Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Hari yang dinanti pun telah tiba pesta perusahaan terbesar di Jakarta akan segera diadakan tujuan pesta itu sendiri adalah untuk merayakan ulang tahun perusahaan yang sudah berdiri sejak 50 tahun yang lalu hingga sekarang sekaligus merayakan keberhasilan dari keterpurukan perusahaan itu berkat tangan Dion dan asistennya Kevin.


Perusahaan mereka kini menjadi perusahaan yang ternama dan tersohor karena telah berhasil meningkatkan produktifitasnya.


Tidak menyangka usaha Dion berhasil untuk memulihkan kembali perusahaan yang tengah diambang kebangkrutan itu.


Oleh sebab itu Dion mengadakan acara pesta itu untuk memberi hadiah kepada para karyawan dan seluruh anak buah Dion.


Tentu saja mereka sangat senang atas apresiasi ini apalagi Dion memberikan bonus yang tidak terkira.


*****


Setelah insiden pelemparan dan penamparan itu terjadi pria itu belum bertemu dengan Zava tapi dia sudah selalu memikirkan.


"Tuan Edgar, apakah tuan akan datang kepesta perusahaan tuan Dion?" tanya sang asisten membuyarkan lamunan pria yang sedang memikirkan Zava yang ternyata bernama Edgar Alexander karena dia keturunan Inggris dan tak ada blasteran.


Orang tuanya masih utuh tapi sudah bercerai dan mempunyai keluarga masing-masing. Dia mempunyai adik perempuan yang sudah tiada akibat bunuh diri karena cintanya ditolak mentah-mentah oleh pria yang terpaut jauh umurnya yaitu sahabatnya sendiri yaitu Dion Raditya sehingga membuat Edgar salah paham dan membenci Dion hingga saat ini.


"Tentu saja Rio, aku pasti akan datang untuk menengok sahabat kecilku yang sekarang sudah berjaya." balasnya tersenyum menyeringai.


"Apa aku harus melakukan sesuatu tuan?" tanya asistennya yang bernama Rio.


"Tidak perlu, untuk kali ini kita tidak perlu melakukan apapun kita nikmati saja pestanya kita beri dia waktu untuk menikmatinya." kata Edgar tersenyum tipis.


"Baik tuan, lalu apa tuan sudah menemukan gadis itu?" tanya Rio.


Edgar menatap datar, "Belum."


"Apa aku harus mencari kan wanita untuk pendamping tuan?".


"Tidak perlu Rio, tidak perlu dicari mereka akan datang sendiri padaku." ucapnya bangga.


Rio pun terdiam tidak bertanya lagi. Sedangkan Edgar kembali membayangi wajah Zava.


*****


"Kak Gilang...!" panggil Salma sambil berlari kecil menyusul Gilang.

__ADS_1


Gilang menghentikan langkahnya, "Ada apa Salma?" tanya nya saat Salma sudah dekat.


"Emm... tadi aku ditelfon oleh Umi katanya Abah sakit dan kita harus kesana." ucap Salma dengan mata sendu.


"Apa Abah sakit? apa penyakitnya kambuh lagi?" tanya Gilang khawatir karena orang tua Salma sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


"Kata Umi sih begitu, katanya juga dia rindu sama kita terutama sama kakak." timpal Salma lagi.


"Baiklah, ayo kita pulang sekarang juga!" kata Gilang yakin sambil menggenggam tangan Salma.


"Iya kak!" tentu saja Salma senang dan wajahnya berseri saat Gilang menggenggam tangannya.


Dia malah berharap tidak ingin jadi adiknya tapi jadi calon istrinya karena dirinya sudah lama memendam perasaan pada Gilang, tapi tak berani mengungkapkan.


Gilang pun tidak peka setiap perhatian yang diberikan Salma untuknya selalu dia anggap sebagai perhatian adik kekakaknya karena Gilang sama sekali tidak menaruh perasaan apa-apa padanya karena cintanya hanya untuk Zava.


*****


Zava sedang mengangkat bajunya ditempat jemuran dan dia mendengar dan melihat Gilang serta Salma sudah pulang dari sekolah.


Setiap hari Gilang memang selalu mengantar jemput Salma alasannya hanya karena supaya bisa melihat Zava setiap hari.


