
Zava dibawa keruangan Dion diikuti dengan Kevin. Dion memandanginya dari atas sampai bawah membuat Zava tertunduk tak berani melihat bahkan sekarang ini Zava gemetaran karena Dion memandangnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Memang apa salahnya? sehingga dia harus dibawa kesini.
Dion beranjak dari sofa lalu mendekati Zava dia bahkan tak henti memandang Zava dari atas hingga bawah, tak ada yang menarik sebenarnya. Zava yang berpenampilan tertutup dan tak memperlihatkan lekuk tubuhnya, hijabnya pun sampai menutupi dada tapi sangat terasa saat tadi bertabrakan dengan dada Dion.
Dion juga tidak tau mengapa dia begitu tertarik pada gadis itu apalagi saat melihat matanya, padahal Zava bukan tipenya, tapi dia tak bosan memandanginya. Sampai membuat Kevin heran kenapa malah dipandangi terus hingga asisten itu berdehem untuk menyadarkan tuannya.
"Ehem...!" Kevin berpura-pura batuk dan itu berhasil membuat tuannya jadi sadar karena telah lama memandangi gadis didepannya.
Dion pun merasa malu lalu dia menormalkan kembali sikapnya.
"Ehem..., jadi kau yang telah membuat keributan dikantorku?" tanya Dion datar.
Membuat Zava langsung mendongak dan mata mereka langsung bertatapan membuat Dion berdetak seketika.
"Kenapa jadi aku tuan?, aku hanya mengantar pesanan itu saja!" bela Zava.
"Pesanan." ulang Dion.
"Iya, pesanan nasi kuning untuk karyawan tuan!" jawab Zava mulai tenang.
"Memangnya siapa yang memesan!".
"Bang Wawan...!" jawabnya lugas.
"Bang Wawan " ulangnya lagi namun dengan penekanan.
Zava hanya mengangguk.
"Karena kau telah membuat ulah dan laparku hilang jadi aku akan memberimu hukuman." ucap Dion membuat Zava mengernyit lagi-lagi.
"Tapi tuan, kenapa aku harus dihukum? kan aku hanya berjualan, aku tidak mau menerima hukuman jika alasannya tidak jelas." Zava berpaling berusaha membela diri, memang siapa dia seenaknya saja memerintah.
Aneh sekali tuan ini, kurasa tuan berusaha menjeratnya
batin Kevin melihat pertengkaran kecil itu.
"Oh, jadi kau tidak mau!". seringai Dion
"Tentu saja tidak !". Zava masih bertahan.
Tiba-tiba saja Dion menarik pergelangan Zava dan tanpa aba-aba mencium bibir Zava yang sedari tadi menggodanya membuat Zava melebarkan matanya terkejut begitu juga Kevin yang langsung menundukkan kepalanya terkejut melihat aksi tuannya.
Dion mencium lembut bibir Zava lebih dalam dan menahan tengkuknya dengan tangannya sungguh ini akan membuatnya candu dan dia tidak bisa melepaskannya meskipun Zava sudah memberontak dan memukuli dadanya.
"Emh...!" Zava sudah menangis karena Dion tidak berhenti melepaskannya. Ini memang bukan ciuman pertamanya karena ciuman pertamanya telah direnggut oleh Doni cinta SMA nya walaupun hanya mengecup saja, tapi pria ini lebih dari mengecup dia malah menelusuri semuanya dan yang membuat Zava menangis adalah apakah dirinya tak ada harga dirinya sebagai perempuan hingga ada pria yang berani menyentuhnya.
__ADS_1
Zava pun terpaksa menggigit bibir Dion hingga berdarah guna untuk melepaskan diri dan itu berhasil.
"Aww..." Dion meringis dan melepaskan ciumannya lalu menyentuh bibirnya yang digigit oleh Zava.
"Kau menggigitku.!"
"Itu pantas untukmu tuan karena tidak sopan padaku." jawab Zava menangis.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kau menciumku? tapi aku harap kita tidak akan bertemu lagi." Zava langsung pergi setelah mengatakan itu dia sengaja membanting keras pintu nya untuk meluapkan emosinya.
Tapi itu tak membuat Dion marah dia malah tersenyum menyeringai dibalik pintu dan itu membuat Kevin ngeri.
*Sepertinya tuan sudah menemukan gadisnya dan gadis itu pasti tidak akan lepas dari jeratannya.
Tapi sepertinya aku seperti pernah melihat gadis itu, tapi dimana yah*?.
Kata Kevin yang melihat semua adegan itu dan berfikir untuk mengingat sesuatu. Tiba-tiba...
"Sungguh nikmat, aku pasti akan mendapatkanmu dan kau akan jadi milikku seutuhnya." seringai Dion lagi masih menyentuh bibirnya dan masih membayangkan aksinya itu.
"Eh... tuan apakah anda ingin makan sesuatu!" tanya Kevin saat Dion sudah duduk dikursi kebesarannya.
