Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Hampir Ternoda


__ADS_3

Zava dilempar diranjang king size milik Edgar, dirinya langsung beringsut mundur dengan wajah yang sudah pucat dan air mata yang menetas.


"Kau tau aku sudah lama menantikan ini." ucap Edgar melangkah maju dengan senyum seringainya.


Edgar tidak memakai baju atasan dan hanya memakai celana pendek diatas lutut karena dirinya tadi sedang berjemur.


"Dari awal aku sudah menduga, kalau kau bukan orang yang baik dan aku tau kau menyita ponselku supaya aku tidak bisa menghubungi Dion kan." ucap Zava semakin mundur, kini dirinya sudah ditepi ranjang bertumpu pada ukiran tepi ranjang.


Saat nama Dion terucap dari mulut Zava, mata Edgar memanas dan menatap tajam pada Zava dengan kekuatannya Edgar menarik kaki Zava dengan kencang hingga Zava jatuh terlentang.


"Aaa lepaskan." berontak Zava.


Lalu kemudian Edgar menindih tubuh Zava dan mencengkeram erat kedua tangannya, Zava memalingkan wajahnya saat Edgar menatapnya dari dekat.


"Kau tau, hanya kau satu-satunya wanita yang menolaknya dan aku tidak suka kau menyebut nama pria itu didepanku." ucap Edgar dengan menekankan katanya.


Lalu Edgar menggunakan satu tangannya untuk mencengkeram kedua tangan Zava sedang tangan Edgar yang satunya lagi mengelus pipi Zava dengan lembut membuat Zava memejamkan matanya dengan wajah yang penuh penolakan.


"Aku tidak pernah sepenasaran ini dengan wanita, hanya kau yang mampu membuat aku sampai harus melakukan ini." bisiknya parau ditelinga Zava yang masih tertutup hijab.


"Aku mengakui jika aku menginginkanmu sebagai istriku dan aku berjanji akan membahagiakan mu. Maukah kau menikah denganku?". Edgar semakin berbisik parau, aroma tubuh Zava membuatnya bergairah, dia juga menggerak-gerakan bagian pahanya yang juniornya sudah menegang.


Zava merasa sangat risih saat Edgar malah menggesekkan benda itu kepahanya, harga dirinya sebagai perempuan merasa terinjak. Dia menangis dalam kepasrahannya. Memberontak pun tak ada gunanya karena Edgar tak membiarkan dirinya lengah sekalipun, tangan Zava pun terasa sakit akibat cengkraman kuat itu.


"Tuan, ku mohon jangan apa-apa kan aku, jika kau mencintaiku maka biarkan aku bahagia dan lepaskan aku." kata Zava memohon dengan air mata yang sudah berderai.


"Jadi kau menolakku, dan menyuruhku untuk melepaskanmu bersama pria brengsek itu, begitu maksudmu." ucap Edgar dengan pandangan mata menusuk, kini dia mencengkeram kedua pipi Zava.


"Dengar, tidak ada yang boleh menolakku termasuk kau, hari ini juga aku akan membuatmu menjadi milikku."


Kemudian Edgar memaksa ingin mencium bibir Zava namu selalu mendapat penolakan dari Zava dengan menggerak-gerakkan kepalanya.

__ADS_1


Edgar terus berusaha bahkan Edgar menarik paksa hijab Zava hingga terlepas dan menampakan rambut panjangnya yang terurai, membuat Edgar semakin takjub dan semakin ingin memiliki akan kecantikan dibalik hijab yang dikenakannya. Saat Edgar tengah terpesona Zava mengambil kesempatan dengan menendang junior Edgar hingga sang empunya kesakitan dan melepaskan cengkramannya dan beralih memegang juniornya yang terasa sakit.


Zava langsung beringsut bangun untuk menghindari Edgar.


"Kurang ajar beraninya kau!" dengan sorot mata tajamnya, Edgar menahan rasa sakitnya dan berlari mengejar Zava.


Zava pun ikut berlari kearah pintu namun sayang pintu itu terkunci.


"Heh, kau tidak bisa membuka pintu itu sayang. Sudahlah menyerah saja serahkan dirimu padaku dan aku akan bermain lembut denganmu." kata Edgar berjalan perlahan dengan tersenyum sinis.


"Tidak, jangan!. Ku mohon jangan lakukan itu tuan." Zava menangis dan memohon tapi sepertinya itu percuma karena Edgar tidak terpengaruh sama sekali.