"Iya kak!" jawab Salma.


Tak mau berbasa-basi Salma segera berpamitan sebentar bahwa mereka akan pergi.


"Emm... kak aku sama kak Gilang mau pulang dulu yah kepesantren." pamit Salma dengan pelan.


"Pulang, kenapa? kau tidak betah tinggal disini denganku atau aku melakukan kesalahan." ucap Salma tergesa-gesa takut kepergiannya karena dirinya.


"M.. bukan kak bukan karena kakak kok! aku senang kon tinggal disini apalagi sama kakak." Salma segera menyela sebelum Zava salah paham.


Gilang maju mendekat memberi tahu alasannya.


"Abah sakit Zava, umi menyuruh kita untuk pulang sebentar untuk bertemu nanti juga kita akan kembali." ucap Gilang tersenyum lucu saat memandangi wajah Zava yang cemas.


Zava menghela nafas lega, "Oh aku kira kau tidak betah. Jadi kapan kalian pergi?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


"Hari ini juga kak!" jawab Salma."


"Hari ini, "terkejut Zava. Kemudian dia tersenyum.


"Baiklah tunggu sebentar yah aku bawakan sesuatu untuk Abah dan umi." Zava segera berlari kecil sambil membawa keranjang pakaian bersih tapi sebelum itu dihentikan oleh Gilang.


"Zava tunggu!" panggil Gilang.


"Iya ada apa Lang?" tanya Zava berbalik.


"Sini biar aku yang bawa," Gilang langsung merebut keranjang itu tanpa mendapat persetujuan dari Zava membuat Zava pasrah.


Gilang juga tak lupa tersenyum manis pada Zava dan mengerlingkan matanya membuat Zava mengerutkan alisnya sedangkan Salma terdiam saja melihat adegan itu.


"Ya sudah terserah kau!" kata Zava kemudian ikut masuk juga. "Ayo Salma.!" Zava segera menarik tangan Salma.


"Iya kak!"


Sementara Salma sedang bersiap dan Zava sedang menyiapkan makanan khasnya serta Gilang sedang duduk diteras sambil menikmati secangkir kopi buatan Zava.


Gilang sedang berfikir, dia sedang merencanakan kepulangannya dan ingin membicarakan masalah serius kepada Abah serta meminta restu bahwa dia ingin meminang Zava karena dia sudah menemukan Zava dan ingin menepati janjinya sendiri.


Dia sudah tersenyum sendiri membayangkannya.


Lalu tak lama kemudian dua gadis itu sudah keluar dengan bawaannya masing-masing. Gilang memandangi kedua gadis itu yang sama-sama cantik tapi perhatian Gilang lebih tertuju pada Zava yang semakin hari semakin cantik dimata Gilang.


Gilang benar-benar tidak tahan ingin segera memilikinya dia langsung tersadar dan menggelengkan kepala dan tersenyum sendiri saat membayangkan yang tidak harus dibayangkan dengan Zava.


"Gilang, kenapa senyum-senyum sendiri? ada yang lucu." kata Zava merasa heran sedangkan Salma melihatnya berbeda hatinya menjadi dia benar-benar cemburu melihatnya.


Gilang gelagapan, "Ah tidak apa aku hanya ingin tersenyum saja melihatmu, kenapa kau semakin hari semakin cantik saja Zava?." ucap Gilang sambil tersenyum manis.


Jlebbb... jantung Salma berdetak dengan cepat merasakan nyeri yang tak berdarah atas pengakuan Gilang yang memuji Zava.


Zava memerah wajahnya karena dipuji Gilang, "Kau gombal yah Gilang! kalau mau nikah sana cepat cari istri jangan gombalin anak gadis orang" kata Zava menepuk lengan Gilang.


"Aww, kau tidak berubah yah selalu memukul lenganku! lihat saja sebentar lagi aku akan meminang seseorang." ucapnya yakin sambil menatap Zava dalam.

__ADS_1


"Ya sudah aku tunggu, awas kalau tidak mengundangku." tantang Zava.


Salma semakin sesak hatinya mendengar candaan mereka tapi dia berusaha menguatkan dan tidak menangis dihadapan mereka, apakah Gilang benar-benar tidak peka dengan dirinya sungguh cinta sebelah pihak itu memang menyakitkan.


__ADS_2