Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Ingat Kembali


__ADS_3

"Zava bangunlah, aku disini aku akan selalu menunggumu. Ku mohon bangunlah". ucap Dion disela tangisnya berhenti sejenak untuk menyeka air matanya.


"Kau tau kau adalah wanita pertama yang berhasil membuatku menangis, bahkan aku seperti tidak ada harga dirinya didepanmu, karena aku begitu mencintaimu. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah tertarik padamu dan semakin kesini aku semakin mencintaimu. Tolong bangunlah demi aku." ucapnya lagi dengan sangat lirih dan menundukkan kepalanya.


Masih tak ada pergerakan dari Zava, dia masih nyaman dengan tidurnya entah kapan akan bangun.


Dion terus memandanginya sambil terus mencium punggung tangannya. Dion yang kuat kini terlihat lemah didepan wanitanya.


Sudah hampir 30 menit Dion tak juga beranjak ataupun bergerak, Kevin yang melihatnya dibalik pintu merasa sangat iba karena baru kali ini melihat tuannya rapuh setelah kematian ibunya.


Tapi dirinya tidak bisa menahan lagi saat ingin membuka pintu Kevin dipanggil oleh anak buahnya sehingga mengurungkan niatnya untuk masuk dan menyuruh tuannya untuk makan.


"Tuan, ada berita yang ingin saya sampaikan.!" ucap pengawal kepada Kevin.


"Berita apa? cepat beri tahu." jawab Kevin.


"Begini tuan, saya mendapat laporan bahwa kakak dari nona Zava juga masuk rumah sakit ini, dan keadaannya sedang kritis, dia terkena racun oleh preman suruhan tuan Edgar yang sengaja menghadangnya saat dia ingin menemui adiknya." ucap pengawal panjang lebar memberi tahu pada Kevin.


Kevin menanggapinya dengan raut wajah yang tak terbaca namun dirinya tentu tidak akan diam saja.


"Baiklah, beri tahu aku dimana dia dirawat."


"Mari ikut saya tuan."


Kevin pun berjalan mengikuti pengawal itu untuk mencari tau keadaan kakak Zava dan sekaligus ini akan ia beri tahu pada Dion nantinya.


Sampailah mereka diruang dimana Rian sedang dirawat, Kevin menghampiri dan kebetulan seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"Dokter, tunggu sebentar." Kevin menghalangi dokter itu pergi.


"Iya, ada yang bisa saya bantu." dokter laki-laki paruh baya itu bertanya ramah.


"Em.. saya mengenal pasien itu, bagaimana keadaannya?".


"Anda keluarga dari pasien ini?".


"Iya dok, kebetulan adik dari pasien itu sedang dirawat di rumah sakit ini juga. Jadi bagaimana keadaannya dok." tanya Kevin.


"Keadaan pasien kini mulai stabil, untungnya racunnya tidak terlalu dalam dan belum menyebar kemana-mana jadi pasien masih bisa diselamatkan." tutur dokter itu.


"Syukurlah dok, lalu kapan dia akan tersadar."


"Tidak lama jika obatnya sudah menjalar, maka pasien akan segera tersadar."


"Terimakasih dokter,."


"Sama-sama kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


"Iya dok silahkan!".


Kemudian dokter itu pun pergi, Kevin melirik sebentar tidak ada yang menjaga Rian dia masuk untuk memastikannya.


Tak lama Kevin memandangi Rian yang masih menutup mata dia keluar lagi lalu menutup pintu dan segera pergi.


****


"Tuan, sudah sedari tadi tuan disini saja, makanlah dulu aku sudah membawakan makanan untuk tuan." ucap Kevin datang dengan membawa troli berisi makanan sehat.


"Bagaimana aku bisa makan Kevin kalau melihatnya seperti ini?" jawab Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari Zava.


"Justru kau harus tetap makan tuan, supaya kau tetap kuat untuk menjaga nona Zava, jika tuan lemah seperti ini maka siapa yang akan menjaganya." bujuk Kevin.


"Aku tidak mau makan Kevin." tekan Dion kekeh.


Kevin lalu berfikir sejenak supaya tuannya mau makan, setelah mendapat ide dia langsung mengutarakannya.


"Baiklah kalau begitu, biar aku menyuruh Gilang saja untuk melindungi dan menjaga nona Zava." ucap Kevin sengaja dan langsung membuat Dion menatapnya tajam.


