
"Kakak, tidak ingat apapun kah?" Zava bertanya lagi sambil memandangi Rian.
Rian yang dipandangi seperti itu ingatannya mulai berfikir dia memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit karena ada suatu bayangan muncul tentang masa lalunya dimana dia pernah mengalami kebakaran rumahnya serta bayang-bayang bersama keluarganya dan terakhir kali nya dia ditabrak mobil.
"Arrgghhh...!" ingatan itu membuatnya mengerang kesakitan dan terus memegangi kepalanya.
"Kak, ada apa? kakak kenapa?". Zava khawatir terhadap kakaknya yang tiba-tiba berteriak.
Semakin Rian mengingat masa lalu semakin dia kesakitan.
Sehingga Edgar pun datang sambil membawa minuman, dengan tergesa-gesa Edgar membawa minuman itu.
"Tuan, tolong kakakku. Apa yang terjadi dengannya? kenapa dia jadi seperti itu?". tanya Zava pada Edgar.
Edgar segera mengambil obatnya dan membantu Rian meminum obatnya.
"Rio, tenanglah minum obatmu."
Rian segera mengambil obat itu dan meminumnya karena tidak tahan. Setelah meminum obat itu perlahan sakitnya berangsur membaik dan Rio menyandarkan kepalanya disofa.
"Istirahatlah!" ucap Edgar, Rian hanya mengangguk.
"Tuan, bagaimana tuan menemukannya?" tanya Zava air mata sudah menggenangi pipinya.
Edgar yang melihatnya segera menghapus air mata itu dengan jempolnya dan menatap Zava dengan lembut.
"Pertama kali aku menemukannya, karena supirku tidak sengaja menabraknya dia keluar dari rumah sakit dalam keadaan yang memprihatinkan. Aku tidak tau apa yang terjadi? hanya saja karena aku buru-buru maka dengan terpaksa aku membawanya kerumah sakit lain dan mendapati dia amnesia.
Karena aku tidak tau identitasnya dan keluarganya dengan terpaksa lagi aku membawanya kenegaraku dan menjadikannya asistenku setelah aku memecat asisten lamaku dan ternyata dia sangat pintar dan giat, aku menyukainya hingga dia terus bersamaku hingga sekarang bertemu denganmu." cerita Edgar pada Zava tentang Rian.
"Maafkan aku yah! aku tidak menyelidikinya terlebih dahulu." sambungnya lagi.
Zava hanya mendengarkan tanpa menyela dia melihat Rian yang berduduk bersandar sambil memejamkan matanya.
"Terimakasih tuan, walau bagaimanapun juga kau telah menyelamatkan kakakku. Kalau tidak ada dirimu dan kehendak dari yang kuasa aku tidak tau bisa bertemu kakakku atau tidak, aku bersyukur sekali bisa bertemu lagi dengannya.!" ucap Zava sendu sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, mungkin seharusnya aku yang bersyukur karena telah dipertemukan dengan gadis cantik sepertimu yang tidak menyangka bahwa kau adalah adiknya." balas Edgar tersenyum samar, diapun berniat ingin memiliki Zava juga.
Setelah itu Rian membuka matanya rupanya dia telah tersadar dan kepalanya sudah agak mendingan.
"Kakak...!" Zava membantu Rian untuk duduk tegak.
"Kau benar adikku?"
"Iya kak, aku Titi adik kakak.!"
"Lalu dimana orang tua kita! aku melihat ada kebakaran." kata Rian mengingat melalui bayangannya.
Zava menunduk sedih, "Ayah, ibu dan adik kita sudah meninggal kak pada kebakaran itu dan hanya kita yang selamat dan kak Rian belum tau itu karena kakak pingsan dan terluka, lalu kakak dibawa kerumah sakit, tapi pas aku datang untuk menengok kakak sudah tidak ada dan yang aku lihat kakak dibawa masuk kedalam mobil yang ternyata itu adalah dia.!" terangnya bercerita tentang orang tuanya dan menunjuk Edgar dengan dagunya diakhir kalimat.
__ADS_1
"Apa? jadi kita yatim piatu." tanya Rian tak percaya.
Rian kembali menyandarkan kepalanya dan mengusap wajahnya kasar, lalu memeluk Zava.
"Tapi tidak apa? aku masih punya kamu." lalu Rian melepaskan pelukannya.
"Kak Rian mau melihat tempat pemakaman keluarga kita.' tawarnya dan Rian menggangguk.
"Iya tentu saja!" Rian tersenyum, Zava pun ikut tersenyum.
****
"Kevin, cepat cari tau dimana Zava sekarang?" perintah Dion dengan menggebu.
