
"Kau jahat sekali Dion, tidak mengenalku!" Anetta berpura-pura memelas, tapi itu sama sekali tak membuat Dion iba dia malah tetap datar dan cuek.
"Dion....!" Anetta berteriak, karena ucapan tak di dengar.
Dion geram sudah tak diundang malah merusak acara sarapan paginya.
Dia membanting sendok dan garpu dengan keras hingga membuat Anetta dan Zava yang masih disitu terperanjat seketika.
"Kau, sudah datang tak diinginkan dan sekarang malah merusak sarapanku!". nyali Anetta menciut saat melihat Dion marah.
"Ma-af aku tak sengaja, seharusnya kau tidak begitu padaku jadi aku kan tidak akan berteriak!" Anetta malah melampiaskannya pada Dion.
"Jadi ini salahku!" Dion menatap tajam pada Anetta membuat Anetta ketakutan.
"Lebih baik kau pergi dari sini sekarang, sebelum aku mengusirmu" ucap Dion pelan namun mengintimidasi.
"Dion, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi aku janji!" Ucap Anetta mencoba membujuk Dion.
"Kau pergi atau...!"
"Tapi Dion tunggu dulu... baik aku akan pergi tapi jawab dulu, siapa wanita ini?" Anetta menunjuk Zava yang seketika terperanjat.
Dion melirik Zava, "Menurutmu, jika kau mengenalku kau pasti tau apa sebutan wanita yang berada dirumah pribadiku? karena aku tak pernah membawa satu orang pun wanita kerumah ini!" jawab Dion tersenyum smirk membuat Zava kebingungan dengan jawaban Dion.
Sedangkan Anetta dia tau jawabannya karena dia mengenal Dion sudah lama dia juga mempelajari kebiasaan-kebiasaan Dion tapi dia berusaha menyangkal.
"Tapi, aku juga tau rumah ini berarti aku juga..."
"Kau mencari tau sendiri sedangkan dia aku yang membawanya sendiri. Kau mengerti?" Dion segera memotong ucapan Anetta sebelum Anetta keceplosan.
Anetta memekik seketika kemudian dia memandang sinis kearah Zava membuat Zava mengernyit. Kemudian dengan angkuh dia meninggalkan rumah itu.
Apa masalahmu? memangnya aku punya hutang padamu hai nona cantik, kenal saja tidak.
"Dan kau...!" Dion menunjuk Zava setelah Anetta pergi.
"Yah tuan saya!" kata Zava menunjuk dirinya.
"Kenapa dari tadi kau berdiri disitu saja?" ucap Dion datar.
"Ahh...emm... iya kenapa yah?" Zava malah berfikir seperti orang linglung.
"Selamat pagi tuan!" sang pelayan tiba-tiba datang menyapa membuat Dion teralihkan.
"Ada apa?"
"Tuan Kevin sudah menunggu anda didepan!"
"Hemm... pergilah!" Dion tak jadi menghabiskan sarapannya karena sudah tidak mood.
Dion berjalan melewati Zava dan berkata, " Ikut aku!"
"Ahh iya ikut kemana tapi tuan?"
Dion menghela nafas kasar dia benci jika ada orang yang selalu banyak tanya.
"Kau mau pulang atau tidak?" Dion mencoba bersabar tapi hebatnya hanya dengan gadis ini.
"Iya aku mau pulang!" mendengar kata pulang Zava bersemangat lalu mengikuti Dion dibelakang.
Didepan Kevin sudah menunggu disamping mobil dengan gagah dan dingin sebelas dua belas dengan bosnya. Kevin membukakan pintu untuk Dion dan menyuruh tuannya masuk.
"Silahkan tuan!".
"Kau masuk dulu!" Dion menyuruh Zava masuk yang dari tadi bengong karena kagum melihat mobil yang mewah.
__ADS_1
"Kau dengar tidak!" Dion kembali berujar dengan sedikit tinggi.
