Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Dion Yang Aneh


__ADS_3

"Ehemm..." Kevin berdehem dibelakang Zava dan Gilang sontak mereka berdua menoleh.


Sintia yang melihat asisten Kevin berdehem langsung pergi dengan menunduk hormat.


"Kau sudah ditunggu diruangan tuan Presdir." ucap Kevin tegas pada Zava.


"Ah iya...!" Zava tergugup langsung mengiyakan perintah Kevin.


"Tunggu Zava!" Gilang mencoba menyela tapi Kevin langsung menghalangi.


"Maaf siapa anda?" tanya Kevin datar.


"Aku... teman Zava yang turut membantunya biarkan saya juga ikut mengantarnya." kata Gilang beralasan karena dia tau siapa tuan Presdir yang dimaksud.


"Maaf, anda tidak bisa masuk hanya nona Zava yang boleh masuk keruangan Presdir. Lagi pula saya baru melihat anda." Ujar Kevin memicing.


"Ya karena saya baru."


"Lalu apa hak anda ingin mengikuti nona? sebaiknya anda tunggu diluar. Saya tidak memiliki waktu untuk meladeni anda." ucap Kevin lalu berlalu pergi.


Gilang berdecih, " Tidak meladeni katanya, tapi dia sudah berbicara denganku lima menit, huh..." ucapnya pelan.


Lalu datanglah Wawan yang sepertinya habis dari kamar mandi.


"Hey, kau Gilang." ucapnya agak tinggi sehingga membuat yang lain jadi menoleh sekilas lalu kembali ke aktifitas masing-masing.


"Hai, Wawan." balas Gilang pelan.


"Sedang apa kau disini?" tanya Wawan heran.


"Aku sedang menunggu Zava." jawabnya.


"Menunggu Zava, untuk apa menunggu Zava?"


"Ya tidak apa-apa hanya ingin menunggu saja." katanya santai, tapi Dion tidak membiarkan itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan Gilang langsung mengangkatnya.


"Maaf, aku harus angkat telfon dulu." ujar Gilang agak menjauh dan Wawan mengangguk.


Tak lama kemudian Gilang kembali dengan wajah lesu.


"Wan, bisakah aku menitipkan Zava padamu, aku ada urusan mendadak disekolah." kata Gilang berucap.

__ADS_1


"Oh kau tenang saja Zava aman bersamaku." balas Wawan dengan mengacungkan jempolnya.


"Terima kasih Wan, tapi ingat kau jangan pernah berlebihan dengannya yah!" sahut Gilang memperingati membuat Wawan kebingungan berlebihan, berlebihan apa maksudnya.


"Sudah, aku pergi titipkan salamku padanya." Gilang menepuk pundak Wawan lalu melenggang pergi.


"Aneh sekali si Gilang berlebihan apanya? memangnya aku mau apa?" gumam Wawan menggelengkan kepalanya.


"Dia sudah pergi tuan." ucap Kevin dibalik tembok dengan ponsel ditelinganya melihat Gilang yang sudah pergi.


"Kerja bagus." jawab Dion kemudian menutup telfon.


Ternyata lagi-lagi kerjaan Kevin yang membuat Gilang pergi kalau tidak begitu maka Gilang akan menunggu Zava sampai kapanpun dan Dion tentu saja tidak ingin terganggu.


*****


Diruangan kerja Dion sudah ada Zava yang sedang duduk sambil menunggu Dion dimeja kerjanya.


Seperti biasa Zava ditahan oleh Dion untuk tidak langsung pergi karena setelah Zava masuk pintu otomatis langsung dikunci oleh Dion jadi Zava tidak bisa keluar dan hanya Kevin yang tau kata sandinya.


Meskipun Dion tidak berbuat macam-macam padanya tapi tetap saja Zava selalu gemetar jika berduaan dengan Dion karena bagaimanapun juga mereka adalah lawan jenis dan bisa saja membuat khilaf apalagi Dion lelaki yang selalu berbuat seenaknya padanya.


Dion menyimpan ponselnya kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati Zava. Zava langsung siaga saat Dion mulai mendekatinya.


Dion terkekeh, "Kalau kau bertingkah seperti ini aku malah semakin ingin menahanmu." jawab Dion tersenyum.


"Tuan aku tidak main-main!".


