Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Berada Di Vila


__ADS_3

"Kakak, kenapa bicara seperti itu?" tanya Zava sedih.


"Tidak apa-apa!" Rian ikut terdiam dia juga bingung, kenapa berbicara seperti itu hanya karena dia ingin membalas budi tuannya.


Dia jadi merasa tidak enak setelah melihat adiknya bersedih.


"Ya sudah lebih baik kau istirahat saja, kakak juga mau istirahat. Ayo kakak tunjukkan kamarmu."


Zava tidak menjawab hanya mengikuti arahan kakaknya.


Sekarang Zava berada dikamar yang sudah disiapkan, kamarnya sangat luas dan mewah jendelanya pun sangat rendah sehingga bisa melihat pemandangan dibawah sana.


Zava berjalan pelan kearah jendela dan langsung disuguhkan dengan bukit tinggi hijau yang indah dan sedap dipandang mata dibawahnya adalah lantai yang berbatu kecil, batu alam yang cocok sekali untuk menghilangkan penyakit rematik.


Vila ini sengaja dibangun sedemikian rupa sesuai keinginan pemiliknya yang menyukai alam alami.


Tapi ditempat yang indah ini entah kenapa hati Zava tidak pada tempatnya dia jadi memikirkan Dion, dia juga tidak bisa menghubunginya. Dia jadi menyesal sendiri karena tadi tidak menghubungi Dion terlebih dahulu.


"Maafkan aku Dion." gumamnya pelan.


****


Malam harinya Edgar datang ke vila sambil membawa banyak makanan, Rian yang menyambutnya jadi heran karena dia belum pernah melihat tuannya merepotkan diri dengan membawa banyak makanan.


"Rio, dimana adikmu?" tanya Edgar tidak melihat keberadaan Zava.


"Ada dikamarnya." jawab Rian singkat.


"Panggillah, aku membawa banyak makanan aku yakin dia pasti suka." kata Edgar meletakkan makanan dimeja.


"Baik, aku panggilkan dia."


Rian pun bergegas menuju kamar Zava memanggilnya untuk makan malam bersama.


tok tok tok


"Zava keluarlah ada tuan Edgar membawa banyak makanan untuk kita, makanlah bersama kau pasti lapar bukan." ucap Rian dibalik pintu.


Tak lama pintu terbuka menampakkan Zava yang baru saja mandi tapi masih mengenakan jubah mandi dan kepalanya yang terbungkus kain.


"Kak, aku lupa aku kan tidak membawa pakaian" kata Zava dibalik pintu.


"Sudah kakak siapkan dilemari, kau belum melihatnya yah!" jawab Rian tersenyum.

__ADS_1


Zava ikut tersenyum meringis, "Iya belum kak."


"Ya sudah cepat pakai pakaianmu dan kakak tunggu dibawah jangan lama-lama." titahnya pada adiknya dengan mengelus kepalanya yang terbungkus handuk kecil.


Zava hanya mengangguk lalu menutup pintu kembali.


Dibawah Edgar sudah menunggu, malam ini dia terlihat sangat tampan dan segar sengaja untuk menarik perhatian Zava dan tak lupa tubuhnya pun sangat harum bahkan sampai tercium oleh Rian yang masih jauh. Dan itu membuat Rian tersenyum mengerti.


"Dimana adikmu?"


"Dia akan turun sebentar lagi." jawab Rian sopan.


"Sepertinya ada yang berbeda malam ini tuan." ledek Rian sambil menurunkan bokongnya kekursi.


Edgar yang merasa jadi tersenyum tipis, "Sangat terlihatkah."


"Iya, terlihat sekali."


"Menurutmu apa adikmu akan jatuh cinta padaku?" tanya Edgar tersenyum tapi Rian jadi terdiam, teringat akan kata adiknya yang tidak menyukai Edgar.


"Em... aku yakin dia akan jatuh cinta padamu tuan, banyak kelebihan tuan. Gadis mana yang dapat menolak pesona tuan." jawab Rian gugup diawal.


Edgar tersenyum samar dia tau bahwa Rian berbohong dan hanya ingin menyenangkannya tapi meski begitu dia tak peduli, mau Zava suka atau tidak dia harus memilikinya.


Setelah Edgar berkata seperti itu Zava turun dari tangga berjalan perlahan sambil tersenyum menunduk karena dirinya malu ketika melihat Edgar malah memandangi nya tanpa berkedip.