"Masuk kemana tuan!" Dion menghela nafas pelan. Kevin mengerti lalu dia yang beralih memberitahu.
"Nona , nona disuruh masuk oleh tuan kedalam mobil ini dan saya mohon nona jangan bertanya lagi karena tuan tidak suka dengan mengulang perkataannya dua kali." jelas Kevin memberi pengertian pada Zava.
Zava tak bertanya lagi segera dia langsung masuk kedalam sebelum singa ngamuk.
Menyeramkan sekali wajahnya aku jadi takut memandangnya.
Zava masuk disusul Dion, Kevin pun kembali ke kemudinya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Mobil berjalan menjauhi rumah mewah itu.
Zava terus memandangi rumah-rumah disekitarnya yang sangat luas dan bagus, dibilang norak ya memang karena selama ini dia tidak pernah melihat rumah seluas dan semewah disana apalagi ini lebih besar dari rumah Doni.
Cukup dia menggelengkan kepalanya ketika nama Doni terlintas dikepalanya dia tidak ingin membebani Doni dengan terus mengusiknya biarlah Doni tenang dialam sana.
Dion merasa aneh ketika Zava kagum dan geleng- geleng kepala sendiri apakah dia sudah tidak waras.
"Hei dimana rumahmu?" tanya Dion tapi matanya menatap layar diponsel mahalnya.
"Rumahku....!" Zava berfikir.
"Apa kau lupa lagi?" Dion melirik Zava.
"Emm... apa tuan masih ingat ketika pertama kali kita bertemu? coba kearah sana tuan dan aku akan mencoba mengingat." kata Zava.
"Kau ini sebenarnya ingat atau tidak sih!".
Zava meringis tersenyum, "sebenarnya tidak!".
Dion langsung menghela nafas kasar sungguh gadis ini telah membuat kesabarannya jadi ekstra tapi herannya dia selalu meladeni sehingga membuat Kevin bingung kepada sikap tuannya.
"Kevin, jalankan mobil ketempat aku ketika ingin ditabrak?".
Lalu mereka meluncur ketempat mereka bertemu pertama kali saat sudah sampai tiba-tiba Zava melihat seseorang yang dia kenali sedang duduk dan mengobrol bersama temannya.
Langsung saja Zava menghentikan mobil dengan antusias.
"Tuan, berhenti tuan!" Zava menepuk kursi depan yang diduduki Kevin secara mendadak Kevin menghentikan mobilnya.
"Kau, berani sekali!" Dion memegang keningnya yang terjedot karena Kevin berhenti mendadak.
"Maafkan saya tuan muda, saya reflek!" ucap Kevin merasa bersalah.
"Maafkan kan aku tuan, tapi aku mengenali seseorang disini jadi aku bisa minta tolong padanya!" Zava merasa bersalah karena telah menyuruh menghentikan mobil secara tiba-tiba.
"Mana orangnya?" Dion bertanya dengan dingin.
"Itu disana sedang duduk bersama teman-temannya!" tunjuk Zava pada tiga orang lelaki yang sedang duduk dicafe.
"Ayo cepat turun!" Zava turun diikuti Dion. sedangkan Kevin hanya terdiam menyaksikan majikannya begitu patuh pada Zava.
"Bang Wawan...!" panggil Zava melambaikan tangannya saat masih jauh.
Wawan yang namanya dipanggil menoleh sekitar dan terlihat gadis yang dari kemarin dia cari kini datang bersama seorang pria yang tampan dan gagah.
"Zava...!" pekik Wawan berdiri dan mengejar Zava.
"Zava kamu kemana saja neng, Abang cari kamu dari kemarin kamu juga ngga pulang malem tadi!" cecar Wawan saat sudah dekat meninggalkan temannya yang jadi melongo.
"Syukurlah aku ketemu sama Abang," Zava mengelus dadanya.