"Lalu kenapa kau selalu ingin mengantar makanan ini untukku." ucap Dion tak berdosa membuat Zava langsung menoleh sebal.


"Hey tuan ingat yah! kau yang selalu memaksaku untuk terus kesini belum lagi dengan ancaman-ancaman mu itu yang membuat kepalaku ingin pecah!" balas Zava tambah merengek suaranya pun agak tinggi, Tapi Dion malah semakin terhibur.


Tanpa diduga Dion mendorong tubuh Zava dengan kedua tangannya hingga tubuhnya bersandar disofa, tentu saja Zava terkejut lagi-lagi Dion selalu mengejutkannya.


"Apa kau menyukaiku? sehingga kau ingin selalu melihat diriku." ucap Dion menatap intens Zava membuat Zava mengernyit.


Pernyataan macam apa ini?.


"Jawab saja aku tidak akan marah, malah aku akan mempertimbangkannya."


Bicara apa sih Dion ngawur sekali sebenarnya dia ingin mengakui perasaannya atau meledek Zava.


"Tuan ini bicara apa sih? aku sama sekali tidak mengerti." jawab Zava bingung.

__ADS_1


"Kau tidak mengerti, hey dengar ini kesempatan emas bagimu jarang sekali aku Dion Raditya berkata seperti ini terhadap wanita. Jadi kau adalah wanita pertama yang beruntung itu." ucap Dion tersenyum menyeringai.


Zava sampai bergidik melihatnya. Kemudian mendorong dada Dion agar jauh darinya.


"Hey, kenapa kau mendorongku? ahh aku tau pasti kau malu sampai kau tak berani menatapku. Benar bukan."


Zava hanya menghembuskan nafas kasar atas kepercayaan diri dari Dion.


"Sepertinya obat tuan habis, lebih baik tuan makan dulu setelah itu pasti tuan akan sadar kembali." ucap Zava menyudahi.


Dia mengambil kotak itu lalu bersiap menyuapi Dion yang tiba-tiba mendadak menjadi aneh.


Dion hanya tersenyum menanggapinya, sebenarnya diapun sadar apa yang dilakukannya tapi dia juga bingung kenapa dia bisa melakukan ini kalau Kevin melihatnya dia pasti akan menertawakannya dalam diam.


Meskipun begitu Dion senang melakukannya berdua dengan Zava seperti lupa segalanya. Ya akhir-akhir ini Dion memang selalu bertingkah aneh saat bersama Zava apalagi tidak bersama Zava dia pasti akan selalu memikirkannya.


Oh sepertinya Dion sudah terkena panah asmara dari gadis berhijab itu.


Zava dengan telaten menyuapi Dion, dia malah berfikir sudah seperti istrinya saja kenapa tidak dijadikan istri benarannya saja jadi tidak membuat dia merasa terbebani.


Melihat Dion mempunyai sifat seperti itu mengingatkan dia kepada lelaki yang juga sama selalu memaksanya dan menggodanya tapi sebenarnya cinta dan terlambat mengutarakan cintanya.


Zava langsung menggelengkan kepala saat melihat bayangan lelaki itu yaitu Doni didepan wajahnya yang ternyata berubah menjadi Dion membuat Dion mengerutkan keningnya.


"Kenapa? kau membayangkan lelaki lain yah!" ucap Dion yang ternyata benar.


"A-pa...!" Zava tergugup kenapa Dion bisa menebak dengan benar apakah dia seorang cenayang.


"Jujur saja kau membayangkan lelaki lain." desak Dion tidak suka.


"Ah..!" Zava berfikir tapi dia tidak mau berbohong juga.


"Iya melihat sifatmu seperti ini mengingatkanku pada lelaki teman masa laluku." jawab Zava akhirnya mengakui.


"Teman masa lalumu, siapa dia laki-laki atau perempuan?" tanyanya mulai serius.


"Emm... laki-laki." jawab Zava meragu sambil melihat raut wajah Dion yang berubah dingin.


"Kenapa kau mengingat dia? disaat sedang bersamaku. Apa teman laki-laki mu sangat spesial untukmu." Dion geram mengingat informasi bahwa Zava menyukai lelaki dimasa lalunya.


"Em... karena dia sudah meninggal." jawab Zava pelan.


"Lalu siapa lelaki itu?" tanya Dion menatap serius pada Zava.

__ADS_1


"Dia...?"


__ADS_2