
Sudah satu Minggu Dion berada diluar negri membuat Zava diam-diam merindukannya karena tidak ada laki-laki yang pemaksa dan aneh menurut Zava yang selalu mengganggunya kini dia merasakan kesepian Gilang, Daryna dan Salma juga begitu mereka sibuk sekali dengan sekolah mereka karena mereka tengah menghadapi ujian semester.
Sebenarnya bagi Gilang ini adalah kesempatannya untuk bisa dekat dengan Zava tapi dia malah mendapat tugas sehingga tidak bisa mendekati Zava dan dia sangat kecewa.
Tapi hari ini adalah hari kepulangan Dion dia sudah menyelesaikan urusannya disana meski dalangnya masih berkeliaran tetapi para anak buahnya sudah dibereskan dengan rapi dan perusahaan kembali normal.
Tiba dibandara Soekarno Hatta Dion menghela nafas lega sungguh dia sangat merindukan wanitanya satu minggu tidak melihat dan mendengar suaranya, kenapa dia tidak memberikan ponsel saja pada Zava bodoh sekali, dia jadi tidak bisa menghubunginya kan.
"Kevin.." panggil Dion pada saat mereka masuk mobil.
"Iya tuan!"
"Belikan ponsel keluaran terbaru untuk Zava dan simpan hanya nomorku dan nomormu." titahnya pada Kevin.
Kevin mengerutkan alis bingung tapi dia menuruti juga, "Baik tuan."
"Dan bagaimana pestanya."
"Sudah 90 persen tuan."
"Bagus, dan aku ingin wanitaku datang kepestaku dengan gaun indah yang sangaat indah dan cantik persiapkan semuanya." ucap Dion sudah membayangkan Zava yang didandani cantik jelita.
"Tuan tenang saja aku pastikan semuanya beres." jawab Kevin mantap.
"Karena aku tidak akan menemuinya sampai menuju pesta itu, aku ingin melihat betapa cantiknya wanitaku." Dion tersenyum sendiri didalam mobil bayangan wajah Zava yang sedang tersenyum manis selalu menari-nari dikepalanya.
Apakah tuan benar-benar jatuh cinta? selamat nona anda telah berhasil merobohkan bentengnya yang kokoh itu.
batin Kevin ikut tersenyum.
*****
"Bosan sekali rasanya! Salma dan Daryna sedang sibuk." ucap Zava pelan sambil berguling-guling di kasurnya.
"Ahh lebih baik aku keluar saja mencari udara segar." katanya lalu bangkit dari kasur dan bersiap untuk jalan-jalan sendiri.
Zava sudah siap dengan gamis sederhananya namun sangat indah dipandang karena bentuk tubuhnya yang ideal dan wajahnya yang manis sehingga memakai pakaian apapun akan selalu cocok untuknya.
__ADS_1
Ini pertama kalinya bagi Zava berkeliling sendiri tapi dia sudah tau jalan-jalan nya sehingga tidak akan nyasar.
Dia membeli ice cream dan memakannya ditaman sambil menghirup udara segar disore hari sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang.
Saat sedang menikmati ice cream tiba-tiba saja ada suara gaduh yang mengagetkannya sehingga membuatnya kaget dan reflek melempar ice cream yang dia makan kesembarang arah sehingga mengenai seseorang.
Suara gaduh itu berasal dari kelompok anak muda yang sedang bermain dengan motornya suara knalpot yang begitu bising dan berisik sehingga membuat yang lain terganggu.
"Siapa yang berani-beraninya melempar ice cream ini padaku." ucap seorang pria yang suaranya tak jauh dari Zava membuat Zava tergugup seketika.
Pria itu berbalik sambil memegang cron dan melihat hanya ada Zava disitu yang membelakanginya.
"Hey, apa kau yang membuang ice cream ini sehingga mengenai kepalaku " tanya nya pada Zava.
Zava berbalik dan tersenyum manis sehingga membuat pria itu tertegun dengan wajah manisnya Zava.
Zava memandangi pria itu yang seperti bukan orang asli pribumi karena berwajah bule dengan mata birunya sangat tampan dengan tubuh tinggi dan tegapnya.
"Jadi kau yang sengaja membuang ini!" tanyanya dengan suara bariton dan tatapan tajamnya sambil memperlihatkan rambutnya yang terkena ice cream.
