
Zava sudah selesai memasak dengan Daryna dia membawakan semuanya kedepan, Zava hanya memasak sederhana nasi, ayam goreng geprek dan sambal bawang.
"Silahkan dimakan maaf yah aku hanya memasak ini, semoga kalian suka yah!"
Gilang dan Wawan tersenyum menyambutnya sedangkan Dion hanya diam saja.
"hey ini masakan Zava yang spesial loh dia buatnya pakai hati." ucap Daryna asal.
"Benarkah!" kata Wawan antusias. "Apa dia memasaknya untukku?" lanjut Wawan berbinar.
"Hey geer sekali kau, untuk apa juga dia membuatnya untukmu." Daryna bersungut pada Gilang." Dia membuatkannya untuk lelaki yang ada dihatinya." ucap Daryna lagi sambil menatap Dion dan Gilang bergantian dengan senyum yang mengembang membuat Zava langsung menyenggol lengannya.
"Daryna sudah jangan buat ulah atau kuusir kau!" ucap Zava mengancam Daryna.
Daryna hanya tersenyum meringis membalasnya..
Sedangkan Gilang sudah tersenyum percaya diri dan Dion tetap diam tak bereaksi.
"Tuan silahkan dimakan!" Zava menyerahkan nasi itu kehadapan Dion dahulu membuat Dion tersenyum samar.
"Terimakasih." jawab Dion dan Gilang tampak kecewa.
Dion sebenarnya ingin pergi dari situ dia sudah bosan dan tidak betah tapi dia juga tidak ingin meninggalkan Zava bersama Gilang dia tidak rela meskipun ada Wawan dan Daryna jadi dia bertahan dan mencari ide untuk mengusir mereka semua.
Kemudian dia mengambil ponselnya menghubungi seseorang yang bisa diandalkan siapa lagi kalau bukan asistennya Kevin.
lalu tiba-tiba... ponsel Gilang berdering saat Zava ingin mengambilkan makanan untuknya.
"Maaf, aku angkat telfon dulu." pamit Gilang beranjak berdiri dan menerima telfon dan Zava mengangguk.
Setelah itu datanglah ibu Lusi memanggil Wawan.
"Wawan... ternyata kau disini, ibu butuh kamu ayo cepat pulang!" kata ibu Lusi menyuruh anaknya pulang dan tersadar bahwa tidak hanya ada Wawan saja dia juga melihat Dion kemudian tersenyum sungkan.
"Eh tuan, maaf mengganggu saya cuma mau panggil Wawan saja!"
"Hemm... silahkan!" balas Dion datar.
"Tapi Bu.. aku belum makan.!" kata Wawan menolak karena dia jadi tidak bisa merasakan masakan Zava kali ini.
"Heh, kau pikir dirumah tidak ada makanan sampai kau meminta makanan pada orang lain." ucap ibu Lusi kesal.
__ADS_1
"Habis masakan ibu asin mulu." gumamnya pelan tapi masih bisa didengar membuat ibu Lusi tambah kesal sedangkan Zava dan Daryna tertawa tertahan.
"Apa kau bilang masakanku asin, kalau begitu kau tidak boleh makan selama sebulan? titik."
Wawan tercekat ludahnya sendiri, "Tidak Bu jangan kalau aku tidak diberi makan maka aku akan kelaparan. Apa ibu tega melakukannya?" Wawan memelas mencoba membujuk ibunya.
"Terserah, itu urusanmu yang penting sekarang aku membutuhkanmu cepat pulang." Ibu Lusi menjewer telinga Wawan seperti anak kecil.
"Aduh Bu jangan ditarik Wawan malu Bu..!" Wawan lebih memelas lagi karena harga dirinya seperti terinjak oleh ibunya sendiri.
"Salahmu sendiri." ibu Lusi tetap menarik telinga Wawan sampai keluar kontrakan Zava.
Zava dan Daryna tertawa lepas setelah mereka keluar dan Dion malah menikmati tawa Zava yang sangat alami dia terus memandangi Zava dan tersenyum tipis.
Setelah Wawan keluar Gilang masuk dengan heran.
"Ada apa dengan Wawan? kenapa dia ditarik seperti itu?" tanya Gilang sambil melihat kebelakang.
