
Tak terasa drama menyuapi pun selesai kini Zava membereskan semua makanan yang tersisa, sebenarnya dia lapar tapi dia malu pada Dion maka dia akan makan bila Dion sudah pulang.
Tapi rupanya Dion tau kalau Zava sedang kelaparan jadi dia tidak akan membiarkan Zava kelaparan.
"Tunggu...!" cegah Dion saat Zava sudah selesai.
"Ada apa tuan?".
"Sepertinya aku melupakan sesuatu." kata Dion beralasan.
"Apa itu?" Zava mengernyit.
"Duduklah dan berikan itu." ucap Dion, Zava menurut duduk kemudian Dion mengambil makanan itu.
"Tuan, ingin makan lagi."
"Tidak, tapi sepertinya ada yang menahan lapar dan dia ingin aku perhatikan." ucap Dion tersenyum tipis.
"Siapa tuan?" tanya Zava tak menyadari.
"Didepanku." pipi Zava memerah seketika saat Dion tersenyum padanya.
"Buka mulutmu!" perintah Dion.
Zava semakin malu saat Dion malah ingin menyuapinya.
"Tidak tuan, jangan tidak usah aku bisa makan sendiri."
"Kau seharusnya senang ini sebuah keberuntungan untukmu karena seorang Dion Raditya mau menyuapi seorang gadis untuk pertama kalinya dan gadis itu adalah kau." ungkapnya tersenyum bangga.
Zava mendelik sebuah keberuntungan apanya dasar melebihkan sekali perkataannya.
"Tuan juga beruntung, karena tuan adalah lelaki pertama yang aku suapi bahkan ayahku saja tidak pernah disuapi." balas Zava tak mau kalah.
"Ya sudah kalau begitu kita sama-sama beruntung dan sekarang kau jangan banyak bicara cepat makan." ucap Dion tidak ingin basa basi.
"Tidak tuan, aku bisa sendiri!" Zava kekeh tak mau karena malu.
"Oh jadi kau tidak ingin disuapi dengan tangan, atau kau lebih memilih disuapi dengan mulutku." timpal Dion tersenyum tipis.
"Dengan mulut, maksudnya." tanya Zava tak mengerti.
"Baiklah aku contohkan."
Zava yang tak mengerti hanya diam saja melihat apa yang akan dilakukan Dion.
Dion menyeringai melihat kepolosan Zava lalu...
"Zava kau lihat disana!" tunjuk nya beralasan reflek Zava langsung melihatnya dan pada saat itu pula Dion mengambil kesempatan dia memasukkan makanan itu kemulutnya.
"Ada apa disa...! emm..." sesuatu diluar dugaan Dion dengan berani memasukan makanan dari mulutnya kemulut Zava dan menekan kepala Zava supaya masuk, bibir mereka pun jadi menyatu dan makanan itu langsung masuk.
__ADS_1
Zava yang terkejut segera mendorong dada Dion sekuat tenaga dengan pipi yang memerah tak menyangka kalau Dion akan melakukan ini.
"Tuan, apa-apa sih!" Zava bersungut-sungut tapi makanan itu dikunyah nya juga.
Dion hanya tersenyum melihatnya, "Kau yang minta kan aku hanya menuruti saja." ucapnya enteng.
Zava menelan lalu berkata, "Tapi kalau caranya seperti ini aku tidak mau kita itu belum halal." jawab Zava asal, seketika dia langsung menutup mulutnya menyadari kesalahan katanya.
Dion hanya tersenyum lagi, "Jadi... kau ingin aku halali." tanyanya mendekat pada Zava.
Zava mengangguk lalu menggeleng masih menutup mulutnya membuat Dion terkekeh.
"Baiklah, tunggu saja!" jawabnya tersenyum.
*****
Dert... dert... dert...
Suara ponsel milik Gilang berbunyi menandakan panggilan masuk.
Kebetulan Gilang sedang tak ada mata pelajaran hari ini dan hari ini juga dia akan pergi ke bandara untuk menjemput seseorang.
"Halo assalamualaikum.!" sapa Gilang pada seseorang dibalik telfon.
"Oh kau sudah sampai, baiklah aku akan menjemputmu, kau tunggu saja disana!"
"Baiklah, assalamualaikum.!".
Lalu dia melajukan motornya untuk menjemput seseorang.
*****
Dibandara sudah menunggu seorang gadis berpakaian syar'i yang berwajah imut dan cantik diperkirakan berusia 20 tahun lebih muda 2 tahun dari Zava.
Dia tengok kanan tengok kiri menunggu seseorang yang akan menjemputnya.