"Kau mencoba merayu atau meledekku." ucap Dion tajam.


"Em... dua-duanya tuan. Makanlah tuan."


Tanpa menjawab lagi Dion beranjak dan memakan makanan yang dibawa asistennya dengan lahap.


****


Rian membuka matanya perlahan, sinar matahari dari ventilasi celah-celah kaca membuatnya menyipitkan mata dan pelan-pelan mata itu terbuka sempurna.


Tomi sang teman yang sejak pertama menemaninya lega melihat pergerakan dari Rian. Dia lalu memanggilnya.


"Rio, kau sadar." ucap Tomi dengan mata berbinar.


Rian segera mengumpulkan tenaganya untuk bangun dari ranjang itu namun terasa nyeri dan Tomi mencegahnya.


"Tunggu bro, kau baru sadar."


"Dimana aku?."


"Kau dirumah sakit."


"Rumah sakit," ucapnya pelan lalu dirinya teringat bahwa keluarganya sedang mendapat musibah, buru-buru dia ingin bangun.


"Ayahku, ibu ku adik-adik ku. Aku harus menemui mereka." ucap Rian membuat Tomi mengerutkan alisnya.


"Keluargamu, Rio apa kau sudah ingat." tanya Tomi.

__ADS_1


"Rio, aku Rian bukan Rio?". tanya Rian lagi merasa aneh pada pria disampingnya ini.


"Aku Tomi temanmu, kau ingat aku" jawabnya menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja kau Tomi. Aku harus menemui keluargaku." Rian memaksa turun dari ranjang karena dirinya sangat mengkhawatirkan keluarganya.


Mau tak mau Tomi melakukan sesuatu dengan menekan tombol emergency didepannya sambil terus menghalangi Rian.


"Tunggu Rio, kau masih sakit kau disini dulu aku akan membantumu menemui keluargamu." ucap Tomi menahan lengan Rian.


"Tidak perlu, biar aku sendiri saja." kekeh Rian dengan tenaganya yang masih lemah.


Lalu tak lama kemudian dokter dan suster datang dan segera menangani Rian yang berontak.


"Hey, kalian mau apa?." berontak Rian.


Dokter kemudian menyuntikkan obat penenang sehingga membuat Rian perlahan-lahan lemas dan tak bertenaga. Rian pun terlelap kembali.


"Dokter, bagaimana?" tanya Tomi.


"Dia sangat kuat sehingga racun dalam tubuhnya keluar dengan cepat." jawab dokter.


"Tapi dok, sepertinya dia ingat kembali dengan masa lalunya tadi saja dia berontak ingin segera menemui keluarganya."


"Baik, saya akan segera memeriksa keadaan itu." Dokter memeriksa dengan lihai keadaan otak Rian dan memang benar ini sebuah keajaiban dimana Rian telah mengingat kembali masa lalunya tanpa melupakan masa depannya.


"Syukurlah, dia sudah ingat. Aku harus beri tahu asisten Kevin." ucapnya memang dia kenal dengan Kevin.


Karena dia tadi sedang sibuk mengurus administrasi Rian, diapun menyampaikannya melalui anak buah Kevin tapi kali ini dia yang akan memberi tahunya langsung.


Sebenarnya juga Tomi termasuk orang yang tahu rahasia Edgar hanya saja dia menyembunyikan rapat-rapat tapi karena dia mendengar bahwa Edgar telah tewas maka dia tidak akan segan-segan untuk membongkarnya pada Rian dan akan menceritakannya setelah Rian sadar.


Dokter juga pergi setelah menjelaskan itu semua pada Tomi.


"Tenanglah kawan, aku akan membantumu." ucapnya menatap Rian dengan sendu.


____________


*Maaf yah baru up, author cuma mau ngucapin terimakasih buat para readers yang udah mau meluangkan waktunya untuk karya remahan author ini .


Beri author saran untuk karya author supaya author bisa memperbaiki kesalahan dalam karya author.


Dan beri semangat serta dukungan untuk novel ini dengan cara like, komen beri hadiah favorit dan Vote nya yah.


Banyak banget mintanya maklum lah author receh.😁😁😁


Salam author

__ADS_1


Titi awy*


__ADS_2