
Salma berjalan ragu dengan wajah tertunduk tak mampu menatap didepannya. Dengan ditemani Umi dan kakaknya, Salma akhirnya sampai di teras depan rumahnya yang mana yang dia tangkap dari pendengarannya sangat bising sekali.
Kenapa seperti ada banyak orang? pikirnya begitu tapi wajah tetap tak mampu untuk menatap kedepan sampai Salwa menyenggolnya lengannya.
"Wah Salma, lihat banyak sekali orang yang datang dia benar-benar melamarmu dengan tidak biasa semuanya ada dan bahkan tunggu... bukankah itu bos besar dari Wijaya grup. Wah keren sekali." oceh Salwa antusias senang.
Mendengar kata bos besar Wijaya grup dia terperangah dia heran apakah Dion datang juga kesini, karena penasaran Salma pun langsung mendongakkan wajahnya dan seketika itu juga matanya membulat sempurna dengan tangan yang menutup mulut tak percaya.
Apa yang dilihatnya?
Hampir pingsan rasanya karena ternyata laki-laki yang melamarnya yang berhadapan dengan abahnya adalah laki-laki yang didambanya selama ini laki-laki yang dia cintai yaitu Gilang.
Kejutan indah dan luar biasa baginya, sungguh dia tidak menyangka Gilang dengan tersenyum tulus memandangnya tanpa ada kepalsuan dan keraguan seperti yang dia lihat sebelum-sebelumnya kini dia mampu membuat hati Salma penuh dengan bunga dan jantungnya langsung berdetak tak karuan.
Disamping Gilang ada Zava dan juga Dion yang membantu mengiringi langkahnya dan Dan dibelakangnya lagi ada Daryna, Wawan, Ryan, Kevin dan bahkan ibu Lusi pun ada serta jajaran para guru disekolahnya.
Zava melihat Salma yang terbengong, lalu dia menghampirinya.
"Salma...!" panggil Zava lembut.
"Kak Zava." Salma terbaru langsung memeluk Zava dengan erat.
Kata mata semua orang teralihkan pada Zava dan Salma yang sedang berpelukan. Dion dan Gilang tersenyum melihatnya.
Mereka pun melepaskan pelukannya, "Salma, sudah jangan sedih lagi yah! pangeranmu sudah datang menjemputmu." kata Zava sambil menyeka air mata di pipi Salma yang tiba-tiba turun.
"Kakak, apa ini mimpi? aku benar-benar tidak percaya ini." ujar Salma.
Zava tersenyum, menatap umi dan Salwa, "Ini kenyataan Salma. Coba lihat pangeranmu tampan kan." ujar Zava menunjuk Gilang yang ditunjuk langsung tersenyum.
aww...
Secara tiba-tiba Salwa mencubit lengan Salma membuat siempunya mengaduh.
"Kakak... sakit." keluh Salma cemberut.
"Nah! berarti ini bukan mimpi."
Semua pun terkekeh melihat kelakuan dua kakak beradik itu.
"Salma.... kesini nak!" panggil abahnya untuk duduk disamping abahnya.
Suami Salwa menyingkir agar Salma menduduki tempatnya.
"Ayo sayang dipanggil Abah!" kata uminya.
Salma mengangguk, dengan malu-malu Salma berjalan mendekat diikuti ketiga wanita tadi.
__ADS_1
Saat sampai jantung Salma semakin deg-degan dia malu untuk menatap Gilang yang kini sangat dekat dengannya.
"Ayo duduk!" Abah mempersilahkan Salma duduk disampingnya berhadapan langsung dengan Gilang.
"Nak, dia datang untuk melamarmu, apa kau mau menikah dengannya?" kata Abah dengan bertutur pelan namun tegas.
Salma mengangguk mengiyakan tanpa suara dan semua pun tersenyum senang apalagi Gilang yang tidak menyangka bahwa Salma masih mau menerimanya setelah apa yang dia lakukan.
Gilang pun mengucap syukur dalam hati.
"Terimakasih Salma sudah mau menerimaku." ucap Gilang pada Salma.
Mendengar kata terimakasih yang tulus membuat pipi Salma menghangat diapun mengangkat wajahnya dan pandangan mata mereka langsung bertemu.
Seketika Gilang merasakan sesuatu yang aneh ternyata benih cinta itu muncul dihatinya saat memandang lekat mata Salma, Gilang baru menyadari ada ketulusan terdalam Dimata dan hati Salma yang tidak pernah dia tau.
"Ehem...!" suara deheman membuat keduanya tersadar dan salah tingkah.
"Jadi kapan diputuskan untuk acara pernikahannya." Dion berucap dengan pelan tapi tetap tegas.