Karena setelah melihat ponselnya dia terkejut cemas melihat Zava bukan berada dikontrakannya dan Zava tidak memberi tahu dirinya kemana membuat Dion uring-uringan tak jelas.
"Baik tuan,!" Kevin langsung melakukan perintah Dion dengan sigap dan cepat.
Tak lama kemudian Kevin kembali dengan membawa berita.
"Bagaimana?" Dion yang tak sabar segera menyambar dengan pertanyaaan.
"Tuan, nona Zava sedang berada di daerah selatan masuk ke apartemen." jawab Kevin melalui pelacakan dari ponsel Zava.
"Apa..? kenapa dia bisa ada disitu? sedang apa dia disana?" Dion tambah cemas ketika mengetahui Zava berada diapartemen.
"Nona Zava sekarang berada bersama tuan Edgar dan juga asistennya."
"Apa... Edgar!" Kevin terkaget mendengar teriakan Dion yang mendengar nama Edgar.
"Iya tuan dia sudah kembali!" kata Kevin tenang.
"Kurang ajar, untuk apa dia kembali? apalagi sekarang dia bersama wanitaku? apa dia ingin membawa istriku." ucap Dion dengan menggertakan giginya marah.
"Kevin, cepat jemput dia aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya?" perintah Dion dengan suara yang keras.
"Baik tuan!".
Kevin memerintah para anak buahnya untuk menjemput Zava, Dion tentu saja ikut karena diapun ingin bertemu dengan sahabat sekaligus musuhnya itu.
****
Sedangkan diapartemen Edgar, Edgar mendapati ponselnya berdering itu dari anak buahnya segera dia mengangkatnya.
"Iya ada apa?" tanya Edgar datar.
"Tuan, tuan Dion ingin datang kesini!" jawab anak buahnya dengan gemetar.
Edgar terdiam untuk beberapa detik kemudian menjawab, "Silahkan saja! jangan halangi dia." jawabnya santai.
__ADS_1
"Baiklah tuan jika begitu!"
Panggilan pun terputus Rian memandangi tuannya yang mendadak diam.
"Ada apa tuan? apa ada masalah.!" tanya Rian.
"Rian bisakah kau bawa Zava dari sini, ketempat tinggal mu yang baru aku ada sedikit urusan disini." ucapnya membuat Rian mengerti namun Zava kebingungan.
"Baik tuan, aku laksanakan! ayo Zava!." jawabnya dan mengajak Zava untuk pergi.
"Ada apa kak memangnya?" tanya Zava.
"Tidak ada apa-apa! apa kamu mau tau dimana tempat tinggal kakak?" kata Rian tersenyum.
"Iya kak aku mau." dengan antusias Zava menyahut ajakan Rian.
"Baiklah tuan aku pergi dulu!" pamit Rian.
"Iya hati-hati. Nanti aku akan menyusul kalian."
kata Edgar. Kemudian Zava dan Rian pun menghilang dibalik pintu.
Saat itu juga Edgar tersenyum smirk.
"Kau pikir aku akan menyerahkan wanitamu, yang sebentar lagi akan menjadi wanitaku, kau akan merasakan bagaimana kehilangan orang yang kau cintai." gumamnya tersenyum devil. Karena Edgar memang sengaja membawa Zava kesini karena dia ingin merebut Zava dari Dion.
Kemudian Edgar mengeluarkan ponsel Zava yang entah kapan sudah berada ditangannya dan melihat beberapa panggilan serta pesan dari Dion yang sengaja tidak dibalas.
****
"Kakak ponselku!" tanya Zava merogoh sakunya saat tersadar bahwa ponselnya tidak ada karena dia ingin mengabari Dion.
Mereka kini sedang berada didalam mobil menuju tempat tinggal Rian.
"Ponselmu, kau membawa ponsel." tanya Rian sambil mengemudi.
"Iya kak, tapi sekarang tidak ada aku ingin mengabari Dion." kata Zava bertambah panik.
"Dion, siapa Dion? kekasihmu."
"Iya, dia pasti menelfonku dan mengkhawatirkanku kak, bagaimana ini? kok bisa hilang." ucap Zava lagi dengan perasaan gelisah.
Lalu tiba-tiba ponsel Rian bergetar menandakan pesan masuk dari Edgar yang berbunyi.
'Aku tak sengaja menemukan ponsel adikmu, jangan beri tahu dia, biar aku sendiri yang mengembalikannya.'
Rian tersenyum, dan membalas 'Baik tuan tidak masalah'.
"Tenanglah Zava, ponselmu akan kembali jika tidak kembali maka akan aku belikan lagi yang baru." ucap Rian menenangkan adiknya yang masih panik dan gelisah.
__ADS_1