
"Kau... ingin meracuniku?" tanya Dion pada pelayan itu dengan tatapan marah.
"Ti-tidak tuan sungguh!" jawab pelayan itu terbata.
"Lalu minuman apa yang kau berikan padaku? dan siapa yang menyuruhmu? JAWAB.!" teriak Dion membuat pelayan itu semakin ketakutan.?
"I-tu minuman yang sudah diberi obat perangsang tuan dan aku disuruh oleh seorang wanita cantik tapi aku tidak tau siapa namanya." Pelayan itu ditekan oleh Kevin supaya menjawab jujur.
"Obat perangsang." ulang Dion sementara Zava tak mengerti apa itu obat perangsang karena dirinya tidak pernah mendengar obat macam itu.
"Lalu siapa wanita itu?" tanya Dion dengan mengepalkan tangan.
"Aku benar-benar tidak tau siapa namanya tuan? sungguh!" jawab pelayan itu jujur dan pasrah karena sudah pasti dirinya akan dipecat.
"Kau benar-benar pelayan yang tidak berguna hari ini juga kau kupecat." bentak pemilik hotel marah pada pelayan itu membuat Zava menutup mulutnya.
"Kevin, kau cari tau siapa wanita itu? dan bawa dia pergi dari hadapanku." perintah Dion pada Kevin.
"Baik tuan." Kevin pun segera melaksanakan perintah tuannya dengan membawa pelayan itu.
Sedangkan para pejabat dan pemilik hotel itu terdiam beberapa saat.
"Tuan, maafkan atas keteledoran kami, kami janji akan membantu tuan dan membayar kerugian ini." ucap pemilik hotel dengan memohon karena dia tidak ingin terkena imbasnya.
Dion mengangguk, "Lakukan apa yang ingin kau lakukan? dan pergi dari sini." ucap Dion tegas mengusir secara terang-terangan.
"Terimakasih tuan.!" pemilik hotel itu pun pergi juga bersama asistennya.
"Tuan, kalau begitu kami pun turut undur diri karena mungkin urusan kami sudah selesai. Kami minta maaf atas semuanya." ucap salah satu orang penting itu dengan menundukkan kepala hormat.
"Iya pak, aku juga minta maaf atas insiden ini." kata Dion datar meskipun merasa tidak enak.
Mereka pun berjabat tangan dan meninggalkan Dion dan Zava berdua.
Kini hanya tinggal Zava dan Dion saja diruangan itu. Dion membuka jasnya kemudian membuka satu kancing kemeja nya dan melonggarkan dasinya kemudian duduk bersandar disofa demi untuk menghilangkan penat.
Sementara Zava melihat gelas yang masih berserakan hendak membersihkannya tapi Dion sudah menghentikannya.
__ADS_1
"Hey, mau apa kau?" tanya Dion tapi matanya terpejam.
"Ah aku hanya ingin membersihkan gelas ini." jawab Zava.
"Biarkan saja, kau pikir disini tidak ada yang membersihkan, lebih baik kau duduk disini aku ingin bertanya padamu?" ujar Dion menepuk bangku kosong disampingnya.
Zava pun menuruti dengan duduk disamping Dion.
"Kau tau dari mana bahwa ada orang yang ingin mencelakaiku." tanya Dion menatap serius pada Zava.
"Aku tidak sengaja melihat mereka sedang merencanakan sesuatu yang ternyata menyebut namamu, maka dari itu aku menguping lalu aku minta bantuan dan selanjutnya kau juga melihat sendiri." ungkap Zava menceritakan dengan detail.
Dion tersenyum tipis, "Seharusnya kau biarkan saja aku meminumnya."
Zava mengerutkan alisnya bingung, "Kenapa begitu? seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah menggagalkan niat jahat mereka." timpal Zava kesal.
"Tapi kenapa aku jadi menyesal yah sekarang? setelah tau yang dimasukkan itu adalah obat perangsang." kata Dion menyilangkan tangan didada.
"Loh kok menyesal." Zava semakin bingung.
"Memangnya obat perangsang itu apa? itu berbahaya kan." lanjutnya tak tau.