"Jangan memohon seperti itu sayang, itu malah akan membuatku semakin bersemangat dan ternyata kau... sangat cantik sekali kenapa tidak kau buka saja seluruh pakaianmu agar aku semakin bersemangat." ucapnya dengan kekehan kecil sambil berjalan pelan kearah Zava, dan Zava berjalan kearah samping diraihnya benda apa saja dan dilemparnya kearah Edgar.


Lagi-lagi tak ada apa-apanya Edgar dengan mudah menghindari lemparan itu dengan tertawa sinis.


"Sudahlah, Zava sudah cukup bermain-main nya, kau sudah merusak semua barang-barang ku. Kini giliranmu menggantinya."


Dengan secepat kilat Edgar langsung menangkap Zava dan kembali membawa keranjang, kali ini Edgar tidak ingin bermain-main lagi dia merobak pakaian depan Zava sehingga membuat bahu mulusnya terlihat jelas, satu baju lengannya sampai terlepas dari induknya dan menampakan lengan Zava yang putih.


Zava pasrah berdoa dalam hati, meminta pertolongan kepada yang maha kuasa. Bayangan Dion pun muncul dan dia sangat sedih jika Dion mengetahui kalau dirinya akan ternoda oleh pria lain, akankah Dion akan marah padanya dan tidak akan menikahinya.


Ditengah kepasrahannya pintu terdobrak dengan paksa menampakkan Dion yang sudah diambang kemarahan yang begitu besar, apalagi dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang.


Edgar dan Zava menoleh, Zava merasa lega dengan kedatangan Dion yang tepat hampir saja kesuciannya akan terenggut paksa oleh pria lain.


Sedang Edgar tentu saja emosi dirinya hampir berhasil mencapai tujuannya tapi Dion sudah ada didepannya.


"Kurang ajar lepaskan wanitaku.!" bentak Dion menatap tajam Edgar dan menendang dengan kuat hingga Edgar terpental.


Lalu Dion mengambil selimut untuk menutupi tubuh Zava yang hampir terekspos semua.

__ADS_1


"Maafkan aku, baru datang sekarang." ucap Dion lembut mencium kening Zava.


Zava tak membalas dia memejamkan matanya yang sembab dan memerah sambil menikmati ciuman dikening itu.


"Hem... dia sekarang sudah menjadi wanitaku." ucap Edgar tersenyum sinis.


Zava menggeleng pada Dion mendengar ucapan Edgar, lalu Dion menoleh kearah Edgar dengan pandangan menusuk.


"Kau kalah Edgar seharusnya kau malu karena dia tidak mau denganmu bukan menculiknya dan menyanderanya seperti ini. Kau pengecut." ucap Dion menggebu.


Edgar bangkit dan berdecih, "Aku tidak butuh nasehatmu, aku pasti akan mendapatkan apapun yang aku inginkan."


"Jangan harap!". ucap Dion.


Kemudian perkelahian itu pun tak bisa dihindari, Dion dan Edgar saling menyerang dengan ilmu beladiri nya masing-masing, kekuatan mereka imbang hingga tidak ada yang kalah dan menang apalagi mengalah.


Darah pun sudah mengucur disisi bagian wajah mereka yang tamoan. Zava ketakutan melihat perkelahian mereka yang sudah pasti mengenai dan merusak barang-barang milik Edgar.


Tak lama kemudian Gilang datang dengan penuh luka dirinya juga sedang melawan para anak buah Edgar diluar yang menghalangi kedatangan mereka dan menyuruh Dion untuk mencari Zava segera.


Dia kaget melihat Zava yang ketakutan dipojok ranjang dengan hanya memakai selimut, Gilang pun berlari kearah Zava untuk menolongnya.


Dion yang melihatnya segera berkata, Gilang cepat bawa pergi Zava dari sini, sipengecut ini biar aku yang membereskan."


Gilang langsung mengangguk.


"Zava, ini aku Gilang." kata Gilang menyentuh pundak Zava lembut.


Zava menengadah dengan mata yang memerah menatap Gilang dengan sendu.


"Tidak apa-apa aku akan membawamu pergi dari sini." lalu Gilang pun membopong Zava dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan kau bawa dia, jika kau melangkah sedikit saja maka aku akan membunuhmu." ucap Edgar menatap tajam Gilang.


"Jangan pedulikan dia Gilang, cepat bawa Zava pergi." ucap Dion menyela.


__ADS_2