
"Kevin...!" panggil Dion dengan suara keras namun tatapannya masih tertuju pada Mega yang gemetar ketakutan.
"Saya tuan.!" Kevin mendatangi saat dirinya dipanggil.
"Cepat kau kirim mereka berdua ketempat pengasingan dinegara negara terpencil dan hilangkan identitas mereka berdua seperti yang dia lakukan pada wanitaku, aku ingin membuat mereka merasakan bagaimana hidup terasing." ucap Dion menatap tajam pada kedua wanita berbeda usia ini.
Tentu saja hal itu membuat mereka jadi ketakutan dan berkeringat dingin, mereka tidak bisa membayangkan jika hidup terasing.
"Dion jangan lakukan itu! aku mohon." Mega bahkan sampai berlutut dengan air mata palsunya supaya Dion luluh.
"Dion kau tega sekali padaku, jangan lakukan itu padaku. Aku mencintaimu Dion." Anetta pun sama melakukan apa yang dilakukan oleh Mega, tapi itu sama sekali tak membuat Dion luluh malah Dion bertambah marah.
"Kevin, cepat lakukan perintahku.!" ucapnya dengan menatap tajam Mega dan Anetta.
"Baik tuan." Kevin mengintruksikan kepada pengawal untuk membawa mereka dengan menganggukan kepala, para pengawal itu mengerti lalu menjalankan perintah.
Saat pengawal maju dan menyeret mereka dengan paksa Anetta dan Mega berontak tak mau dibawa tapi apa yang bisa mereka lakukan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa diatas kuasa Dion.
Mereka hanya bisa berteriak dan memanggil-manggil nama Dion.
"Dion... lepaskan aku." ucap mereka bersamaan terus-menerus sampai akhirnya hilang dipandangan Dion.
Zava yang melihatnya sebenarnya tidak tega dia tambah meneteskan air mata melihatnya tapi dia pun sama tidak bisa mencegah apa yang dilakukan Dion.
****
Beberapa menit berlalu acarapun telah selesai dengan berjalan kondusif meski ditengah-tengah terdapat kendala tapi semua itu tidak masalah. Kevin dengan gesit bisa mengatasi semuanya.
Zava sedang berada diluar gedung menunggu Dion yang akan mengantarnya pulang tapi dia bertemu dengan Wawan dan Daryna diluar.
Didalam mereka tidak bertemu karena tempatnya luas dan sulit sekali untuk mencari seseorang dan lagi mereka tidak tau jika Zava ada disini, hanya saja mereka juga mengetahui adegan yang penuh keterkejutan itu tapi mereka juga tidak tau jika yang membuat masalah terkejut itu adalah Zava.
"Zava...!" panggil Wawan dan Daryna bersamaan kemudian menghampiri.
"Eh kalian, mau kemana?" tanya Zava.
Wawan dan Daryna terbengong dan terkagum dengan penampilan Zava malam ini yang tak biasa juga sekaligus mereka heran kenapa bisa Zava ada di pesta ini.
__ADS_1
"Hey, kenapa kalian malah bengong?" Zava melambaikan kedua tangannya didepan wajah Mereka berdua.
"Zava, ini beneran kau." tanya Wawan, matanya tak berhenti memandang Zava.
"Iya Zava, ini kamu atau kita salah orang." Daryna ikut menambahi.
"Kalian ini aneh ini aku Zava teman kalian, masa kalian tidak mengenaliku sih!" ucap Zava kesal.
"Eh iya ini kau, tapi kau cantik sekali Zava.!" kata Wawan memuji dan Zava tersenyum.
"Tapi aku heran kau kok bisa ada disini. Apa kau mendapat undangan juga?" tanya Wawan heran.
"Iya dan kenapa kita tidak bertemu didalam." tambah Daryna juga ikut heran.
"Aku juga tidak tau kenapa kita tidak bertemu didalam? tapi aku kesini..." belum selesai Zava berbicara Wawan sudah memotong.
"Tunggu, biar aku tebak kau datang bersama tuan bos kan." tebak Wawan dan ternyata benar.
