Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Dihadang


__ADS_3

"Oh tidak, aku telah salah menilai orang." Zava mundur perlahan karena dia tidak fokus diapun menabrak sebuah pot hingga pot itu terjatuh dan sampai terdengar ketelinga Edgar.


Zava langsung panik, dia langsung lari sebelum Edgar memergokinya tapi sayang Edgar sudah melihatnya dia tersenyum menyeringai lalu mengejarnya.


"Jadi... kau ingin bermain-main denganku. Baiklah aku akan meladenimu." kata Edgar berlari menyusul.


Zava sudah masuk kedalam kamarnya dengan nafas terengah-engah, dia langsung mengunci pintunya dan berjalan kearah ranjangnya dia menggigit jarinya sambil mondar-mandir berfikir apa yang akan dia lakukan sekarang.


Tiba-tiba pintu diketuk dengan meras, jantungnya langsung berdegup dengan keras mendengar suara ketukan yang sangat kencang itu dia menduga bahwa itu Edgar.


"Zava, kau sedang apa didalam sayang? ayo keluarlah ada yang ingin aku bicarakan padamu?" ucap Edgar suarany sengaja dilembutkan namun itu terdengar mengerikan ditelinga Zava.


"Ayolah Zava,! aku sudah berbaik hati padamu. Apa kau tidak ingin membalas kebaikanku." lanjutnya dengan masih mempertahankan suara lembutnya.


Zava semakin ketakutan dia berlari kearah jendela kemudian melongok, tidak terlalu tinggi namun menakutkan karena dibawahnya terdapat batu kerikil alam yang sangat banyak dan jika terjatuh sudah pasti akan terluka.


Tapi kali ini dia tidak harus memikirkan itu, yang terpenting adalah keselamatannya.


Karena tidak ada jawaban dari Zava, Edgar mengeraskan rahangnya dengan matanya yang merah menahan amarah diapun menggedor pintu itu lebih kencang sehingga membuat Zava yang sedang mengikat tali itu jadi mempercepat aksinya.


"Zava, aku sudah sabar denganmu kali ini jika kau tidak menuruti perintahku. Maka jangan salahkan aku jika aku akan berbuat kasar padamu." kata Edgar dengan emosi, dengan sekali tendangan, pintu itu terbuka dan langsung roboh.


Zava yang sudah berhasil turun dari jendela semakin mempercepat lajuannya dengan wajah yang begitu panik karena Edgar berhasil membuka pintu itu hingga jebol.


Edgar masuk kedalam dan mendapati Zava sudah turun dari jendela menggunakan kain seprei yang diikat.


Dia semakin marah karena Zava ternyata membantahnya dan berusaha menghindarinya.


"Zava... beraninya kau." ucap Edgar menatap tajam kearah Zava dan menarik seprei itu keatas.


Zava bereaksi panik saat seprei itu ditarik dan dirinya belum sampai kebawah.


"Zava, lihat saja apa yang akan aku lakukan jika kau kutangkap?" ujar Edgar lagi dengan tersenyum menyeringai.


Zava bingung, tanpa pikir panjang lagi dia pun memberanikan diri dengan melompat.


Bughh awww...


Edgar semakin marah karena Zava malah lebih memilih menjatuhkan diri, kemudian dirinya ikut melompat memakai seprei itu.


Zava meringis menahan sakit dibagian pergelangan tangan dan kakinya yang ternyata terluka mengeluarkan darah tapi saat melihat Edgar mengikutinya dia pun berusaha berdiri untuk menghindari Edgar.

__ADS_1


"Berhenti kau Zava! aku akan menangkapmu." Edgar pun berhasil turun dengan mendarat sempurna, kemudian berlari menyusul Zava.


Sangat mudah bagi Edgar mengejar Zava apalagi Zava sedang terluka dengan cepat Edgar membopong Zava seperti karung beras.


"Tidak... lepaskan aku.!" Zava memberontak dengan memukul-mukul punggung Edgar, tapi itu tak berarti apapun bagi Edgar.


Dia membawa Zava kembali kekamarnya diruang utama dilantai yang paling tinggi."


"Kau mau membawaku kemana? lepaskan.!"


"Aku yakin kau sudah mendengarnya, jadi lebih baik kita langsung saja memulai permainan ini." jawab Edgar, sudut bibirnya tertarik keatas.


"Memulai permainan apa? jangan lakukan apapun padaku aku mohon."


"Diam kau, aku akan membuatmu tak bisa menolak dengan sentuhan ku." ucapnya lagi membuat Zava bergetar ketakutan.


Dion ku mohon datanglah cepat, Ya Allah tolonglah aku.


pintanya dalam hati dengan air mata yang sudah mengalir.


