Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Kejarlah Cintamu


__ADS_3

Sudah seminggu Salma pergi kembali kepesantren abahnya, seminggu itu juga Gilang tidak berhenti memikirkan Salma. Setelah pernikahan Zava dan Dion seolah terbuka pikiran dan hatinya dia jadi terus menerus memikirkan gadis itu.


Tak tau kenapa setiap kali dia sedang sendiri bayangan gadis itu selalu melintas dipikirannya tersenyum ceria didepan wajahnya.


Gilang terus menggelengkan kepalanya, apakah karena dia merasa kehilangan, kehilangan sosok yang selalu memperhatikannya setiap hari, yang selalu memasakkan makanan untuknya, yang selalu mengingatkannya untuk selalu menjalankan kewajibannya dan selalu peduli terhadapnya.


Dia juga teringat kata-kata Zava bahwa 'Jangan sampai kau menyesal jika orang itu sudah tidak ada di sampingmu karena saat itulah kau baru akan menyadari betapa dirimu membutuhkannya.'


Seperti sekarang ini Gilang tidak konsen dalam mengajar sering kali dia terciduk muridnya melamun dan memberikan materi yang salah sampai membuat guru muda itu salah tingkah sendiri.


Kini Gilang berada ditaman, menghindari tatapan heran dari para guru yang nanti malah akan memalukannya.


Gilang mengusap wajahnya kasar, ada apa ini? kenapa dengan dirinya hanya karena gadis itu dia menjadi seperti ini.


Dikejauhan Daryna melihat Gilang yang seperti uring-uringan, Daryna pun menghampirinya.


"Pak Gilang," sapanya berada dibelakang Gilang.


"Ya ampun Daryna." ucap Gilang mengelus dadanya saking kagetnya.


"Kenapa pak? kaget." ujar Daryna heran.


"Ti-dak...!" sangkal Gilang.


"Ada apa Daryna?" tanya Gilang menormalkan duduknya.


Daryna memutar, dia ikut duduk disamping Gilang namun dengan menjaga jarak supaya tidak ada kesalahpahaman.


"Aku dengar, bapak tidak konsen mengajarnya yah? ada apa pak? apa ada masalah?" tanya Daryna berbasa-basi.


Gilang gugup kembali, dia merasa malu karena hal ini sampai terdengar ke telinga Daryna.


"Tidak apa-apa Daryna, aku hanya sedang tidak enak badan saja." elaknya tak ingin jujur.


Namun mata Daryna menyipit, dia dapat menangkap kebohongan diwajah Gilang. Lalu Daryna menempelkan tangannya kedahi Gilang yang membuat pria itu terkejut.


"Daryna, apa yang kau lakukan?" Gilang langsung melepas tangan Daryna yang menempel di dahinya.


"Aku tau bapak bohong, sebenarnya bapak bukan tidak enak badan tapi tidak enak hati. Iya kan buktinya dahi bapak tidak panas tapi berkeringat." kata Daryna mulai terkekeh.

__ADS_1


"Ah... tau dari mana kau aku baik-baik saja." jawab Gilang memalingkan wajah.


Daryna tersenyum, "Pak, ikhlaskan lah dia karena dia bukan jodoh bapak, dan kejarlah dia jika dia mengganggu pikiran bapak. Dan yakinkan dihati bapak bahwa bapak sebenarnya juga mencintainya." ucap Daryna asal namun sangat menyindir perasaan Gilang membuat Gilang terhenyak dan mencerna ucapannya.


"Dengar yah pak! perempuan itu lebih suka dikejar dari pada mengejar. Jangan sampe bapak menyesal nantinya." kata Daryna lagi.


"Ya udah yah pak! aku pergi dulu semangat pak semoga berhasil tidak ada kata terlambat jika kita belum memulai. Congrast pak!" kata Daryna sambil mengepalkan tangan keatas sebelum dirinya beranjak pergi.


