
Dion dan Zava berada dalam satu ruangan ranjangnya disekat dengan tirai berwarna hijau tapi karena mereka berdua masih dalam keadaan tidak sadarkan diri maka sekat tirai itu dibuka dan teman-temannya masih berada disitu.
"Sampai kapan mereka terus begini?". tanya Daryna merasa iba melihat Zava dan Dion.
"Kita berdoa saja, semoga mereka berdua cepat pulih." jawab Gilang memandang Zava.
"Kasihan sekali mereka, semoga Allah cepat mengangkat penyakit mereka dan cepat sadar." ucap Salma pelan.
"Terimakasih atas doanya. Tapi sebaiknya kalian pulang karena ini sudah larut malam." kata Kevin bersuara.
"Lalu siapa yang akan menjaga mereka?." tanya Daryna khawatir.
"Tidak perlu khawatir ada aku dan para anak buah tuan Dion. Lebih baik kalian pulang saja, kalian harus kembali keaktifitas kalian kan." jawab Kevin.
"Terutama kau Gilang, terimakasih karena sudah menolong nona Zava dan tuan Dion." Kevin menatap Gilang dengan reaksi berbeda.
"Hey, kalian melupakanku?." tiba-tiba dari arah depan Alvian datang dengan tergesa-gesa.
"Alvian, kau kembali lagi.!" tanya Gilang menatap Alvian heran.
Karena Alvian sebelum dia naik pesawat dirinya dihubungi oleh pihak yang sangat penting sehingga dirinya tidak bisa ikut untuk membantu Dion.
Dan setelah mendapat kabar bahwa Dion terluka dan Zava pingsan dirinya langsung menyelesaikan urusannya dan kembali kesini untuk melihat keadaan Dion dan Zava.
"Bagaimana aku tidak kembali lagi? jika mereka dalam keadaan begini." ujar Alvian, kini nafasnya sudah normal setelah tadi berhenti sejenak.
Lalu Alvian maju untuk melihat Zava dan Dion dari dekat.
Alvian menatap Zava yang matanya masih tertutup lalu tersenyum melihat perubahan wajah Zava, karena dirinya belum melihat wajah Zava setelah operasi dan baru kali ini melihat kembali.
"Dia sebenarnya cantik dan sangat baik tapi sayang sekali nasibnya sangat menyedihkan." ucap Alvian menatap sendu pada Zava.
Daryna dan Wawan saling menyikut tidak mengenali lelaki yang baru saja datang.
Gilang yang menyadarinya segera memperkenalkan.
"Oh iya perkenalkan ini namanya Alvian temanku dan Zava. Alvian kenalkan ini Kevin asisten tuan Dion, ini Salma, Daryna dan Wawan." kata Gilang dengan menunjuk satu-satu temannya dan mereka semua saling mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Gilang, apa mereka baik-baik saja.!" tanya Alvian menatap Dion dan Zava bergantian.
"Aku harap mereka baik-baik saja dan segera cepat sadar." jawab Gilang ikut menatap Dion dan Zava.
Malam pun semakin larut, Alvian pamit undur diri, dirinya harus kembali keluar negri karena mendadak ada urusan penting. Ya semenjak dia diterima bekerja di perusahaan ternama dikota new York Alvian memang super sibuk tapi hari ini dia menyempatkan diri demi gadis sahabat seperjuangannya.
Gilang pun mengijinkan untuk Alvian kembali dia mengerti kesibukannya dan sangat berterimakasih karena telah membantunya.
Lalu disusul dengan Wawan dan Daryna yang memang harus bekerja.
Tak lama kemudian Gilang pun disuruh pulang oleh Kevin. Awalnya Gilang tidak mau dia ingin menemani Zava tapi melihat Salma yang kekeh ingin pulang dengannya dan Kevin juga mendesaknya akhirnya dia pulang juga bersama Salma.
Dan kini diruangan itu hanya ada Kevin beserta para anak buahnya yang berjaga.
****
Disebuah tempat yang sangat indah terdapat banyak bunga disekitarnya juga tanaman ilalang yang tinggi, berdiri seorang pria tampan yang gagah dan berperawakan sempurna. Dirinya memakai baju berwarna putih bersih sangat bercahaya dan pria itu adalah Dion.
