
Perhatian! perhatian! bab ini bab malam pertamanya Zava sama Dion, maaf kalau hanya biasa saja karena otor tidak bisa buat yang vulgar-vulgar.
________
Dion kemudian menciumi leher Zava dengan lembut dan perlahan, tangannya terus menyusuri lengan Zava merasai kulit lembut istrinya.
Tak cukup sampai disitu Dion membalikkan tubuh Zava dia menatap dalam kedua mata Zava yang terbuka.
Awalnya Zava malu untuk membuka matanya dia terus menunduk hingga jari Dion mengangkat dagunya dan menyuruhnya menatap balik matanya yang indah.
"Tatap mataku sayang, lihat aku sekarang aku suamimu kau berhak untuk memandangiku tanpa rasa malu, begitu juga yang berhak atas hidupmu." kata Dion lembut membuat Zava terenyuh mendengarnya.
Karena ini pertama kali untuknya jadi dia pelan-pelan membuka mata dan menatap mata coklat indah didepannya, sungguh ciptaan Tuhan yang sangat indah dia sangat bersyukur dihidupnya yang terbilang biasa saja bahkan dia terlahir sebagai gadis yang jelek dan selalu dibuly serta statusnya yang miskin.
Hidup penuh penderitaan dan pertentangan tapi kali ini dia mendapat hikmah nya, sekarang wajahnya yang sudah cantik tanpa bekas luka itu lagi dan mempunyai suami yang tampan serta mapan, meski Dion dingin dan kejam tapi tidak bagi Zava mungkin sifatnya yang seperti itu agar dia tidak terlihat lemah dimata orang lain terutama musuh-musuhnya.
Sedangkan untuk Zava meski pemaksa dan menyebalkan namun dia sangat lembut dan penyayang terhadapnya juga yang terpenting pria itu sangat mencintainya.
Disaat kedua mata mereka saling bertatapan dalam, memberikan suatu harapan yang besar diantara keduanya.
Dion kemudian memajukan wajahnya dia sedari tadi matanya selain melihat mata istrinya dia juga terus melirik bibir istrinya yang membuatnya candu.
Perlahan namun pasti bibir itu kini bersentuhan memberikan efek yang luar biasa bagi keduanya, Zava memejamkan matanya merasai hal yang kini ia ikhlaskan dan pasrahkan terhadap suaminya.
Lama kelamaan pagutan itu berubah memanas membangkitkan birahi keduanya, Dion melepasnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Jangan salah ini juga pertama untuk Dion dapat merasakan ciuman penuh kasih sayang itu, Dion sangat beruntung memiliki istri seperti Zava yang merelakan kepemilikannya untuknya.
Dengan senyuman Dion membopong tubuh Zava yang setengah polos itu menuju ranjang mereka, kemudian memulai lagi aktifitas mereka yang tertunda tadi.
****
__ADS_1
Malam yang menyenangkan dan penuh kabut gairah kini sedang menyelimuti pasangan pengantin baru itu. Mereka terus bergelung dikeheningan malam yang begitu sejuk tapi panas bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.
Berkali-kali Dion memuntahkan lahar hangatnya kedalam rahim Zava sangat berharap dapat tumbuh kehidupan yang baru diperut istrinya.
Meski lelah tapi mereka bahagia kucuran keringat tak mereka pedulikan yang terpenting bagi Dion adalah Zava sekarang adalah miliknya seutuhnya.
Hingga hampir pagi mereka baru menyelesaikan aktifitasnya rasa lelah menyelimuti dan kini mereka terlelap dengan senyuman tulus ikhlas dan hati yang bahagia sambil memeluk satu sama lain.
Dion mencium kening Zava sambil berucap, "Tidurlah istriku, aku sangat mencintaimu." bisik Dion lembut dan Zava tersenyum.
****
Pagi hari menyingsing, matahari sudah naik diufuk timur, Dion membuka tirai jendela dan menyibaknya sehingga menampakkan sinar matahari masuk kecelah gorden jendelanya.
Membuat gadis ralat wanita yang sedang tergelung dengan selimut tebal dan nyaman itu mengerjapkan matanya, menyipit untuk menetralisir pencahayaan yang masuk ke matanya.
Dion mendekati sang istri perlahan dia sudah menyiapkan berbagai menu sarapan sehat dan mewah untuknya dan istrinya.
"Sayang, bangunlah ini sudah siang!" katanya lembut dengan mengelus-elus pipi istrinya.
"Kenapa kau malah merunduk? kau malu yah!" tebak Dion semakin membuat Zava malu.
Karena Zava menutup wajahnya dengan selimut membuat Dion gemas dan seringai nakal tercipta di bibirnya. Dibukanya selimut itu dengan paksa sehingga menampakkan tubuh Zava yang masih polos membuat wanita terpekik kaget.
"Mas... kembalikan selimutnya." teriak Zava dia menutupi area vitalnya dengan kedua tangannya sambil menyandar ke sisi ranjang.
Dion malah melempar selimut itu menjauh dari jangkauan istrinya dengan senyuman yang mampu membuat Zava menelan ludah.
"Ambillah, kalau kau mau?" ucapnya nakal.
"Mas... kau sengaja yah! aku tidak mau."
__ADS_1
"Kalau kau tidak mau berarti jangan salahkan aku jika aku akan memakanmu lagi." ucap Dion menggoda.
Reaksi Zava langsung dengan wajah pias, karena bagian bawahnya masih terasa sakit jadi tidak mungkin dia melakukannya lagi tapi ingin menolak juga tidak bisa karena ini termasuk kewajibannya terhadap sang suami.
"Tapi.. aku masih sakit!" jawab Zava dengan memelas berharap Dion akan terpancing.
"Apa yang sakit?" dengan panik Dion mendekatinya.
"Ini.. yang dibawah!" jawab Zava menunjuk area intimnya.
Dion malah tersenyum mendapati bagian yang sakit ternyata karena ulahnya.
"Mau ku obati." tawarnya dengan niat terselubung.
"Memangnya sakit ini ada obatnya?" tanya Zava heran.
"Ada... mau diobati disini atau sambil mandi." jawabnya membuat Zava mengerutkan alisnya.
"Sepertinya ini bukan obat biasa, mana ada mengobati dikamar mandi."
"Ada, kau ingin tau maka menurut lah!"
Meski Zava bingung tapi dia tidak berfikir bahwa Dion menginginkannya lagi.
Tanpa membuang waktu Dion langsung membopong tubuh Zava lagi membuat Zava terpekik dan secara reflek dia mengalungkan kedua tangannya dileher Dion sehingga menampakkan dua gunung kembar yang indah yang memanjakkan mata Dion dan membuatnya jadi terpancing.
"Sayang, kau benar-benar menggodaku terus yah!" kata Dion berbisik.
Zava menyadari lalu dia langsung menutupinya dengan sebelah tangannya.
"Sudah terlambat, aku akan mengobatinya dikamar mandi."
__ADS_1
Zava mendesah pasrah lalu Dion membawanya masuk kekamar mandi dan menutupnya.
Maka terjadilah lagi yang mereka lakukan sebagai pengantin baru.