Edgar yang melihat kedatangan Zava jadi terpesona sungguh dia baru ini melihat seorang wanita yang memiliki kecantikan alami padahal Zava hanya memakai gamis panjang biasa dengan hijab kurungnya tanpa polesan make up membuat Edgar semakin semangat untuk memilikinya.


Ketika Zava sudah dekat dan tersenyum pada Edgar dan Rian seketika gairahnya memuncak hanya dengan memandangi wajah halus dan mulus Zava dan Edgar malah terpaku pada bibir Zava yang indah.


"Ehem.. " Rian langsung berdehem ketika melihat tuannya yang terus memandangi adiknya dengan penuh hasrat.


Karena Rian tau bagaimana kebiasaan tuannya yang tidak bisa lepas dari hasrat terlarang kepada seorang wanita cantik dan seksi dan bagaimana pun juga Rian tidak ingin adiknya jadi incaran tuan selanjutnya.


Edgar tersadar dari lamunan fantasinya dan Zava malah menunduk.


"Maaf, Zava aku membawakan makanan yang enak untukmu, ayo silahkan dimakan." kata Edgar yang tiba-tiba menjadi gugup.


"Iya terimakasih tuan." jawab Zava tersenyum dan Rian ikut tersenyum.


Sial dimana harga diriku, bagaimana mungkin aku bisa gugup dengan gadis ini, ini pertama kalinya aku begini. Ingat Zava kau sudah membuatku seperti ini dan aku berjanji tidak akan melepaskanmu kau akan menjadi milikku.


ucap Edgar tersenyum smirk sambil terus memandangi Zava.

__ADS_1


****


Zava sedang duduk sambil memandangi langit yang cerah dihiasi dengan bintang yang berkelip, suasana hatinya kini terasa sepi dipikirannya hanya ada Dion yang terus membayanginya.


Baru sehari dia sudah rindu dengan pria itu, pria yang pemaksa yang menyebalkan namun dia menyukainya dia tersenyum sendiri saat membayangkan saat-saat bersama Dion. tiba-tiba suara deheman membuatnya buyar.


"Ehem..!" Zava menengok dan terlihat Edgar yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya didada.


"Eh tuan.!" Zava membetulkan cara duduknya menjadi lebih sopan.


"Kau sedang apa?" tanya Edgar mendekati Zava dan duduk disampingnya sangat dekat sehingga Zava mundur menyamping.


"Aku sedang duduk sambil melihat indahnya langit itu." jawab Zava menunjuk langit dengan dagunya.


Edgar ikut mendongak keatas, baginya memandangi langit biasa saja dan dia tolehkan lagi matanya kearah Zava dan dia lebih suka memandangi gadis disampingnya.


"Kau cantik." gumamnya pelan tapi terdengar oleh Zava dan Zava langsung menoleh lalu tersenyum canggung.


"Boleh aku...!" belum selesai berucap Zava sudah memotong.


"Eh tuan, kata kakakku ponselku ada pada tuan. Boleh aku ambil." ucap Zava cepat takut mendengar hal aneh dari Edgar.


Edgar terdiam beberapa detik, "Ponselmu, oh ya ampun aku lupa ponselmu tertinggal diapartemenku dan aku lupa membawanya." kilah Edgar sengaja.


Zava menunduk sedih.


"Maafkan aku, apa ponselmu begitu penting dibanding tempat ini." tanya Edgar memancing.


"ah.. aku suka tempat ini tapi aku juga membutuhkan ponselku." jawab Zava cepat, tak mau Edgar salah paham.


"Apa diponselmu ada orang yang ingin kau tau kabarnya?" tanyanya lagi membuat Zava sedikit kesal.


Kenapa dia bertanya terus sih? sudah pasti aku ingin menghubungi seseorang yang membuatku rindu.


Isi hati Zava tersenyum paksa.


"Tentu saja tuan, aku ingin menghubungi teman-teman ku."


"Hanya teman."


Zava menghela nafas pelan, Edgar ternyata banyak tanya hal pribadi padanya membuatnya kesal saja.


"Ee.. tuan, ini sudah malam aku mau masuk kamar. Aku duluan yah." Zava langsung bergegas pergi demi menghindari pertanyaan yang lain lagi, sungguh dia merasa tidak nyaman saat bersama Edgar.

__ADS_1


Edgar yang melihat punggung Zava menjauh tersenyum smirk, dirinya memang sengaja melakukannya supaya Zava tidak menanyakan ponselnya lagi.


__ADS_2