
"Sayang, aku menemukan ini ditempatmu. Apa ini barang pribadimu?" Dion menyerahkan sekotak kardus yang tidak terlalu besar pada Zava.
Mereka kini sedang bersantai ria setelah melakukan aktifitas panas, mandi dan sarapan ralat makan siang mungkin karena matahari sudah terik.
Dan Dion teringat dengan barang pribadi Zava yang diambilnya dikontrakkan, Dion sudah melihat isinya sebelum menyerahkan pada istrinya hanya saja dia ingin tau jawaban dari istrinya.
Dan dia terkejut saat melihat jas yang sangat dikenalinya, karena itu adalah jas miliknya yang dulu seingatnya pernah diberikan kepada seorang gadis yang di tolong oleh asistennya.
Karena dia tidak melihat rupa gadis itu jadi dia tidak tau siapa gadis itu dia hanya memberikan asal jasnya pada gadis itu.
Dan sekarang dia penasaran dari mana Zava mendapatkan jasnya atau apakah gadis malam itu adalah istrinya sendiri.
Dan satu lagi kalung liontin yang membuatnya cemburu, karena setelah dilihat didalamnya ada foto Doni adik tirinya dan Zava sewaktu masih sekolah dan Dion yakin kalung ini adalah pemberian dari Doni, yang membuatnya cemburu adalah karena Zava masih menyimpan kalung itu, apa istrinya masih mencintai adiknya mengingat hal itu membuat Dion kalang kabut sendiri.
Selainnya hanya berisi barang pribadi biasa yang tidak membuat Dion ingin menguliknya.
Zava menerima kotak kardus itu dan membuka isinya, barang pribadi Zava yang sengaja diambil oleh pengawal Dion dari kontrakannya.
Dia lalu mengeluarkannya satu persatu dan matanya tertuju pada dua benda yang sangat menarik perhatiannya yaitu sebuah jas dan sebuah kotak kecil berwarna biru berbahan beludru lembut yang berisi sebuah kalung liontin.
Zava kemudian tersenyum memandangi dua benda itu.
"Kenapa kau tersenyum sendiri? apa yang menarik dari dua benda ini?" tanya Dion menunjuk dua benda itu.
"Oh.. ini aku ceritakan tidak yah!" Zava malah memancing rasa penasaran Dion.
"Kau ingin tidak keluar kamar seharian ini?" ucap Dion balik memancing.
__ADS_1
Tentu saja Zava mengerti arti dibalik tidak keluar kamar dan dia merasa sudah cukup untuk hari ini karena lelah dan masih sakit.
"Ehehe... baik-baik suamiku, istrimu ini akan memberi tahu." ringis Zava tersenyum dan itu malah membuat Dion menjadi gemas karena tingkah istrinya yang konyol.
"Cepat beri tahu jangan menggodaku!"
"Iya, iya. mas tau jas ini aku simpan terus karena jas ini adalah jas pemberian dari seseorang yang pernah menolongku. Meski dia bersikap dingin dan jutek tapi aku senang karena waktu itu adalah pertama kalinya ada seseorang yang menolongku."
"Siapa seseorang itu? apa seorang pria." potong Dion cepat menghentikan cerita Zava.
"Iya pria, sebenarnya sih dua orang dan yang pertama menolongku adalah asistennya sedangkan yang memberiku jas ini adalah pria yang dingin dan jutek sekali." ungkap Zava mengingat malam itu.
"Siapa kedua pria itu? apa kau mengenalnya?" tanya Dion lagi.
"Ya waktu itu aku tidak kenal lah, apalagi situan dingin dan jutek itu menutup wajahnya jadi aku tidak bisa melihat wajahnya tapi kalau untuk asistennya aku sudah tau setelah bertemu dengan orangnya. Dan kejadian itu sudah lama waktu aku masih sekolah SMA. Dan ternyata kita dipertemukan lagi."
"Apa asisten pria itu Kevin." tebak Dion benar.
"Wah... mas hebat bisa menebak dengan benar." Zava tersenyum berbinar. "Tapi dari mana mas tau dia adalah Kevin, sedangkan aku saja lupa karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu."