Zava tersenyum meringis, "Emm... maaf tuan saya tidak sengaja, tadi ada sekelompok anak muda yang mengagetkanku sehingga aku reflek. Tapi tidak menyangka kalau akan kena tuan. Lagian kenapa tuan tidak menghindar?" oceh Zava membuat pria itu mengerutkan alisnya.
Zava tergagap, "Eh... tidak juga sih! baiklah aku memang salah maafkan aku tuan!" tegas Zava meminta maaf.
"Tidak aku maafkan." balas pria itu tersenyum tipis.
Hah tidak dimaafkan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan tuan? apakah aku harus membayar kerugiannya tapi aku hanya ada uang segini, ini pun untuk ongkosku pulang." Zava memperlihatkan isi dompetnya yang hanya berisi 20 ribu saja.
"Kau pikir aku orang miskin ingin meminta ganti rugi uang denganmu." jawabnya tersenyum sinis.
"Kau tidak lihat penampilanku seperti ini aku ini orang terkaya dinegaraku, aku bisa saja membelimu dengan harga tinggi." ucapnya lagi tersenyum bangga tapi tidak membuat Zava kagum sebaliknya membuatnya jengah.
"Maaf tuan, aku hanya berbicara soal ganti rugi bukan berbicara membeliku dengan harga tinggi." balas Zava mendesis sebal.
Pria itu semakin tersenyum melihat reaksi Zava yang tidak terpesona dengan kata-kata nya maupun penampilannya. Padahal para wanita banyak yang memujanya dan rela mengantri hanya untuk bermain semalam di ranjangnya.
__ADS_1
"Jadi kau ingin ganti rugi padaku." tanya nya tersenyum smirk.
"Kalau aku bisa dan mampu aku akan ganti rugi." timpal Zava yakin.
"Kalau begitu... " mendekatkan wajahnya kepada Zava tapi Zava mundur.
"Bermainlah semalam denganku diranjang." tambahnya sambil tersenyum menggoda.
Zava langsung terkejut reflek tangannya mengangkat dan menampar pipi pria itu.
PLAKKK
"Maaf yah tuan aku tidak bisa dan tidak mampu lebih baik tuan cari istri saja kalau ingin yang seperti itu. Permisi assalamualaikum."
Zava langsung pergi setelah mengatakan itu dengan perasaan dongkol baru kali ini ada lelaki yang berbicara kurang ajar seperti itu dan dia berharap tidak bertemu dengan pria gila itu lagi.
Sedangkan pria itu menyentuh pipinya yang ditampar serta membersihkan kepalanya dengan sapu tangannya sambil tersenyum menyeringai.
"Gadis yang menarik, aku yakin kita pasti akan bertemu lagi." ucapnya tersenyum tipis.
"Tuan, apa anda baik-baik saja!" sang asisten datang dengan tergopoh karena tadi dia melihat tuannya ditampar.
"Aku tidak apa-apa hanya masalah kecil." jawabnya santai.
"Tetap saja masalah tuan, aku akan mencari gadis itu tuan untuk membalas." timpalnya lagi merasa khawatir.
"Tidak perlu, urusan ini biar aku yang mengurus. Aku yakin aku bisa menemukannya sendiri." jawabnya yakin pada asistennya.
"Benarkah tuan,"
"Benar, lebih baik kau cari keluargamu disini mulai sekarang karena menurutku kita akan lama disini." ucapnya menepuk pundak asistennya.
"Terimakasih tuan atas segala kebaikan tuan selama ini aku tidak tau jika tidak ada tuan hidupku akan seperti apa?" ujar asisten itu lirih.
"Kau ini cengeng sekali kau ini pria tidak usah seperti itu, justru aku senang ada dirimu aku tidak kesepian lagi."
"Kalau begitu aku akan carikan calon istri untukmu juga disini ya tuan." tawarnya tersenyum senang.
__ADS_1
Pria itu tersenyum samar sepertinya dia baru saja menemukan calon istri.
"Tidak perlu sepertinya aku baru saja menemukannya." kata pria itu kemudian melenggang pergi dengan senyum yang menghias wajahnya sedangkan asistennya hanya terdiam aneh menyaksikan tuannya.