Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Semua Mata Tertuju Padamu


__ADS_3

Zava masih didalam mobil tapi jepretan kamera sudah menghiasinya membuat dia menyipitkan matanya tiba-tiba saja dia menjadi ragu untuk keluar karena hanya melihat dari luarnya saja ini sangat ramai dan dipenuhi dengan orang-orang yang berkelas sudah pasti juga status mereka juga tinggi sedangkan dirinya, dia hanya orang yang diajak oleh Dion dan tidak mempunyai derajat apapun bahkan dia tergolong orang miskin.


"Zava, ayo ikut denganku?" Dion mengulurkan tangannya agar Zava mengikutinya.


Zava tersenyum ragu, "Eh tuan tapi aku malu..." katanya menggigit kuku jari-jari nya.


Dion tersenyum tipis, "Kau tidak perlu malu, ada aku dan kau tetaplah bersamaku. Kau paham."


"Tapi...!"


"Tidak akan terjadi apapun pada dirimu, aku sendiri yang akan maju jika kau kesulitan." ucapnya lagi meyakinkan Zava, Zava kemudian tersenyum mempercayai kata-kata Dion dan menerima uluran tangannya.


Pengawal yang sudah menunggu membukakan pintu para wartawan sudah siap digaris yang dibatasi dengan kamera yang terus memotret.


Dion keluar dengan gagah lalu dia menggenggam erat tangan Zava yang membuat semua orang penasaran.


Saat Zava sudah keluar sempurna mereka semua terpesona dan kagum bisik-bisik orang memuji kecantikan dan penampilan Zava.


Zava tersenyum pada mereka semua tapi sebenarnya hatinya merasa tidak nyaman dia kan bukan artis kenapa dia jadi sorotan seperti ini, ah lupa ini kan karena Dion pikirnya.


Dion terus menggenggam tangan Zava walaupun wajahnya tanpa senyum dan tak mempedulikan jepretan kamera tapi dia tetap tampan dan berkarisma dan sangat serasi disandingkan dengan Zava.


Mereka berdua pun masuk dengan aman tapi bisik-bisik itu masih terdengar bersahutan.


"Wah cantik sekali, tuan Dion memang pandai memilih wanita."


"Iya tapi sepertinya wanitanya sangat polos terlihat wajahnya yang masih muda."


"Iya dan lagi aku tidak mengenal dia, dia bukan artis ataupun model apalagi artis internasional."


"Iya kira-kira siapa yah wanita itu."


"Ini berita bagus nih kita harus cari tau gadis itu."


Begitulah kata para wartawan yang kagum serta penasaran. Saat masuk pun Dion dan Zava menjadi pusat perhatian semua menoleh kagum dan terpesona pada mereka, dan mereka semua pikir Zava dan Dion sangat serasi.


"Tuan Dion, selamat atas pencapaiannya tidak kusangka kau bekerja dengan sangat cepat." ucap pria paruh baya yang merupakan Presdir diperusahaan lain menjabat tangan Dion.


Dion menerimanya dan hanya berucap, "Terimakasih."

__ADS_1


Lalu pria itu memandangi Zava dengan intens, "Siapa gadis ini tuan?, bolehkah aku berkenalan?." tanya nya dengan tersenyum genit.


"Maaf urusan kita hanya bekerja dan jaga tatapanmu." kata Dion dingin sangat tak suka dengan cara pandang pria paruh baya itu pada Zava.


"Oh maaf tuan." Dion tak menjawab dia melengos pergi membawa Zava sedangkan Zava hanya menunduk.


Saat Dion dan Zava melewati para wanita yang tadi membicarakan mereka, Zava mencoba tersenyum pada mereka tapi mereka hanya acuh dan ada juga yang membalas.


"Waw, siapa dia? kau mengenalnya?"


"Tidak, tapi dia cantik sekali sangat serasi dengan Dion."


"Tapi siapa dia yah! aku mengenal semua artis dan model dan artis internasional juga tapi tak ada yang wajahnya seperti dia."


"Atau itu kekasih Dion yang sebenarnya."


"Hah... kalau memang itu benar semua artis yang pernah dengan Dion dan model akan patah hati."


'huhuhu'


begitulah kata mereka diakhiri dengan tangis meledek lalu kemudian tertawa.


"Hai Dion, bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu." seorang wanita cantik dan seksi yang berpenampilan anggun dan elegan menyapa Dion dengan ramah dan menghentikan langkah Dion dan Zava.


Dion tak menjawab lalu Seril memandangi Zava dengan senyuman sinis yang dibalut wajah elegannya dan Zava membalas senyuman itu dengan tulus.


