Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Cerita Kakak Beradik


__ADS_3

Pagi hari sudah menyingsing, Dion sudah bangun terlebih dahulu dan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, sambil menunggu Zava bangun Dion duduk diranjangnya sambil memeriksa laptopnya yang dibawakan Kevin.


Banyak sekali pekerjaan yang menumpuk dikantornya karena Dion sudah absen satu bulan bahkan lebih membuat Kevin yang menanganinya menjadi kalang kabut sendiri.


Dia jadi kasian juga dengan Kevin karena selalu memikirkan pekerjaan dia jadi masih jomblo sampai sekarang.


Tak lama kemudian yang ditunggu akhirnya bangun juga, dengan menggeliatkan tubuhnya dan matanya langsung tertuju pada pria yang kini dicintainya sedang duduk santai diranjangbya sambil memangku laptopnya.


Dia tersenyum sendiri memandangi pria itu yang sedang serius, wajah tampannya yang terkena pantulan sinar matahari membuatnya semakin tampan bak pangeran.


"Kenapa senyum-senyum? aku memang tampan." kata Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya membuat Zava menjadi gelagapan karena ketauan diam-diam telah memandanginya.


"Tidak geer sekali, aku sedang ingin tersenyum saja!" jawabnya mengelak malu.


Dion menutup laptopnya kemudian beranjak dari ranjangnya dan menghampiri gadis itu dengan tersenyum menggoda.


"Benarkah! tapi aku tidak percaya. Aku bisa melihat dari matamu kalau kau mengagumiku." ucap Dion tersenyum smirk.


Zava tersipu malu lalu dia alihkan pandangannya pada sarapan yang sudah tersedia.


"Ee... aku lapar!"


"Kau mau mengalihkan."


"Tidak, aku memang lapar." jawab Zava sambil memegangi perutnya. Karena memang benar dia lapar.


"Baiklah, karena aku pria yang baik maka aku tidak akan membiarkan mu kelaparan." balas Dion dan Zava tersenyum.


Dion mendorong troling makanan itu, banyak sekali menu makanan enak dan sehat yang membuat air liur menetas. Karena makanan ini bukan dari rumah sakit tapi khusus pesanan Dion direstauran mewah.


Zava sampai berbinar melihatnya dan perutnya semakin lapar melihat hidangan tak biasa itu.


"Ini makanan dari rumah sakit." tanyanya heran.


"Bukan, ini makanan khusus untukmu yang kupesan direstauran mewah." jawabnya sambil mengambil makanan untuk disuapi.


"Oh pantas, ini terlihat enak."


"Tentu saja, ayo makan!" Dion menyodorkan sendok berisi potongan sandwist kemulut Zava dan Zava menerimanya dengan senang hati.


"Em... enak! ayo mas juga makan." dengan berbinar Zava sambil mengunyah dan mengambil sendok yang ditangan Dion ingin menyuapi juga.


"Ayo a...!"


Dion tersenyum lalu menyambut suapan itu jadi lah mereka makan sepiring berdua sampai makanan itu kandas.

__ADS_1


"Terimakasih aku kenyang sekali."


"Sama-sama".


"Mas, kapan aku pulang? aku sudah kangen dengan kontrakanku juga teman-teman ku."


"Jika kau sudah pulih benar kau sudah boleh pulang, tapi bukan ke kontrakanmu melainkan kerumahku."


"Hah, mas kita kan belum menikah mana boleh tinggal satu atap."


"Kita memang tinggal satu atap tapi tidak satu kamar, jadi mau tidak mau kau harus tinggal dirumahku mulai saat ini." tekan Dion tak ingin dibantah.


"Lalu barang-barangku?".


"Sudah aku buang semua dan aku sudah ganti yang baru."


"Hah dibuang, seenaknya saja kau membuangnya, disitu kan ada barang pribadiku." Zava mengerucutkan bibirnya kesal, itu malah membuat Dion terkekeh gemas.


"Kau tenang saja, barang pribadimu sudah aku simpan dengan baik." jawab Dion lagi.


Zava terdiam mengingat sesuatu kalung dan jas yang berharga dia simpan ditempat yang pribadi, apakah Dion juga menyimpannya?


tiba-tiba saja hatinya merasa tidak enak karena barang itu dia dapat dari lelaki masa lalunya apakah Dion akan marah?.


"Ti-dak apa-apa!"


tok tok tok


suara pintu terdengar membuat keduanya teralihkan.


"Masuk..."


