
Dion segera menarik lengan Zava memasuki mall itu tanpa mempedulikan tatapan-tatapan dari orang sekitar.
"Tuan, lepaskan!" pinta Zava sambil menghentikan langkahnya.
Dion juga berhenti melangkah dan melepaskan tangannya.
"Ada apa?"
Zava melongo dengan sikap Dion yang datar dan acuh, bukannya baru saja dia telah menyakiti hati seorang wanita tapi kenapa sekarang dia tenang-tenang saja.
"Tuan, apa yang tuan lakukan? tuan telah menyakiti kekasih tuan, apa tuan tidak sadar."
Dion terkekeh, "Kekasih, siapa yang kau sebut kekasih. Dia bukan kekasihku melainkan wanita yang tidak tau malu." jawab Dion sarkas.
"Apa? bukan kekasih, tapi kenapa tadi dia..."
"Sudah jangan membahasnya aku muak lebih baik kau ikut aku." Dion sudah memotong sebelum Zava melanjutkan ucapannya dan menarik Zava lagi.
"Hey tuan, kenapa sih! kau ini suka sekali menarik tanganku?" tanya Zava ketika tangannya ditarik Dion.
Dion berhenti kemudian memandang Zava, "Karena kau memang suka ditarik, kalau tidak maka kau akan lari." kemudian Dion melangkah lagi masih sambil memegangnya erat.
Zava hanya mendengus kesal dengan jawaban Dion.
Mereka berkeliling menuju ketempat sayuran dan bahan-bahan rempah pilihan berkualitas, Zava dipaksa memilih sayuran dan bahan untuk membuat nasi kuningnya.
Awalnya dia malas tapi lama kelamaan karena melihat sayuran dan semua barang bagus-bagus dan fresh jadi dia tergiur juga jadilah dia mengambil apa yang dia suka tanpa memikirkan cara membayarnya, tapi sebenarnya juga dia tidak usah memikirkan cara bayarnya sih karena ada Dion si tuan kaya raya.
Mereka memilih belanjaan sudah seperti sepasang suami istri bagi yang melihatnya bahkan ada yang berbisik-bisik memuji ketampanan dan kecantikan mereka.
Bahkan ada yang iri dan baper dengan mereka padahal kenyataannya mereka bukan suami istri.
"Eh lihat deh pasangan itu, mereka serasi yah! jadi iri." kata salah satu pengunjung yang memuji sambil menatap mereka senang.
"Iya mana mesra sekali lagi yang satu tampan dan yang satu cantik benar-benar pasangan yang serasi." celoteh salah satunya lagi dengan tersenyum.
Bisik-bisik itu didengar oleh Dion dan dia tersenyum, Dion malah sengaja memamerkan.
"Sayang, apa lagi yang ingin kau beli." ucap Dion merangkul pinggang Zava, sontak saja membuat Zava terkejut ingin memberontak Dion malah semakin erat.
"Wah... mesranya...!" mereka sedikit menjerit melihat Dion begitu dan teriakan mereka didengar oleh Zava membuat Zava menoleh dan mengerti kenapa Dion begini.
Dia malah menemukan ide lain untuk mengerjai Dion.
"Ee... mas aku mau yang itu dong, tolong ambilkan." kata Zava menunjuk barang yang berada paling atas.
__ADS_1
Dion mengernyit tapi dia tetap meladeni.
"Yang mana sayang"
"Itu yang itu!".
Mereka yang melihat semakin terbawa perasaan akan adegan yang ditampilkan Dion dan Zava.
Saat Dion sudah mengambil Zava malah menolak.
"Eh tidak jadi ah, yang itu saja!" Zava tersenyum dimana senyum itu diketahui Dion apa maksudnya. Dan Dion masih meladeni.
"Yang ini!" Zava mengangguk.
Saat sudah diambil Lagi-lagi Zava menolak.
"Eh sepertinya masih ada, tidak jadi deh yang itu saja." Zava tersenyum manis pada Dion tentu saja Dion tidak bisa menolak karena dia yang memulai apalagi yang menonton semakin memerah saja wajahnya tapi dalam hati dia menggeram kesal."
Kau mengerjaiku yah! baiklah aku akan meladeni tapi kau akan mendapat giliranmu.
kata Dion tersenyum tipis.