"Hai aku Seril Davina kau pasti mengenalku kan , aku sering berseliweran dimana-mana dan kau tau sebelum Dion membawamu dia selalu membawaku sehingga mereka kira kita adalah kekasih." ucapnya dengan kata yang halus kemudian menutup mulutnya untuk menutupi tawanya.


"Lucu sekali kan yah! tapi aku sih tidak masalah jika dianggap kekasih oleh Dion justru aku senang bisa bersanding dengannya dan kau saat ini gadis yang beruntung telah mendapatkan posisi itu." lanjutnya lagi.


"Tapi ngomong-ngomong siapa namamu? aku ingin tau dari golongan mana Dion memilihmu." ucapnya lagi dengan tersenyum.


Zava ingin menjawab tapi langsung dihentikan oleh Dion.


"Maaf nona, terimakasih karena sudah menyapa kami tapi sekali lagi maaf kami tidak ada waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu, aku harap kau mengerti dengan situasinya." ucap Dion dengan datar karena tak ingin orang lain tau siapa Zava.


"Oh maafkan aku kalau begitu tuan Dion, aku menghalangi jalanmu silahkan lanjutkan." ucap Seril menyingkir dengan halus dan membiarkan mereka pergi tapi saat mereka pergi Seril merasa geram dan menahan gejolak emosi karena merasa diinjak harga dirinya oleh Dion dia mengepalkan tangan kemudian pergi.


"Tante lihat , itu gadis itu gadis yang dibela Dion waktu di mall." ucap Anetta menunjuk Zava yang berjalan bersama Dion.

__ADS_1


Karena Zava terhalang oleh pengawal jadi tidak terlihat oleh Mega sehingga Mega mendongakkan kepalanya keatas supaya dapat terlihat tapi sayangnya sama sekali tidak terlihat.


"Mana sih Anetta, Tante tidak bisa melihat." kata Mega penasaran.


"Ihh Tante tuh kan mereka sudah kesana makanya fokus dong Tante." sungut Anetta kesal.


"Kenapa kau jadi marah-marah sama Tante, sudahlah Tante mau kesana Tante lapar." ucap Mega tak menanggapi kekesalan Anetta dia berjalan menuju stand makanan.


"Ihh Tante tunggu aku." Mau tak mau Anetta pun mengikuti dengan menghentak-hentakan kakinya.


Sedangkan Dion dan Zava yang sudah maju ditempat paling depan untuk mengucapkan sambutan demi berjalannya acara.


"Tuan, nona silahkan duduk disini." ucap Kevin sambil mendorong kursi ekslusif untuk Dion dan Zava.


Dion langsung duduk sedangkan Zava tersenyum.


"Terimakasih tuan Kevin." kata Zava tersenyum manis membuat Dion langsung menatap dingin pada mereka berdua.


"Kau, untuk apa tersenyum seperti itu padanya dan kau jangan membalas jaga tatapanmu." kata Dion dingin pada Zava dan menatap tajam pada Kevin.


Zava hanya meringis malu sedangkan Kevin diam saja sudah tau ini yang akan terjadi.


"Tuan kira-kira acara ini selesai jam berapa?" tanya Zava pelan pada Dion disampingnya.


"Ada apa? kita saja baru datang dan kau sudah menanyakan kapan selesainya." balas Dion menatap intens Zava lebih dekat.


Ditatap seperti itu Zava memundurkan wajahnya, "Tidak apa-apa aku hanya merasa insecure, apalagi tatapan-tatapan mereka padaku seperti tidak bersahabat." keluh Zava memang benar.


Karena disepanjang dia berjalan sampai duduk ditempatnya semua orang memandangnya aneh apalagi yang perempuan mereka seakan penasaran yang kentara namun dengan pandangan meremehkan.


"Didunia bisnis memang seperti ini dan kau harus belajar beradaptasi mulai sekarang dan aku akan selalu ada di sampingmu." ucap Dion tersenyum kemudian mencium tangan Zava dengan lembut membuat pipi Zava memerah dan memalingkan wajahnya.


Tentu saja mereka yang hanya melihat saja jadi baper sendiri dengan perlakuan romantis Dion pada Zava.


"Tuan kau tidak malu melakukannya, aku saja malu." kata Zava menepuk pundak Dion dengan tersenyum malu.


"Kau beraninya memukulku, ingat hanya kau yang seperti ini dan kau akan mendapat hukumannya setelah ini" balas Dion tersenyum menyeringai.


Zava pias mendengarnya dan langsung meminta maaf, "Maafkan aku, aku tidak sengaja aku reflek."

__ADS_1


"Tidak bisa kau tetap akan mendapat hukumannya." kata Dion kekeh sementara Zava panik hukuman seperti apa yang akan diterimanya.


Tak lama setelah itu Dion dipanggil untuk maju kedepan untuk memberikan sambutan sepatah dua patah kata atas keberhasilan perusahaannya.


__ADS_2