"Aku nyasar bang sampai sini!" kata Zava lirih.
__ADS_1
"Ya ampun kamu nyasar, tapi kamu ngga apa-apa kan kamu ngga diapa-apa sama pria asing itu kan!" cerocosnya melihat pria disampingnya.
"Eh ngga kok! aku malah diselamatkan olehnya." ujar Zava tak enak melihat tatapan Dion yang sangar.
"Dia menyelamatkanmu.Siapa dia?"
"Dia....".
"Mana kartu namamu?" Dion malah meminta kartu nama pada Wawan.
"Hah untuk apa?" tanya Wawan bingung tapi tatapannya seperti tak suka.
"Aku ingin memberimu bonus!" ucap Dion asal.
Wawan tiba-tiba sumringah dengan cepat dia mengambil kartu nama dan menyerahkannya pada Dion.
Dion menerimanya dan melihatnya diapun menyeringai saat melihat dimana lelaki ini bekerja.
"Eh,! tapi tunggu... untuk apa kau memberiku bonus?" tanyanya ketika sadar.
"Aku tidak punya banyak waktu, aku pergi!" Dion langsung melengos dan melirik Zava sekilas kemudian menuju mobilnya dimana Kevin masih menunggu disana.
"Eh! tuan sekali lagi terima kasih." teriak Zava karena Dion sangat cepat sekali berjalan.
"Zava siapa pria itu? dan dimana kau semalam?" tanya Wawan memicing.
"Dia tuan Dion, aku menginap dirumahnya semalam." jawab Zava tersenyum tapi Wawan malah syok.
"A- pa kau menginap dirumah seorang pria?".
"Eh jangan berfikir yang aneh-aneh dulu!" Zava melambaikan tangannya saat melihat tatapan Wawan yang berfikir negatif.
"Aku memang menginap dirumahnya tapi dikamar yang lain kok! dan disana juga banyak orang, serius!".
"Hah syukurlah aku lega mendengarnya!" Wawan menghela nafas lega lalu kedua temannya mendekatinya.
"Eh! Wan lagi apa sih! lama banget". sapa temannya menepuk bahu Wawan.
"Eh ada gadis, Wan kebangetan kau yah ada seorang gadis kau tidak mengenalkan kepada kami!" ucap temannya saat matanya melihat Zava.
"Kau ini melihat yang bening-bening mau saja, kalian tidak perlu tau siapa dia?" sambil mendorong menjauhi kedua temannya dari Zava.
"Udah mendingan kita berangkat kerja udah siang nih! nanti kita dipecat" sambungnya lagi tapi temannya masih melongok kearah Zava.
"Ah pelit sekali kau Wan".
"Bang...! panggil Zava.
"Iya Zava".
"Aku bagaimana aku tidak tau alamat kekontrakan aku ingin pulang!".
"Oh tunggu sebentar!" Wawan menyetop taksi dan memberi tahu pada sang supir alamat yang dituju dan membayarnya, dia merasa gengsi sendiri pada Zava.
"Zava... ikutlah supir ini dia akan mengantarmu kerumahku maaf aku tidak bisa mengantarmu karena aku harus bekerja." jawabnya sangat disayangkan.
"Oh iya tidak apa -apa bang, aku malah sangat berterimakasih!".
"Ya sudah cepat masuk ongkosnya sudah kubayar!" ucapnya lagi.
Zava tersenyum, " Terimakasih bang Wawan!" kemudian masuk membuka jendela dan melambaikan tangannya pada Wawan dan disambut mereka bertiga dengan senyuman.
"Eh ngapain kalian berdua ikut-ikutan senyum!" ketus Wawan.
"Ya ela Wan senyum saja tidak boleh!".
__ADS_1
"Dia itu calon istriku tau jangan ganggu!". telak Wawan membuat kedua temannya diam.
"Udah yuk kita berangkat!" pergilah mereka semuanya dan meninggalkan tempat itu.