"Mana sih kak Gilang? lama sekali." Dia sudah lelah karena perjalanan dari kampungnya kekota Jakarta ini untuk melanjutkan studi belajar S2 nya.
Ya dia memang pandai diusia segini dia sudah mau S2 dan memutuskan untuk kuliah sambil mengajar disini karena dia sudah mendapat tawaran mengajar dari sekolah tempat Gilang mengajar.
Lalu tak lama kemudian datanglah orang yang ditunggu menghampirinya dengan tersenyum yang mampu membuat gadis itu tersipu malu.
"Hai sudah lama menunggu." sapa Gilang pada gadis itu.
"Kakak, kenapa lama sekali? aku sampai lumutan nih nungguin kakak." jawab gadis itu dengan mengerucutkan bibirnya.
Gilang terkekeh lalu mengusap kepalanya pelan.
"Hey, kau ini sudah dewasa kenapa masih seperti itu saja." kata Gilang melihat tingkah gadis itu.
"Sudahlah kakak memang selalu begitu, jadi sekarang kita mau kemana?" tanya gadis itu dengan memelas tersirat wajahnya yang lelah.
__ADS_1
Gilang berfikir, "Em... bagaimana kalau kau kubawa ketempat tinggal teman kakak, kebetulan teman SMA kakak tinggal disini juga, kau bisa menginap sementara disana atau kau tinggal disana saja disana dia juga ngontrak, bagaimana?" usul Gilang.
"Teman kakak laki-laki atau perempuan." tanya gadis itu memicing.
"Perempuan lah tidak mungkin kakak membiarkan mu menginap bersama lelaki bisa dicincang sama Abah nanti." Ucap Gilang terkekeh.
Gadis itu hanya memandang terpesona pada Gilang yang tertawa ditambah penampilannya yang begitu tampan dia sampai berseri-seri wajahnya.
"Sudah ayo cepat naik."
"Iya kak."
Mereka pun melaju ketempat tinggal Zava dengan kecepatan sedang tak ada perbincangan karena gadis yang dibelakang nya sedang gugup karena baru pertama kalinya dibonceng naik motor oleh Gilang meskipun mereka sering bertemu.
Ya gadis itu adalah anak dari kiyai pendiri pondok pesantren tempat Gilang menuntut ilmu juga yang menjadikan dia seperti sekarang ini. Kiyai itu dengan suka rela menerima Gilang yang baru keluar penjara dan menyediakannya tempat tinggal serta memberi makan.
Gilang sangat bersyukur dan berterima kasih atas jasanya karena sudah mau menampungnya padahal mereka tidak saling kenal dan sekarang anaknya pergi kekota ini juga karena abahnya sudah mengijinkan dan mempercayai Gilang untuk menjaga dan melindunginya.
Tentu saja Gilang mau bahkan Gilang sudah menganggap kiyai itu seperti ayahnya sendiri dan anaknya seperti adiknya sendiri.
Maka sampailah ditempat tinggal Zava.
"Sudah sampai ayo turun." Gilang memarkirkan motornya didepan kontrakan Zava.
Gadis itu ikut turun dan mengamati keadaan sekitar.
"Assalamualaikum, Zava ini aku Gilang." Gilang berucap sambil mengetuk pintu.
"Waalaikum salam iya sebentar." terdengar jawaban dibalik pintu.
Ceklek
Pintu terbuka menampakkan Zava yang masih berantakan belum mandi dan masih memakai baju piyamanya tapi tak terlihat dia tetap cantik dan manis.
"Gilang ada apa?"
"Zava aku ingin mengenalkanmu pada seseorang, ini adikku namanya Salma dia baru datang dari surabaya." kata Gilang memperkenalkan gadis itu yang bernama Salma.
Salma sedikit sedih saat Gilang menyebutnya seorang adik.
"Salma, ini Zava teman SMA ku." ucapnya pada Salma sambil tersenyum pada Zava.
"Hai aku Zava, senang berkenalan denganmu."ucap Zava mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Salma membalasnya dan tersenyum juga, "Iya kak, aku Salma." jawabnya.
"Ya sudah masuk dulu yuk, ngobrolnya didalam saja aku juga malu belum mandi." kata Zava menyengir.
"Tidak apa-apa kau belum mandi juga tetap manis dimataku." ucap Gilang tersenyum dan hal itu membuat hati Salma menjadi sedikit cemburu.
"Ah kau Gilang bisa saja! udah yuk jangan ladenin dia ikut aku masuk yuk!" Zava menarik tangan Salma untuk masuk dan Salma hanya mengikuti.
__ADS_1
Gilang tersenyum lalu ikut masuk juga.