****


Tapi diperjalanan dia mendapat kendala, tiba-tiba ada sekelompok berandal yang menghadangnya.


"Hey, turun kau!" salah satu dari mereka menyuruh Rian turun dengan garangnya.


Rian sebenarnya tidak takut, dengan ilmu bela dirinya yang mumpuni dia bisa melawan mereka semua yang diperkirakan berjumlah sepuluh orang tetapi dia memikirkan adiknya.


Saat dia ingin menerobos mobil tiba-tiba mogok tidak bisa dinyalakan dan ini bukan waktu yang tepat.


"Woy pengecut! cepat keluar." katanya lagi sambil menunjuk dengan senjata parangnya.


Rian pun terpaksa turun untuk meladeni mereka sebelum dia turun dia sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk menjemputnya.


"Ada apa? kenapa kalian menghalangi jalanku?." kata Rian berusaha tenang.


"Serang...!" Tanpa menjawab lagi ketua preman berandal itu langsung menyuruh yang lain untuk menyerang.


Rian pun dengan instingnya membalas serangan itu dengan gesit dan lihai terlihat sekali bahwa dirinya berpengalaman.


Saat Rian merasa kelelahan karena dia melawan semua preman itu sendiri, tiba-tiba dari arah belakang satu preman berhasil mengambil kesempatan dengan menebas lengan Rian hingga Rian terluka cukup parah.

__ADS_1


"Akhh...!" rintihnya dengan memegang lengannya.


Saat mereka ingin menyerangnya lagi, saat yang tepat orang kepercayaan yang dihubungi Rian akhirnya datang juga dengan menggunakan motor sport besar.


Lelaki itu membantu Rian melawan para preman itu, tak berapa lama akhirnya mereka dapat dikalahkan juga dan sebagian dari mereka berlari tunggang langgang dan sebagian lain mungkin tewas atau pingsan.


"Rio, kau tidak apa-apa?" tanya Tomi menyentuh pundak Rian yang terlihat pucat.


"Aku tidak apa-apa Tomi.!" kilah Rian.


"Tidak apa-apa bagaimana?, kau terluka biar aku obati dulu lukamu." kata Tomi.


"Aku tidak apa-apa, lebih baik kau antar aku ke vila karena aku merasakan sesuatu yang tidak enak pada adikku."ucap Rian dengan nada pelan.


"Aku akan mengantarmu, tapi kau harus obati lukamu dulu kalau tidak kau tidak akan mungkin kuat sampai kesana." ucap Tomi dengan nada khawatir.


Rian diam saja membuat Toni segera bertindak, "Ayo Rian cepat jangan lama berfikir."


Tomi langsung memapah Rian yang lemah, entah kenapa Rian menjadi selemah ini padahal dia pernah terkena tembakan namun dirinya baik-baik saja tapi ini dia hanya terkena sabetan parang tapi dia sudah begini seperti tidak ada tenaga. Rupanya Edgar dengan licik sudah memerintahkan para pengawal nya untuk memberikan racun pada semua senjata para preman itu. Alhasil Rian jadi merasakan efeknya.


Tak lama kemudian Rian pingsan sebelum dia menuju motor.


"Rian, bangunlah kau kenapa?" Tomi bertambah panik saat melihat Rian yang pingsan dengan wajah yang sangat pucat.


"Sial, siapa yang melakukan ini?" ucap Tomi dengan geram mengetahui bahwa Rian terkena racun.


Karena Tomi tidak bisa membawa Rian dengan motornya dan mobil Rian pun mogok maka dia menyetop sebuah truk yang melintas.


Dia meletakkan Rian dipinggir jalan dan menyetop truk itu dalam jarak yang tidak terlalu dekat.


Supir truk itupun menghentikan truknya dengan mendadak karena kaget sudah berfikiran bahwa dirinya terkena begal karena dia hanya sendiri.


Tomi lalu menuju sang supir dan berkata, "Pak tolong kami teman saya terluka tolong bawa kami kerumah sakit." pinta Tomi dengan memohon. Tapi karena sopir itu masih takut dia pun diam saja.


"Pak tolong saya, bawa teman saya kerumah sakit, saya bukan ingin memalak bapak." Tomi berbicara dengan keras seakan tau yang dipikirkan sopir itu.


Sopir itupun mengerjap mendengar suara Tomi yang sepertinya benar, dia lalu membuka pintu dan turun dan mengikuti Tomi untuk melihat Rian yang masih terbaring dengan wajah pucat.


"Astagfirullah, mari den kita kerumah sakit." kata supir itu langsung panik melihat Rian yang tergeletak tak berdaya.


Mereka pun membawa Rian kerumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2