Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Mulut Yang Tak Bisa Diam


__ADS_3

Zava masih menunggu kalimat Gilang yang menggantung.


"Karena apa Gilang?" tanya Zava tak sabaran.


"Eh..!" Gilang terperanjat. "Karena...!"


Zava antusias menunggu kalimat Gilang tapi sebelum Gilang meneruskan Ibu Lusi datang dan menyapa mereka.


"Zava...!"


Zava dan Gilang menengok, "Eh ibu Lusi."


Ibu Lusi mendekati dan mengamati Gilang dengan pandangan menelisik.


"Siapa Zava." ekor matanya sambil melirik Gilang.


Zava berdiri, "Oh! kenalkan bu, dia Gilang teman SMA ku dulu." ucap Zava memperkenalkan Gilang.


Gilang tersenyum kemudian ikut berdiri.


"Iya Bu saya Gilang teman Zava."


"Saya ibu Lusi pemilik kontrakan ini. Oh teman saya kira siapa? makanya ibu samperin."


"Memang ibu kira siapa?" tanya Gilang.


"Ibu kira calon suaminya Zava kesini, makanya ibu mau sapa." kata ibu Lusi santai.


Deg... calon suami.


Dada Gilang langsung berdenyut saat mendengar Zava memiliki calon suami sedangkan Zava meringis tak enak pada Gilang.


"Calon suami." ulang Gilang memastikan dengan raut wajah yang tidak menentu.


Apa aku sudah terlambat? .


batin Gilang


"Iya, semalam calonnya itu main kesini, tidak disangka calonnya itu adalah bos dari anak saya." ibu Lusi tertawa bangga sedangkan Zava tambah tak enak.


"Dan calonnya itu tampaaaan sekali dan sudah pasti kaya raya, hah ibu senang sekali melihatnya." lanjut Bu Lusi kemudian...


"Ya ampun ibu lupa ibu kan mau kewarung mau beli garam, aduh maaf yah saya pergi dulu silahkan lanjutkan." ibu Lusi tertawa malu kakinya melangkah menjauhi Zava dan Gilang.


Setelah kepergian ibu Lusi suasana menjadi canggung mereka kembali duduk.


Gilang menghabiskan minumannya hingga tak bersisa menjernihkan pikirannya yang tiba-tiba panas.


"Haus ya Lang!" tanya Zava yang mengira Gilang kehausan.


"Iya tiba-tiba aku haus,"


"Em... soal ibu Lusi jangan terlalu dianggap serius yah!" Zava meringis saat berkata itu.

__ADS_1


Gilang langsung berpaling pada Zava kata 'jangan dianggap serius' membuatnya merasa terganggu.


"Maksudnya apa Va, memangnya ucapan ibu itu tidak benar." Gilang seperti mendapat angin segar ditengah panasnya gurun pasir.


"Em... bagaimana ceritanya yah! orangnya sih memang ada tapi... itu... ah sudahlah tidak usah dibahas tidak penting juga.!" Zava tiba-tiba menjadi gugup dan bingung, ingin menjawab jujur ataupun tidak kenapa jadi susah begini.


Gilang menjadi ragu saat Zava gugup tapi nanti dia akan memastikannya sendiri.


"Ya sudah tadi kan kamu belum lanjut ngomongnya keburu ada ibu Lusi, tadi kenapa?" ucap Zava mengingat perkataan Gilang yang belum diteruskan.


Gilang menjadi canggung lagi rasanya hilang moodnya untuk mengungkapkan.


"Oh aku lupa mau berkata apa tadi, soalnya diganggu sih!" ucap Gilang beralasan.


"Ah lupa, cepat sekali lupanya! ya sudah eh iya kamu sudah coba nasi kuningku belum." ucap Zava mengalihkan.


"Belum, memangnya kamu membuat itu?".


"Iya itu usahaku sekarang kamu mau coba masih ada kok!"


"Tidak perlu repot-repot Va!".


"Tidak repot kok!" saat Zava ingin masuk mengambilkannya ponsel Gilang berdering dan Gilang mengangkatnya.


"Iya pak, baik pak saya akan segera kesana?" Gilang mematikan ponselnya.


Zava masih menunggu.


"Oh gitu yah! ya udah aku bungkusin yah tunggu disini.".


Zava segera berlari masuk untuk mempersiapkan kotak makan untuk Gilang, Gilang tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Zava.


Tak lama kemudian Zava kembali dengan sudah menenteng kotak makan.