Gilang terus berfikir mencerna kata-kata dari Daryna. Apakah memang belum terlambat? bagaimana kalau Salma sudah dijodohkan dengan pria lain oleh abahnya lantaran dirinya belum menerima tawaran dari Abah.


Gilang menjadi pusing sendiri memikirkannya, dia lalu beranjak pergi untuk menenangkan pikirannya.


****


"Mas, kenapa kau kekantor selalu datang siang begini? memangnya karyawan-karyawanmu tidak ada yang membicarakanmu." ucap Zava yang sedang memakaikan dasi dileher suaminya.


"Hey, kau berbicara seperti itu seperti takut saja, kau lupa suamimu ini bos. Jadi mau datang kapanpun atau bahkan tidak datang juga itu bukan masalah." jawab Dion mencubit hidung Zava gemas.


"Lagi pula aku selalu datang siang juga karenamu." tambahnya lagi tersenyum jahil.


"Hah karena aku, kenapa jadi aku?" ujar Zava bingung.


Zava mengerucutkan bibirnya, padahal yang selalu menahannya keluar itu Dion, kenapa jadi Zava yang dikambinghitamkan.


"Hey, kenapa kau cemberut?" Dion mencubit bibir Zava yang mengerucut karena gemas.


"Aww sakit...!" Zava menepis tangan suaminya.


"Kau ini pintar sekali bicara dan menyalahkan pada orang lain."


"Tidak apa-apa sayang, yang penting kau tetap sayang padaku kan." rayunya melihat Zava yang masih cemberut.


"Baiklah, kau ingin apa?" Dion memeluk Zava dari belakang, merayu dengan menanyakan sesuatu.


Zava langsung tersenyum sumringah, saat Dion menawarkan sesuatu. Ini kesempatannya meminta sesuatu.


"Emm... baiklah aku ingin jalan-jalan dan dan mencicipi makanan kuliner dibazar." kata Zava membalikkan tubuhnya menatap suaminya dengan berbinar.


Dion mengerutkan alis, heran terhadap istrinya yang malah hanya meminta jalan-jalan dan mencicipi makanan pinggir jalan bukan ingin belanja fashion dan makan makanan mewah seperti kebanyakan para wanita yang dikenalnya.

__ADS_1


"Hanya itu?." tanya Dion singkat.


Zava mengangguk, "Iya hanya itu, memang apa menurutmu."


"Baiklah, aku temani yah!"


"Temani, kau kan mau kerja."


"Aku bolos hari ini, demi menemani istriku." ucap Dion sembari melepaskan kembali dasinya.


"Mas, serius mau menemaniku?" tanya Zava berbinar.


"Tentu saja, tapi ada syaratnya?" Dion kembali menyeringai.


"Apa?" tanya Zava polos.


"Cium aku!" ucapnya menatap dalam istrinya.


Zava menelan ludahnya, malu.


"Kenapa? ayo cepat!"


"I-ya.. tapi tutup matamu dulu." ucapnya karena ini pertama kalinya dirinya mencium Dion duluan.


"Baiklah aku tutup." kemudian Dion menutup matanya dan mulailah Zava bersiap mencium.


Dengan secepat kilat Zava mencium bibir Dion sekilas membuat Dion mengerutkan alisnya dan membuka matanya.


"Hanya begitu."


"Ya begitu, cium kan." tanpa rasa bersalah Zava tersenyum kemudian langsung berlari karena tau apa yang akan dilakukan Dion setelah ini. Tapi sebelum itu Dion sudah menangkap tangannya dulu membuat Zava berhenti.


"Kau mau kemana? mau kabur dariku." seringai Dion.


Lalu Dion merengkuh pinggang Zava dan memegang tengkuknya.


"Beginilah caranya mencium."


Dion langsung mencium istrinya dengan lembut dan memainkannya penuh hasrat, karena Zava selalu diajari jadilah dia membalas sehingga terjadi perang bibir yang mampu membuat orang yang melihatnya terpancing.

__ADS_1


__ADS_2