"Ah iya.. tentu saja kau datang bersama pemilik pesta ini. Ya ampun kenapa aku bodoh sekali tidak menyadari itu." Daryna terkekeh saat baru menyadari bahwa Zava adalah kekasih Dion.
Zava hanya tersenyum menanggapinya.
"Hah... aku patah hati, aku memang tidak bisa bersaing dengan bosku sendiri." Wawan merengek seperti anak kecil membuat Daryna dan Zava mengernyit malu karena mereka jadi dipandang oleh orang-orang yang berlalu lalang.
"Hey, diam malu kau ini seperti anak kecil saja." ucap Daryna menatap kesal pada Wawan dan Zava hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh lalu tuan Dion dimana? kau sendirian disini!." tanya Daryna sambil menengok kanan dan kiri.
"Aku disini ada apa mencariku?" Dion tiba-tiba datang dibelakang mereka bertiga membuat ketiganya jadi terkaget.
Mereka berbalik dan mendapati wajah tampan Dion yang sudah dibelakang mereka. Wawan dan Daryna kemudian menunduk hormat pada Dion.
"Selamat malam tuan Bos," sapa Wawan dan Daryna.
"Hemm." hanya itu jawaban dari Dion dan melangkah mendekat kearah Zava.
"Ayo sayang kita pulang, maaf membuatmu menunggu lama." kata Dion lembut pada Zava.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa. Ayo kita pulang." kata Zava tersenyum.
"Wawan Daryna aku pulang dulu yah!" sambungnya pada Wawan dan Daryna yang terlihat merasa canggung.
Daryna dan Wawan hanya mengangguk melihat Zava pergi bersama Dion.
Tak ada pembicaraan antara Dion dan Zava didalam mobil sampai akhirnya mereka sampai di kontrakan Zava.
"Tuan mau mampir." kata Zava membuka pintu lebar-lebar.
"Iya terimakasih." Dion pun masuk kedalam kontrakan karena memang banyak yang ingin Dion tanyakan.
Setelah masuk mereka tidak langsung berbicara apalagi Zava merasa sangat canggung setelah identitas itu diungkap sebagian oleh nyonya Mega dipesta itu.
"Maaf tuan, tunggu sebentar aku ingin ganti baju dulu." kata Zava melangkah kekamar namun Dion malah mengikutinya diam-diam.
Sebenarnya Dion tidak ada maksud hanya saja dia ingin mengetahui hal itu dari pribadi Zava sendiri.
Dion menunggu sampai Zava telah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumagan dan belum memakai hijab tapi sudah membasuh make up-nya dengan air pembersih make up sehingga menampakkan wajah yang polos cantik alami milik Zava.
Dan saat Zava sedang menyentuh kalung liontin yang tidak pernah dia lepas itu saat itulah Dion masuk membuat Zava terkaget dan langsung mengambil selimut untuk menutupi kepalanya.
"Tuan, ada apa bagaimana kau bisa masuk." Zava panik saat Dion malah mendekatinya.
Dion tak menjawab dirinya tetap berjalan dan menatap sesuatu yang membuatnya penasaran yaitu kalung liontin.
Kemudian Dion menyentuh kalung itu dan Zava membiarkannya yang sebenarnya sedang panik dan waspada.
Dion kemudian membuka liontin itu dengan perlahan dan sesuatu yang sangat mengejutkan membuatnya terus menatap kalung itu.
Kalung yang berisi foto Doni adik tirinya dan Zava sewaktu masih duduk di bangku SMA dan masih memakai seragam Sekolahnya sudah membuktikan bahwa Zava adalah Titi gadis yang selama ini dia cari.
"Kau benar-benar Titi.!" tanya Dion menatap Zava serius dan dalam.
Zava hanya menganggukkan kepala.
Dion kemudian menjauhkan tangannya dari kalung itu kemudian mengusap wajahnya kasar dan terduduk ditepi ranjang Zava dengan pikiran tak menentu.
__ADS_1
"Kau tau, kau adalah gadis yang selama ini mengusikku dan membuat aku datang kesini." kata Dion menatap Zava yang masih terdiam dan bingung ingin menjawab apa?.