"Ini Gilang untukmu makan." Zava menyerahkan kotak itu pada Gilang dengan tersenyum manis membuat Gilang tak henti memandang, hatinya terasa banyak bunga yang bertebaran.


"Iya terimakasih!" Gilang menerimanya dengan tersenyum juga.


"Ya sudah aku pergi dulu, nanti aku akan kembali." Gilang mengakhiri dan Zava mengangguk.


Gilang pergi menaiki motornya melaju dengan cepat.


*****


Sore hari seperti kebiasaan Zava dia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk besok, karena sudah tau jalannya dia selalu pergi sendiri waktu pertama Wawan yang mengantar karena dia tidak tau setelah itu dia pergi sendiri dan tidak mau merepotkan orang lain.


Saat membuka pintu alangkah terkejutnya dia mendapati Dion sudah berdiri didepan pintunya dengan tatapan dingin sambil tangannya dimasukkan kesaku celana.


"Astagfirullah tuan bikin kaget saja!" ucap Zava sambil mengelus dadanya.


"Mau kemana kau?" tanya Dion dingin.


"Aku mau kepasar, ada apa?" jawab Zava sedikit malas.

__ADS_1


"Kau bilang kau lelah, sampai tidak mau mengantarkan makanan untukku tapi sekarang kau ingin pergi." tanya Dion mendekatkan wajahnya tapi auranya masih dingin.


Zava risih, "tuan bisa tidak kalau bicara padaku tidak usah dekat-dekat." kata Zava memundurkan wajahnya.


"Memangnya kenapa suka-suka ku, apa hakmu melarangku?" jawab Dion keras kepala.


Zava mendesah menahan kesal, "Terserah, aku mau pergi!" Zava menggeser tubuhnya untuk pergi tapi tangannya sudah dicekal Dion.


"Kau...!"


"Eh tuan, kapan datang?" tanya ibu Lusi menghentikan ucapan Dion yang tiba-tiba lewat.


Karena ibu Lusi ini termasuk orang yang kepo dan bermulut ember.


Zava ingin melepaskan tangannya tapi Dion malah menggenggam nya erat tak mau melepaskan.


"Baru saja." jawab Dion singkat.


"Oh barusan, oh iya saya kira tadi tuan yang datang siang hari dan mengobrol dengan Zava eh ternyata bukan." mulailah ibu Lusi mengoceh membuat Zava mendesah nafas kasar.


Dion memicing dia sudah tau tapi dia ingin mendengar dari mulut orang lain.


"Siapa? siang tadi aku tidak kesini!" kata Dion.


"Iya memang bukan, tapi temannya Zava lelaki muda tampan juga, dia sedang berkunjung dan mengobrol diluar aku melihatnya kok tuan. Mereka tidak ngapa-ngapain." ucap ibu Lusi membuat Zava merasakan sesak didada.


"Oh jadi dia sudah mengobrol dengan lelaki lain tanpa sepengetahuanku." ucap Dion matanya memandang Zava dengan tersenyum smirk.


"Apa kau mencoba selingkuh dariku?"


Hah selingkuh.


Zava melongo saat Dion berkata seperti itu sedangkan ibu Lusi menjadi tegang dia berfikir akan ada keributan.


"Tuan sepertinya saya harus pulang, maaf mengganggu." ibu Lusi menggigit bibirnya karena takut kemudian pergi.


Dion langsung memandangi Zava dengan pandangan yang aneh menurut Zava.


"Kau selingkuh dariku."


"Apaan sih tuan? memangnya kau siapaku lagi pula dia temanku waktu SMA. Apa salahnya jika dia berkunjung?" ucap Zava bersungut-sungut.


"Kau lupa kemarin aku bilang apa? kau adalah calon istriku." ucap Dion tersenyum smirk dan terus mendekatkan wajahnya.


Jantung Zava jadi berdegup seketika dipikirannya Dion sedang becanda atau apa?"


"Tuan, apa kepala tuan terbentur sesuatu? kenapa tuan bicara seperti itu?" tanya Zava.


Dion segera sadar kemudian berpaling.


"Sudah tak ada siaran ulang, sekarang aku akan mengantarmu, ayo!" tanpa aba-aba Dion langsung menarik tangan Zava membawanya memasuki mobil.


Tentu saja Zava terbawa ingin berontak tapi tidak bisa terpaksa menuruti saja karena bagaimanapun disisi lain hatinya dia merasa nyaman pada Dion.

__ADS_1


__ADS_2