Dion menggelengkan kepalanya benar dugaannya bahwa pria pemberi jas itu adalah dirinya.
"Dan kau tau siapa pria yang memberikanmu jas ini?" Zava menggeleng tidak tau.
"Dia adalah aku, suamimu sendiri."
Mata Zava membulat sempurna ketika menyadari pria dingin dan jutek itu adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
"Hah yang benar, jadi ini jas milikmu!" kata Zava sambil menunjuk jas itu.
"Ya tentu saja ini adalah jas ku seharga 50 juta yang ku beli di Prancis dan aku malah dengan entengnya memberikan pada gadis SMA sepertimu." ucap Dion sedikit ketus tapi berbeda dengan hatinya yang malah senang ternyata gadis itu benar istrinya dan jasnya masih tersimpan rapi sampai sekarang.
"Ya... kan waktu itu aku diganggu preman dan hampir diperkosa tau, bajuku juga sobek dan kau juga tiba-tiba memberiku jas, jadi... itu bukan salahku." ucap Zava dengan mengalihkan pandangan.
"Tapi ngomong-ngomong untuk apa malam-malam kau masih diluar. Apa dulu kau sering keluyuran malam." tanya Dion dengan pandangan menyelidik.
Zava bingung apakah dia harus menceritakan tentang malam itu juga pada Dion bahwa dirinya malam itu karena pergi bersama Doni hingga kemalaman lalu Doni dibawa paksa oleh ibunya dan dia pulang sendiri hingga diganggu oleh preman dan ditolong olehnya.
"Kenapa kau diam saja? apa kau sering keluar malam dulu?." tanya Dion lagi karena Zava tak kunjung menjawab.
"Apa aku harus memberitahukannya padamu?"
"Harus. Karena sekarang aku adalah suamimu jadi tidak perlu ada yang disembunyikan."
"Baiklah, ini menyangkut tentang masa laluku kuharap kau tidak cemburu atau merah setelah mendengarnya." ungkap Zava mengehela nafas pelan, semakin membuat Dion penasaran.
"Apa? cepat katakan." desak Dion tidak sabar.
"Sebenarnya malam itu aku habis pergi bersama Doni. Bisa dibilang kencan namun kami tidak pernah berpacaran hanya seperti teman tapi mesra. Hingga tak terasa waktu sudah hampir malam dan kami kemalaman lalu tiba-tiba ditengah jalan kami dicegat oleh ibunya Doni dan dia memaksa Doni untuk pulang tanpa membawaku. Tapi Doni tidak mau dia mau ikut ibunya pulang setelah mengantarku pulang sampai rumah, ibunya tidak mengijinkan karena beliau memang dari dulu tidak menyukaiku bahkan membencimu karena aku miskin dan jelek." Zava menghela nafas sejenak.
"Lalu setelah itu apa yang terjadi?" tanya Dion serius.
"Ibu Doni menyuruh pengawalnya untuk memukul Doni hingga pingsan dan dibawa masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkanku sendiri ditengah jalan. Aku bingung aku takut aku tidak tau itu didaerah mana disana juga sangat sepi tidak ada kendaraan. Hingga sekumpulan preman datang ingin berbuat jahat padaku. Kau tau bagaimana perasaanku waktu itu, aku berdoa terus menerus semoga ada yang menolongku dan jasanya akan selalu kuingat seumur hidupku dan akhirnya diujung penantian ku yang sudah pasrah Yang Kuasa mengirimkan penyelamat untukku. Aku bersyukur sekali akhirnya aku tertolong dan karena kau yang memberi benda terlihat itu padaku jadi aku masih menyimpannya sampai sekarang. Begitu ceritanya panjang kan." ucap Zava mengakhiri ceritanya.
Dion termangu mendengar cerita dari istrinya ternyata saat kepulangannya waktu itu mempertemukan pertama kalinya dengan Zava dan tidak menyangka bahwa adiknya begitu mencintai Zava. Mungkin jika Doni masih hidup dia akan mempertahankan wanita ini.
__ADS_1