Zava semakin tidak mengerti. "Tuan, kalau ingin memberi penjelasan itu yang jelas dong jangan berbelit-belit seperti ini, karena aku tidak tau maksudmu." oceh Zava bersungut semakin membuat Dion ingin menggodanya.
"Jadi kau tidak tau apa itu obat perangsang!" tanya Dion tersenyum smirk.
"Ya aku memang tidak tau itu obat apa?, yang pasti aku khawatir padamu tapi kenapa kau malah bilang menyesal." sungut Zava kesal pada Dion.
Dion terkekeh kemudian mendekatkan wajahnya pada Zava sedangkan Zava memundurkan wajahnya sampai bersandar tapi Dion malah semakin mendekat dan mengukung Zava dengan kedua tangannya.
"Obat perangsang itu adalah obat dimana seseorang akan tidak tahan dengan gejolak gairahnya dan ingin segera menuntaskan hasratnya seperti berhubungan badan antara pria dan wanita. Kau mengerti sekarang." terang Dion, pipi Zava mendadak memerah setelah tau apa itu obat perangsang.
"Lalu kenapa kau menyesal? kan kau jadi terhindar dari perbuatan zinah." tutur Zava yang masih berada dikukungan Dion.
"Karena aku tidak bisa menikmatinya denganmu." ucap Dion asal tapi gairah kelelakiannya tiba-tiba meningkat.
Sial kenapa aku malah ingin melakukannya sungguhan.
__ADS_1
batin Dion merasa sesak dibagian bawah.
Zava terkejut kemudian langsung mendorong dada Dion dan menjauh darinya serta menutupi bagian depannya dengan kedua tangan.
"Hey, jangan macam-macam ya tuan. Aku akan marah dan membencimu jika kau melakukan itu." kata Zava kesal.
Dion mencoba meredam dan menahan hasratnya karena dia tidak ingin menodai gadis yang dicintainya sebelum dinikahinya. Kemudian Dion mengalihkan dengan tertawa.
Hahaha.
Tentu saja itu membuat Zava menjadi bingung kembali, kenapa Dion malah tertawa?.
"Hey, kenapa kau malah tertawa apa yang lucu?"
"Kau yang lucu, aku tidak menyangka reaksimu akan seperti ini." kata Dion masih tertawa.
Zava kesal karena dirinya merasa dikerjai dan malah ditertawakan, Zava beranjak berdiri tapi Dion menahan tangannya sehingga membuat Zava duduk kembali tapi malah terduduk dipangkuan Dion.
"Hey, lepaskan !" berontak Zava reflek menggoyangkan pinggulnya. Tapi Dion malah mengeratkan pelukannya.
Dion yang tadi sudah meredam hasratnya kini kembali menegang karena Zava terus bergerak.
"Zava jika kau tidak berhenti bergerak, maka kau akan membangkitkan sesuatu dan kita malah benar-benar menikmatinya." bisik Dion parau membuat Zava seketika langsung berhenti bergerak dan dia juga merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.
Kemudian Zava menatap wajah Dion yang sudah memerah karena menahan hasratnya begitu juga dengan Dion menatap wajah Zava dengan intens.
Dion malah memandangi bibir Zava, entah setan dari mana Zava malah terdiam seperti terhipnotis karena terpesona dengan wajah tampan Dion apalagi memandangi dengan jarak yang begitu dekat.
Dion kini semakin mendekatkan bibirnya dan tak lama bibir itu menempel, Dion yang tak tahan mencium bibir itu dengan lembut kemudian Zava tersadar karena bibirnya tersentuh Dion, Zava ingin mendorong dada Dion untuk menghentikannya tapi Dion malah menahan tengkuk Zava dan lebih memperdalam pagutannya.
Zava pun pasrah karena tenaganya tidak kuat menahan Dion. Lalu tak lama kemudian Dion melepaskan pagutannya mereka pun bertatapan.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa menahannya. Lain kali kau jangan menggodaku." kata Dion.
Zava merengut kesal, "Kenapa jadi aku yang menggodamu?".
Dion terkekeh kemudian, "Anggap saja itu adalah hukumanmu karena tadi memukulku."
__ADS_1
Zava tambah kesal mendengarnya kemudian dia memalingkan wajahnya dari Dion.