Abah sangat tersanjung dan segan dengan kedatangan Dion kepesantrennya, meski lebih muda darinya Abah bisa melihat aura Dion yang begitu memancar sehingga membuat orang disekelilingnya menjadi segan terhadapnya.
"Secepatnya pak Dion." jawab Abah ramah.
"Baiklah, bagaimana kalau lusa!" ucap Dion asal membuat Gilang dan yang lain membulatkan matanya.
Gilang pun berbisik di telinganya.
"Hey, kalau ini pernikahanmu silahkan saja besok lusa. Tetapi ini pernikahanku yang perlu waktu untuk mempersiapkannya."
"Kau tidak percaya padaku, biarlah anggap saja aku membantumu." kata Dion tapi tidak berbisik sehingga terdengar oleh Abah dan yang lain.
Zava mencubit lengannya kecil sehingga Dion langsung menoleh.
"Aww.. ada apa?"
"Mas ini, jangan sombong begitu." kata Zava tidak enak.
"Aku bukan sombong, aku hanya membantunya untuk mempersingkat waktu terlebih lagi supaya dia cepat melupakanmu." ucap Dion yang terakhir berkata pelan.
Zava memutar bola mata malas, sudah jelas Gilang ingin menikah saja Dion masih saja cemburu.
"Pak Habib tenang saja untuk pernikahan anak pak habib dan temanku, biar orang-orang ku yang mengurus. Anggap saja ini sebagai hadiah untuk pernikahan mereka berdua." ucap Dion lagi membuat keluarga Abah tersenyum.
"Wah apa benar kau ingin mengurus semua biaya pernikahanku?" tanya Gilang tak percaya.
"Kau meragukan ku?" balas Dion memandang Gilang dengan wajah datar.
__ADS_1
"Baiklah, aku percaya padamu. Terimakasih!" ujar Gilang senang. Salma pun ikut senang mendengarnya.
****
Acara lamaran pun selesai, Dion Zava dan Gilang beserta keluarga Abah sedang berunding tentang masalah pernikahan.
Daryna dan Wawan serta ibunya sudah pulang sedari tadi karena ada urusan lain.
Sedang Rian dan Kevin sedang berkeliling menyusuri pesantren, pesona mereka berdua tidak kalah dengan tuannya mereka berdua juga sama-sama tampan dan berkarisma.
Sejauh mereka berkeliling, tatapan para gadis juga tidak ketinggalan, mereka berbisik-bisik membicarakan kedua pria tampan itu.
Tatapan kagum dan terpesona terus mereka lontarkan dengan senyum malu-malu bahkan ada juga ustadzah yang memandangi dengan tersipu malu.
"Lihat! betapa tampannya diriku, sampai para gadis dan para ustadzah terpesona denganku." ucap Rian dengan bangganya.
"Kau jangan percaya diri, memangnya hanya ada dirimu saja, aku bahkan lebih tampan darimu." balas Kevin datar namun menusuk.
"Hey ternyata kau iri. Hahaha lucu sekali tapi tetap saja kau terlihat kaku. Kalau kau begini terus kau akan terus jomblo tersenyumlah pada para gadis seperti ini." ucap Rian tertawa dan menunjukkan ekspresi senyum yang menyebalkan menurut Kevin.
"Kau tidak perlu mengajariku." balas Kevin meninggalkan Rian.
"Hey, kau mau kemana? tunggu aku." Rian balas mengejarnya.
Begitulah percakapan singkat dua pria tampan namun masih jomblo, akankah mereka bertemu dengan jodohnya? tentu saja setiap manusia di dunia itu berpasangan meski pasangannya diakhirat sekalipun.
****
Zava dan Dion sedang bersantai, masih divila milik Dion rupanya Zava betah berlama-lama disana bahkan Zava ingin tinggal disana lebih lama karena suasananya yang sejuk dan asri sungguh alam impiannya.
Dan kini mereka sedang berada di ayunan besar dimana Zava berada dipangkuan Dion dipeluk manja oleh suaminya sungguh kebahagiaan yang hakiki.
Zava tidak pernah merasa sebahagia ini, ini adalah berkah dari Allah atas kesabarannya selama ini.
"Mas, terimakasih yah atas semuanya! aku senang sekali bisa memilikimu." ucap Zava memandang suaminya mesra.
"Aku juga berterima kasih padamu karena kau mau menjadi istriku." balas Dion memandangi mesra juga.
Mereka berdua pun saling tersenyum bahagia lalu memeluk satu sama lain sangat tergambar diwajah masing-masing kelegaan hati dan ketenangan jiwa membuat hati merasa bahagia dan senang.
Berbahagialah wahai kalian yang telah berhasil melewati badai dan menempuh perjalanan jauh yang melelahkan.
Ingatlah tuhanmu dan jangan pernah putus asa.
______
TAMAT
__ADS_1