"Biasa pak dia tidak menurut pada orang tua" jawab Daryna masih terkekeh.
Gilang tidak menanggapi dia hanya mengangguk dan langsung menatap Zava penuh rasa kecewa.
"Zava maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan makan denganmu, aku ada urusan penting yang harus aku lakukan sekarang!" ucap Gilang, kenapa disaat seperti ini dia malah menghilangkan kesempatannya dan dia harus rela kalau Dion masih bersama Zava.
"Iya aku janji aku pasti akan kembali." tekadnya tapi Dion tersenyum smirk mendengarnya.
Lain kali kau tidak akan bisa menemuinya aku pastikan itu.
batin Dion
"Ya pak aku jadi nyamuk dong disini kalau bapak juga pergi." ucap Daryna tidak enak.
"Tidak, kau tidak jadi nyamuk kok justru bagus kau menemani mereka jangan buat mereka hanya berdua saja didalam ruangan. Ingat itu kau jangan kemana-mana sampai pria itu pulang." ucap Gilang melirik Dion sinis membuat Dion menggeram kesal.
Daryna hanya tersenyum meringis mengerti maksud dari ucapan Gilang dan Zava pun hanya terdiam tak tau harus menjawab apa.
"Baiklah Zava, aku pulang dulu yah! hati-hati."
pamit Gilang tersenyum tampan.
"Iya kau juga hati-hati." balas Zava tersenyum juga dan sungguh itu membuat Dion tidak tahan.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah Gilang keluar dan terdengar suara motornya sudah melaju, kini suasana di kontrakan Zava menjadi canggung apalagi Daryna yang sudah panas dingin karena ditatap sedatar mungkin oleh Dion.
Karena merasa tidak enak dan tidak nyaman Daryna memutuskan kembali kekamarnya yang tak jauh dari kamar Zava dan mengabaikan pesan Gilang.
"Ehh... Va aku baru ingat aku belum menyelesaikan laporan untuk besok, jadi maaf yah aku juga harus pulang." ucap Daryna beralasan yang masuk akal.
"Ya kok kamu juga pergi terus yang nemenin aku siapa?" kata Zava gugup karena hanya tinggal dia dan Dion.
"Kan ada tuan Dion, tuan temani Zava yah!" kata Daryna menatap Dion sungkan.
"Tidak masalah.!" jawab Dion santai.
Kemudian Daryna berjalan cepat untuk menghindari amukan yang mungkin akan terjadi, Zava menjadi tambah gugup saat hanya tinggal berdua saja.
Dion menghela nafas lega karena semua pengacau sudah pergi. Asal kalian tau saja padahal semuanya ulah Dion yang membuat mereka pergi mendadak.
Zava melirik Dion, Dion langsung bereaksi.
"Jadi sekarang tinggal kita berdua, apa yang akan kau lakukan?" tanya Dion menatap Zava.
"Emm.. tidak ada!" jawab Zava gugup.
"Kau tau, aku merasa terganggu dengan mereka semua dan sekarang aku lega mereka semua sudah pergi. Jadi karena kau sudah menyiapkan makanan untukku jadi kau harus menyuapiku." ucap Dion tersenyum menyeringai.
"Hah menyuapi tapi tuan kan sudah besar."
"Memangnya kenapa? anggap saja ini sebagai hukumannya karena kau telah tersenyum pada pria lain." jawab Dion menyilangkan tangan didada.
"Tersenyum pada pria lain maksudmu Gilang dan Wawan.".
"Stttt...!" Dion menutup mulut Zava dengan satu jari membuat Zava terkejut.
"Aku tidak suka jika kau menyebut nama pria lain didepanku dan sekarang aku lapar cepat sauapi aku." kata Dion dingin.
Zava mau tidak mau harus menuruti keinginan Dion untuk menyuapinya.
"Ini tuan aaa...!" Zava menyodorkan makanan itu seperti anak kecil tapi Dion malah menikmatinya.
__ADS_1
Zava semakin gugup karena Dion malah asik memandangi wajahnya dia pun menundukkan mukanya untuk menghindari tatapan Dion sambil terus menyuapi.