"Iya, aku ingin makan sesuatu.!" jawab Dion tapi pikirannya entah kemana.
"Memakan apa tuan?" Kevin masih bertanya dengan sadar.
"Aku ingin memakan gadis itu" balas Dion asal bibirnya menampakkan seulas senyum.
"Tuan...!" panggil Kevin.
Seketika Dion tersadar dan segera menatap datar pada Kevin.
"Kenapa kau masih disini?" tanyanya dingin.
"Aku bersiaga untuk memenuhi kebutuhan tuan." jawab Kevin seperti tidak terjadi apapun karena kalau dia membahas maka tamatlah riwayatnya.
"Aku tidak butuh apapun sekarang, lebih baik kau pergi dari sini!" usir Dion pada Kevin dan Kevin menurut saja pergi meninggalkan tuannya yang kemudian kembali tersenyum sendiri.
*****
Zava berlari pelan menuju keluar gedung itu tapi langkahnya terhenti lantaran Wawan melihatnya.
"Zava, kamu kenapa?" tanya Wawan yang melihat Zava seperti habis menangis.
Zava segera menyeka air matanya dan mencoba tersenyum.
"Aku baik-baik saja bang,!"
__ADS_1
Wawan memicing Zava tidak baik-baik saja.
"Kamu bohong yah! habis nangis kan, bos ngapain kamu Va, bilang padaku?" Wawan jadi geram pasti bosnya sudah memarahi Zava sehingga membuat dia menangis seperti ini.
"Tidak apa-apa bang, tuan Dion tidak melakukan apa-apa hanya...!" Zava menggantung kalimatnya tak mungkin dia menceritakan bahwa Dion telah menciumnya.
"Hanya apa?" Wawan mendesak Zava, penasaran.
"Hanya... hanya memarahi saja kok supaya nantinya jangan membuat bising, begitu katanya." elak Zava dan itu berhasil membuat Wawan percaya.
"Maafkan yah Va, gara-gara aku kamu jadi kena marah!" ucap Wawan merasa bersalah.
"Eh tidak ini bukan salah bang Wawan kok, tuan hanya tidak ingin ada kebisingan dikantornya itu saja." jawab Zava tersenyum paksa.
"Benarkah! jadi berarti kita boleh dong pesan makanan lagi sama kamu." Wawan kembali sumringah.
Dan Zava hanya mengangguk tersenyum bingung, yasudah lah yang penting Wawan tidak curiga, pikirnya.
"Ya sudah aku pulang dulu yah!". Zava mengakhirinya supaya tidak ada pertanyaan lagi.
"Baiklah, hati-hati dijalan yah!" kata Wawan.
"Iya,"
Setelah diluar Zava meremas hijabnya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya.
"Akhh... kenapa aku harus bicara seperti itu pada Wawan, aku kan sudah bilang pada tuan menyebalkan itu untuk tidak bertemu lagi, kalau begini bagaimana aku tidak bertemu dengannya, tapi... ini juga sumber penghasilanku.
Akhh... kenapa juga dia menciumku? memangnya aku perempuan apaan yang seenaknya bisa dicium." gerutu Zava sepanjang jalan dia pun menendang kaleng yang didepannya sehingga mengenai kepala seorang bapak-bapak yang sedang berjalan santai.
"Aww...!" bapak itu mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya membuat Zava membisu ditempat karena tendangannya mengenai seseorang.
"Siapa yang sudah melempar kaleng ini!" bapak itu celingukan melihat gelagat orang yang mencurigakan. Dan terlihat Zava yang mempunyai gelagat itu kemudian menghampirinya.
"Kau yah! yang melempar kaleng ini sehingga mengenai kepalaku." tanya bapak itu.
Zava tersenyum meringis, "Benar pak, tapi saya tidak sengaja pak tadinya saya mau melempar binatang tapi kena bapak tapi kena bapak,maaf yah pak!" Zava mengatupkan kedua tangannya memohon maaf dengan memelas dan bapak itu mendesah pelan.
"Hah, untungnya hari ini saya sedang bahagia, maka aku maafkan. Lain kali jangan melempar sembarangan lagi." kata bapak itu kemudian pergi.
"Iya pak, saya janji terimakasih pak dan maaf sekali lagi.!" Zava sedikit berteriak karena bapak itu sudah berjalan.
"Ya ampun aku jadi menyakiti seseorang, semua ini gara-gara situan muda menyebalkan itu." ucap Zava lagi menengadah keatas.
"Hah lebih baik aku pulang!" kemudian pergi menyetop angkot.
Disisi lain diatas gedung itu seorang pria tak henti tertawa karena melihat adegan dibawah yang dilakukan oleh Zava.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Dion, dia berdiri melihat melalui jendelanya dan tak sengaja menonton adegan konyol yang dilakukan Zava sehingga membuatnya tersenyum dan tertawa.
"Gadis itu sungguh konyol.!" ucap Dion matanya tak henti memandang bahkan sampai angkot sudah melaju jauh.