum dengan wajah berseri-seri, membuat Wawan ikut tersenyum menikmati pemandangan manis dihadapannya.
"Woyy...!" kali ini Daryna datang mengagetkan Wawan yang masih memandangi Zava sehingga membuatnya terkejut.
"Daryna..." panggil Wawan dengan suara ditekan. Daryna tertawa melihatnya sedangkan Zava hanya menggelengkan kepala karena diapun ikut terkejut sedikit.
"Lagian kau ngapain mandangin Zava seperti itu?" tanya Daryna pada Wawan.
"Ya apalagi kau bisa melihat kan aku sedang memandangi bunga yang indah berikut pemiliknya." balas Wawan tersenyum genit pada Zava.
Zava hanya tersenyum acuh lalu menoleh kembali kepada bunganya membuat Daryna ikut menoleh.
"Wah bunga mawar cantik sekali, tumben kau membeli bunga Va." tanya Daryna yang ikut kagum melihat bunga mawar itu.
"Tidak, aku tidak beli, ini diberi seseorang." jawab Zava mulai membayangkan Dion dengan wajah yang berseri.
"Wah ini pasti pemberian dari tuan Dion yang tampan itu yah!" tebak Daryna sambil menunjuk wajah Zava.
"Dion...!" itu suara Gilang yang tiba-tiba datang tanpa suara motornya membuat yang lain jadi ikut terperanjat.
"Gilang... kok tiba-tiba ada kamu, dari mana datangnya." Zava yang kaget melihat Gilang jadi salah tingkah.
"Bunga ini pemberian dari Dion." Gilang tak menjawab malah bertanya yang lain.
"Iya ini dari Dion." jawab Zava singkat.
Terlihat ada sorot mata cemburu dari wajah Gilang yang bisa ditangkap oleh Daryna membuatnya berdehem.
"Ehem... pak Gilang katanya bapak bilang ingin membawa saudari bapak, mana kok belum dikenalkan denganku." Daryna segera mengalihkan pertanyaan.
"Akh... iya mana Salma?" Gilang mencoba menormalkan emosinya dengan menanyakan Salma.
"Salma ada didalam, sebentar aku panggilkan." sebelum Zava memanggil yang ditanya sudah keluar duluan.
__ADS_1
"Eh itu Salma." tunjuknya pada Salma.
Wawan yang sedari tadi diam jadi terkesima melihat kedatangan Salma yang seperti bidadari membuatnya tak berhenti berkedip, Daryna yang menyadari segera langsung menyumpal mulut Wawan dengan daun yang dia temukan membuat Wawan tersadar dan memuntahkan daunnya.
"Ihh Daryna apa-apa an kau memang aku kambing diberi daun." protes Wawan membuat Zava, Gilang dan Salma tertawa tertahan.
"Mangkanya punya mata tuh jangan jelalatan, tidak bisa melihat perempuan cantik apa." omel Daryna mengerucutkan bibirnya.
Wawan kemudian tersenyum jahil, "Kenapa kau cemburu yah?" sambil menyentuh dagu Daryna.
Daryna segera menghapusnya, "Ihh untuk apa aku cemburu, kau bukan levelku tau."
"Benarkah," Wawan menantang dengan menyilangkan tangan didada.
"Benar, sudah ah. Hai kenalkan aku Daryna!" Daryna jadi salah tingkah memilih berkenalan dengan Salma untuk menghilangkan kegugupannya.
"Aku Salma." jawab Salma tersenyum manis.
"Hai aku Wawan pria tertampan dikota ini." pujinya pada dirinya sendiri membuat Daryna ingin muntah.
"Eh yang bener pria tertampan dari urutan belakang dikota ini." ucap Daryna mencibir.
Daryna Langsung membual, "Zava, aku tidak mau yah berjodoh dengannya." kata Daryna mengelak.
"Hey kenapa tidak mau aku kan tampan?" timpal Wawan menyentuh dagunya.
