
Setelah Zava dan Rian berbincang-bincang datanglah Gilang dan kawan-kawan untuk menjenguk Zava karena mendengar Zava sudah sadar dan Dion belum kembali.
Daryna yang pertama membuka pintu dengan antusias. "Zava....!"
Yang dipanggil menoleh dan tersenyum.
"Daryna.." ucapnya pelan.
Rian mundur saat Daryna memaksa mendekati Zava dengan merentangkan tangannya lalu memeluk gadis itu.
"Zava... aku rindu sekali denganmu!"
"Aku juga!"
"Kau sudah sembuh kan, aku khawatir sekali." ucap Daryna kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya aku sudah sembuh."
"Dan ini khusus untukmu. Makanan dari negaraku dicoba yah" Daryna memberikan makanan khas dari negaranya.
"Wah!! terimakasih ini pasti enak." lalu matanya menangkap Salma yang menunggu giliran.
"Salma.." panggil Zava dan Salma tersenyum mendekati.
"Kak Zava, alhamdulilah kakak sudah sadar, ini aku bawakan buah-buahan untuk kakak." kata Salma merasa canggung.
"Terimakasih, kenapa repot sekali?" Zava tetap menerimanya dengan senang hati.
"Bagaimana keadaan kakak?"
"Seperti yang kamu lihat, aku sudah baik-baik saja."
Lalu Wawan mendekati, "Zava, bagaimana keadaanmu?. Ibuku selalu menanyakan mu dan dia sampai membuat ini untukmu." kata Wawan sambil memberikan bingkisan kue lapis buatannya.
"Ya ampun maafkan aku merepotkan ibumu. Tapi ibumu tidak ikut."
"Tidak apa-apa ibuku malah senang. Ibuku hanya bisa titip salam dan tidak bisa kesini karena ada urusan lain." jawab Wawan.
Lalu tibalah giliran Gilang yang maju sambil membawa buket bunga.
"Hay, Zava aku senang kau sudah sadar. Ini untukmu." ucap Gilang sambil menyerahkan buket bunga itu.
Zava menerimanya dengan perasaan biasa saja berbeda dengan Gilang yang masih kentara diwajahnya bahwa lelaki itu masih menyimpan rasa.
"Terimakasih," lalu Zava mencium bunga itu, "Harum sekali bunganya aku suka!".
Rian yang diam mengamati Gilang dengan seksama, dia bisa melihat bahwa Gilang menyukai adiknya, tapi dia juga melihat perempuan berhijab yang tidak dikenalnya sedang memperhatikan cara Gilang berbicara dengan Zava dan Rian juga bisa melihat bahwa wanita itu yang tak lain Salma sedang menahan perasaannya.
Saat mereka sedang bercengkrama datanglah Dion dengan asisten Kevin dan pandangan Dion langsung tertuju pada buket bunga mawar yang sedang dipegang Zava.
Dia sudah menduga bahwa bunga itu pasti dari Gilang.
__ADS_1
"Ehem... " Dion berdehem, sontak mereka semua menengok dan menyingkir.
Mereka tidak takut hanya saja merasa segan pada bos perusahaan besar itu.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Dion datar, namun bagi mereka terasa seperti mengintimidasi.
"Eh.. Zava sepertinya kita sudah selesai, kami pamit pulang dulu yah!" Daryna yang merasa tidak enak segera menggandeng lengan Salma untuk segera pergi.
"Iya Zava, sepertinya kita sudah selesai. Ayo teman-teman kita pulang." Wawan pun menambahi dan mengikuti Daryna dan Salma yang berjalan duluan.
Gilang masih ditempat belum beranjak sama sekali sepertinya ingin melihat reaksi Dion seperti apa.
"Kau, kenapa masih disini?" tanya Dion pada Gilang yang malah pandangannya masih tertuju pada Zava.
"Aku, tentu saja ingin melihat keadaannya." jawab Gilang santai.
"Kau sudah melihatnya kan dia baik-baik saja, jadi cepatlah pulang." ucap Dion datar.
Gilang menghela nafas, "Zava lihatlah belum apa-apa aku sudah diusir." kata Gilang seperti merengek pada Zava.
"Eh...!" Zava bingung ingin menjawab apa.
"Hey, dengar aku dan dia sebentar lagi akan menikah. Jadi kau jangan berharap padanya."
timpal Dion, seperti sengaja ingin memberi tahu bahwa Zava adalah miliknya.