Masuklah seorang lelaki yang tak lain adalah Rian kakak Zava datang dengan senyum sumringah, dirinya sudah diberi tahu bahwa adiknya sudah sadar sedari malam dan tadinya ingin menengok malam tapi dilarang oleh Dion, Dion berkata besok saja melihatnya.


"Titi...!" panggil Rian pada adiknya.


Yang dipanggil menoleh dan tersenyum senang serta meneteskan air mata.


"Kakak." ucapnya senang.


Rian mendekati, Dion mundur untuk memberi ruang, Rian memeluknya dengan erat dan dibalas oleh Zava dengan mata berkaca-kaca.


"Adikku, kau baik-baik saja!" Rian melepaskan pelukannya dan menatap adiknya.


Zava mengangguk, "Kakak juga, apa kakak baik-baik saja!"

__ADS_1


"Kakak baik-baik saja, kakak sudah ingat semuanya."


"Sudah ingat, alhamdulilah!" lalu Zava melihat luka dilengan kakaknya yang diperban.


"Kakak ini kenapa? kakak terluka."


"Tidak apa-apa! ini hanya luka kecil jangan dipikirkan."


"Em... mungkin kalian butuh waktu berdua, aku tinggal sebentar yah!" kata Dion, merasa dirinya tidak diperlukan dan mengundurkan diri untuk pergi dari situ memberikan kesempatan pada kakak beradik itu untuk berbicara.


"Mas, mau kemana?"


"Aku mau menghirup udara pagi diluar, kalau kau sudah selesai kita menghirup udara bersama." katanya berlalu pergi.


"Terimakasih" ujar Rian, sebelum Dion pergi dan Dion tersenyum mengangguk.


"Ternyata calon suamimu pengertian juga." ucap Rian senang.


"Iya kak!" jawab Zava singkat tersenyum malu.


"Oh iya kak, aku ingin tau apa yang terjadi pada kakak setelah dari rumah sakit itu, karena... saat aku menengok kesana kakak sudah tidak ada dan kakak kecelakaan lalu dibawa pergi oleh seseorang!" tanya Zava diakhir kalimat dia menunduk sedih.


"Setelah dari rumah sakit kakak teringat dengan kalian, dan terburu-buru ingin menemui kalian tapi kakak malah mengalami kecelakaan dan setelah itu kakak tidak ingat apa-apa lagi. Yang kakak tau kakak ditolong oleh seorang pria kaya dan menjadikan kakak sebagai asistennya yang tak lain dia adalah tuan Edgar yang kini sudah tewas."


Rian terdiam sebentar menjeda ucapannya dan geram ketika mengingat bahwa Edgar hanya memanfaatkannya apalagi dia mengetahui bahwa adiknya ingin diperkosa.


"Maafkan kakak Ti, kakak tidak menyangka yang aku kira dia penolong ternyata hanya memanfaatkan kakak saja dan dia juga yang membuat aku masuk rumah sakit hanya supaya kakak tidak bisa menemuimu divila." lanjutnya.


"Iya kak, aku tau tuan Edgar memang ingin menyingkirkan kakak, karena aku sempat mendengar dia berbicara di telfon dengan seseorang tapi aku ketauan dan dia mengejarku dan ingin memperkosaku. Untungnya Dion datang tepat waktu jadi aku masih tertolong." ungkap Zava menceritakan kembali.


"Tapi syukurlah dia sudah tewas dan tidak akan mengganggumu lagi. Tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan keluarga kita setelah itu?." tanya Rian mengingat keluarganya.


Zava terdiam meski sudah berlalu bertahun lamanya tapi kejadian itu masih membekas dihatinya dan seperti baru terjadi kemarin.


"Ayah, ibu dan juga Bayu sudah meninggal dalam kebakaran itu kak, juga... Doni pun meninggal karena tertusuk."


"Apa..??" Dion merasa terpukul mendengar cerita langsung dari adiknya bahwa keluarganya memang sudah meninggal dan dia juga terkejut ternyata lelaki yang suka membela adiknya juga meninggal.


"Aku akan mengantar kakak kemakam mereka. Kakak mau kan?"


"Iya, kakak mau. Tapi kakak tidak menyangka bahwa Doni juga meninggal padahal dia lelaki yang baik." ucap Rian sangat menyayangkan.


"Dan kakak tau siapa Dion itu? Dion adalah kakak tiri dari Doni yang tidak pernah bertemu sampai Doni meninggal." tukas Zava membuat mata Rian membola.


Dan Rian tidak menyangka bahwa dunia ini sempit tapi tidak apa yang penting dia bisa membahagiakan adik satu-satunya.

__ADS_1


__ADS_2