Dia kebingungan saat menatap sekelilingnya apakah dirinya berada di surga. Lalu tiba-tiba suara pria muda memanggil dibelakangnya.
"Kak...!"
"Doni... aku rindu padamu, maafkan aku yang tidak pernah menyayangimu maafkan aku yang selalu membencimu tanpa sebab." ucap Dion dengan lirih dan mata berkaca-kaca.
Pria yang dipanggil adalah Doni, dia tersenyum membalas pelukan kakaknya.
"Kak, aku senang sekarang kau mau memelukku dan juga mengakuiku dan aku tidak marah padamu kak jadi jangan menangis." jawab Doni.
Kini mereka melepas pelukannya.
"Andai waktu dapat terulang aku ingin sekali menebus kesalahanku." ucap Dion tertunduk lemah.
Lagi-lagi Doni tersenyum. "Tebuslah kesalahan kakak dengan cara mencintai dan membahagiakan wanita yang sama-sama kita cintai dan jangan sekali-kali menyakiti hatinya, dia sedang menunggu kakak menjemputnya. Jemputlah dia jangan terlalu lama menjemputnya, maka kakak akan menyesal nantinya. Baiklah aku pergi dulu kak!."
Setelah mengatakan itu Doni perlahan menjauh bersama asap yang kian meredup dan menghilang. Dion hanya menatap dengan lirih dan memanggil namanya.
"Doni.. Doni...!"
__ADS_1
Pagi pun menyingsing matahari sudah terbit disebelah timur menampakan kegagahannya yang menghangatkan dunia.
Kevin terbangun karena mendengar suara tuannya yang memanggil nama Doni adik tirinya lalu dia mendekati Dion untuk membangunkannya.
"Tuan.. tuan... tuan bangunlah.!" ucap Kevin dengan mengguncang bahu Dion.
Seketika Dion terbangun, keringat sudah membasahi pelipisnya dan masih dalam keadaan setengah sadar Dion terdiam belum merespon keadaan disekitarnya. Kevin senang karena tuannya sudah sadar diapun memanggil dokter untuk mengecek keadaan tuannya.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Dion.
"Tuan Dion sudah melewati masa kritisnya dan sekarang kondisinya sudah stabil, dia hanya perlu beristirahat dan makan yang cukup." kata dokter tersenyum.
"Terima kasih dok." Dokter tersenyum kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Dimana aku?." suara Dion terdengar masih parau.
"Tuan dirumah sakit." jawab Kevin senang.
"Zava...! dimana dia?." Lalu Dion langsung teringat Zava dirinya hendak bangkit namun Kevin segera mencegahnya.
"Tuan jangan dulu, luka tuan masih basah."
"Aku tidak peduli, dimana Zava?." kekeh Dion.
"Tunggu tuan, biar aku tunjukan dimana nona Zava." lalu Kevin memutar membuka tirai disebelahnya, tampaklah Zava masih terbaring diranjangnya dengan selang infus ditangannya.
"Nona Zava belum tersadar dari kemarin tuan, kata dokter dia mengalami trauma berat sehingga membuatnya sulit untuk terbangun." ucap Kevin dengan sendu.
Dion tak kuasa melihatnya dia kemudian menangis dengan perasaan yang sangat sedih, dirinya teringat dengan mimpi semalam dan teringat akan kata-kata Doni. Lalu dia pun bangkit dari ranjangnya.
Kevin yang terkejut segera membantu tuannya untuk menuju keranjang Zava dan mendudukkannya dikursi. Tanpa meringis ataupun kesakitan setelah operasi itu Dion seperti baik-baik saja dia malah sangat mencemaskan Zava yang terbaring lemah.
"Tinggalkan aku Kevin, aku ingin berdua dengannya.!" ucap Dion pelan.
"Baik tuan, sebentar lagi aku akan menyiapkan sarapan untukmu." ucap Kevin menundukkan kepala, dirinya lalu meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Kevin, Dion menggenggam erat lengan Zava dan menciumnya dengan lembut, tetesan air mata jatuh ke tangannya.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Dion menangis setelah kematian ibunya dan dia sangat sedih melihat kondisi wanitanya yang seperti ini dirinya berjanji akan selalu mencintai dan menyayangi serta membahagiakannya seumur hidupnya.