Zava semakin asik mengerjai Dion tanpa memikirkan apa yang dipikirkan Dion yang dipikirannya hanyalah membalaskan kekesalannya terhadap Dion yang sesuka hatinya sendiri pada Zava.
Zava terus mengerjainya dari membawakan barang, mengambil ikan dengan tangannya sendiri yang tentu saja membuatnya jijik tapi walaupun begitu Dion tidak keberatan dia juga menyukainya.
"Astagfirullah, tuan berapa jumlah total keseluruhan belanja ini?" tanya Zava saat sudah didalam.
Dion mengernyitkan sebelah alisnya, "Kau bertanya berapa jumlah semuanya setelah kau mendapatkannya."
"Hehehe, maafkan aku tuan, aku terlalu asik belanja hingga melupakan semuanya. Jadi berapa semuanya tuan." Zava cengengesan tidak enak.
"Memangnya kau ingin mengganti semuanya." tanya Dion meragukan.
"Kenapa tidak tuan? aku kan hanya pinjam. Jadi berapa?"
"Kau ingin tau, berapa semuanya bagaimana kalau aku tidak membutuhkan uangmu."kata Dion tersenyum tipis.
"Maksud tuan!".
"Bagaimana kalau yang aku butuhkan adalah...!" Dion mendekatkan wajahnya pada Zava seperti ingin menciumnya membuat Zava memundurkan wajahnya dan menutup mulutnya.
Saat sudah mendekati bibir tiba-tiba seseorang datang dengan senyum sumringah tetapi senyuman itu seketika hilang saat matanya melihat pemandangan didepannya.
"Zava...!"
__ADS_1
Zava dan Dion langsung menoleh mendapati Gilang dengan keterkejutannya.
"Gilang." Zava menelan salivanya merasa malu pada Gilang.
"Maaf aku mengganggu." kata Gilang hendak pergi dengan perasaan yang tidak menentu.
"Tunggu Gilang " Zava segera menghentikan dan Dion hanya menatapnya datar.
Zava menjadi gugup, "Ada apa Gilang? silahkan masuk!"
Gilang menatap Dion dengan datar dan tenang begitu juga dengan Dion menatap Gilang dengan datar dan tenang juga tapi mereka bisa saling melihat kalau mereka masing-masing menyukai gadis yang sama.
"Siapa dia?" tanya Dion dingin pada Zava.
"Dia...!" belum Zava menjawab sudah disela oleh Gilang.
"Aku Gilang, teman spesial Zava kau siapa?" jawab Gilang sengaja membuat Zava mengernyit.
Dion terkekeh, "Heh, hanya teman. Aku Dion calon suami Zava!" jawab Dion tegas membuat Gilang menggeram.
Rupanya jawaban Dion lebih menguntungkan, tapi itu membuat Zava bingung menatap dua lelaki tampan dihadapannya.
Suasana semakin tegang Dion dan Gilang saling menatap dingin, Zava merasa auranya sangat dingin melihat tatapan mereka segera dia mengalihkan.
"Eh... kalian berdua mau minum apa?" tanya Zava gugup. Tapi mereka diam saja tidak menjawab.
Zava kembali bertanya lagi, "Kalian ingin minum apa yang panas atau yang dingin."
"Yang dingin." jawab Dion dan Gilang bersamaan membuat Zava terhenyak.
"Ba-ik akan aku buatkan sekarang." ucap Zava gugup langsung berlari kearah dapur.
"Jadi kau yang bernama Gilang." ucap Dion dingin saat Zava pergi.
"Jadi kau pria yang mengaku-ngaku calon suami Zava." balas Gilang menatap dingin juga.
"Aku memang calon suaminya."
Gilang tertawa sinis, "Jika kau calon suaminya tidak mungkin Zava tidak mau mengakuimu aku kenal dia sudah lama."
"Kau memang sudah mengenalnya lama, tapi kau sangat payah dan pecundang." balas Dion santai.
"Apa maksudmu?" tanya Gilang marah.
"Kau memang lelaki payah, tidak berani mengungkapkan tapi tidak apa, itu sangat menguntungkan bagiku."
__ADS_1
"Hei dengar aku bukan pecundang aku hanya menunggu waktu yang tepat."
"Ya tepat sampai aku benar-benar memilikinya." senyum Dion yang menyebalkan membuat Gilang kesal.