"Sudahlah tidak usah berdebat. Ayo kita berangkat sekarang." Gilang yang pikirannya selalu tertuju pada bunga mawar pemberian Dion itu menjadi gerah dan ingin segera pergi dari situ.
"Kak, motor kakak mana?" tanya Salma karena melihat tak ada motor yang terparkir.
"Motorku sedang dibengkel, aku kesini naik angkot, ayo Salma kita berangkat ini hari pertamamu mengajar kau harus memberikan kesan yang baik. Mengerti." ucap Gilang datar
Salma mengangguk, " Iya kak, kak aku pergi mengajar dulu yah!" pamit Salma pada Zava.
"Iya hati-hati yah!" jawab Zava.
"Aku juga yah Va!" Daryna ikut menyahut.
"Aku pergi Zava." hanya itu yang diucapkan Gilang datar sekali bahkan tak ada senyum membuat Zava terheran.
Kemudian mereka bertiga pun pergi bersama sedangkan Wawan belum pergi masih disitu.
__ADS_1
"Eh Wawan kok masih disini tidak berangkat juga sekalian." kata Zava mengingatkan.
"Aku masih ada waktu 20 menit lagi jadi bisa santai." jawab Wawan terkesan santai apalagi dia mengetahui bahwa bos nya tidak hadir di perusahaan selama beberapa hari.
"Tapi kau terlihat santai sekali, apa tidak takut telat?"
"Tidak, kau tau mungkin dalam beberapa hari ini aku terbebas karena bos besar ku sedang berada diluar negri. Hah senangnya!" kata Wawan merasa lega.
"Jadi tuan Dion benar-benar pergi." ulang Zava sedih, kenapa dia jadi murung? bukankah dia juga terbebas dari pria pemaksa itu.
"Kau kenapa Va? kenapa kau murung."
"Ah tidak apa-apa hanya berfikir saja apa pesanannya tetap berjalan meskipun bos mu tidak ada?"
"Tetaplah kalau itu, kau tau sehari saja mereka tidak memakan makananmu mereka akan kehilangan." ucap Wawan melebihkan.
"Kau ini berlebihan sekali dalam memuji memangnya hanya aku penjual nasi kuning."
"Hey, aku berkata benar nasi kuningmu memang enak." puji Wawan mengacungkan dua jempol.
"Eh ngomong-ngomong aku penasaran ada hubungan apa antara kau dengan tuan bos?" tanya Wawan mulai serius.
Zava jadi gelagapan, "Ah tidak ada apa-apa kok!".
"Masa, kau tau dikantor semua rekanku membicarakanmu, mereka juga penasaran dan heran. Kenapa hanya kau yang boleh masuk keruangannya selain asistennya. Mereka yang sudah lama bekerja disana saja belum pernah menginjakan kaki diruangan bos besar kecuali aku yah! aku pernah masuk soalnya." ucap Wawan panjang lebar diakhiri dengan kata membanggakan diri.
Memang semenjak Zava memasuki kantor itu mereka yang melihat bertanya-tanya dan heran kenapa bisa hanya seorang tukang nasi kuning boleh memasuki ruangan bos besar mereka apalagi ini atas perintah bos itu sendiri.Tapi mereka tidak berani bertanya.
"Kenapa kau tanya aku? kenapa tidak tanyakan saja pada bos mu?" ujar Zava asal.
"Hah! kau gila aku disuruh tanya sendiri, bisa disleding aku dikantor itu." jawab Wawan kesal.
Zava tersenyum geli, "Lalu kenapa kau bertanya padaku? aku saja tidak tau kenapa?"
"Emm... apa bos menyukaimu yah!" ucap Wawan sambil wajahnya menengadah keatas.
Zava terhenyak. "Akh tidak mungkin." elak Zava.
"Mungkin saja, karena seorang lelaki jika sudah menyukai wanita dia tidak akan pandang bulu jika dia mencintai dengan tulus jadi menurutku bos menyukaimu." tebak Wawan yang ternyata benar.
Zava terdiam mencoba meresapi ucapan Wawan.
__ADS_1