"Oh... kau mau menikah! baguslah jika kau ingin menikahinya maka jangan menyakitinya. Jika aku melihatmu menyakitinya maka bersiaplah berhadapan denganku." balas Gilang berusaha tenang, namun kenapa dihatinya terasa begitu perih? seperti ada hati yang tak ikhlas. Apakah karena gadis itu belum mengetahui bahwa dirinya mencintai gadis itu.
"Kau tenang saja, percayakan padaku." ucap Dion tegas.
"Kalau begitu kakak juga mau kembali kekamar kakak ya Ti". disusul Rian yang ikut keluar juga.
"Iya kak, oh iya ini untuk kakak." Zava memberikan sebagian pemberian dari teman-teman nya untuk kakaknya.
"Benarkah, terimakasih." Rian menerimanya dengan senang hati.
"Tunggu..!" sela Dion sebelum Rian pergi.
Dion mengambil buket bunga dari Gilang membuat Zava ingin protes tapi melihat tatapan Dion yang mengisyaratkan untuk jangan membantah Zava pun tak jadi protes.
"Ini ambil juga untukmu, dia tak butuh ini."
Rian mengerutkan alisnya menerima bunga itu, "Kenapa kau memberikannya padaku ini kan untuk adikku." ucap Rian asal.
"Aku bahkan bisa membelikannya toko bunga untuk adikmu tanpa harus diberikan oleh pria lain." ucapnya kesal.
Rian menahan tawanya, dia tau bahwa Dion tak suka tapi dia malah senang menjahilinya.
"Baiklah, aku terima." Rian mengambilnya tapi malah memberikannya pada Kevin.
"Ini untukmu saja."
__ADS_1
Kevin sedikit melongo tapi masih berusaha tetap tenang
"Kenapa jadi aku?"
"Kau kan jomblo, mungkin saja kau butuh bunga." ucapnya mengerlingkan matanya kearah Kevin dan berlalu pergi
Kevin hanya diam tak bereaksi dan tak menanggapi.
"Ehem.." Dion berdehem.
Seperti mengerti diusir secara halus Kevin pun pergi juga.
"Maafkan saya tuan, kalau begitu saya permisi."
Zava bingung kenapa Kevin malah meminta maaf tapi dia tetep tersenyum menanggapinya.
Semua orang pun telah pergi, kini hanya ada Dion dan Zava berdua, Dion mendekati Zava dan dia malah mendekatkan wajahnya sangat dekat sehingga Zava harus mundur sampai bersandar didinding.
"Ada apa? kenapa mas melihatku begitu?" tanya Zava merasa risih dengan tatapan Dion.
"Kenapa kau menerima bunga dari pria lain?" tanya Dion mengintimidasi.
"Ah, karena aku suka bunga." jawab Zava polos tak tau ada hati yang terbakar.
"Kenapa? apa aku tidak boleh menerima bunga."
"Tidak boleh, apalagi itu dari seorang pria."
"Tapi dia temanku."
"Apa kau tidak bisa melihat? bahwa dia menyukaimu." ucap Dion memancing.
"Siapa? Gilang menyukaiku. Itu tidak mungkin kami hanya berteman sejak SMA." Zava merasa lucu mendengarnya, dia tidak percaya jika Gilang menyukainya.
"Jadi kau tidak percaya, jika lelaki itu menyukaimu. Kau tidak bisa melihatnya." tanya Dion terus memancing Zava.
Zava menggeleng yakin. Karena Zava memang tipe gadis yang tidak peka soal perasaan dan jika orang itu tidak menyatakannya maka sampai kapanpun dia tidak akan pernah menganggap bahwa pria itu menyukainya.
"Hah, ternyata kau tidak peka yah! tapi apakah kau menyukainya?" kini Dion malah bertanya balik tentang perasaan Zava pada Gilang.
"Aku... tidak menyukainya, jika aku menyukainya.. kau mau taruh dimana? apa kau mau dipoliandri" ucap Zava meledek Dion dengan senyum genitnya.
Dion tersenyum miring merasa tertantang dengan perkataan Zava.
"Jadi kau mau memiliki suami lebih dari satu." ucapnya semakin mendekatkan wajahnya.
"Ah.. mau saja kalau kau ijinkan." balas Zava terkekeh.
"Baiklah, maka langkahi dulu aku! dan aku pastikan tidak akan ada yang memilikimu selain diriku." bisiknya ditelinga Zava membuat gadis itu merinding seketika.
"Em.. kalau..." Dion langsung membungkam mulutnya dengan bibirnya membuat gadis itu kaget dan melebarkan matanya.
__ADS_1
"Jika kau berbicara seperti itu lagi, maka kesucianmu akan aku ambil sebelum waktunya". ucap Dion serius dan Zava langsung mengangguk takut.
Dion pun tersenyum melihat ekspresinya.