Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Kedatangan Alvian


__ADS_3

Seseorang yang ditunggu pun akhirnya datang.


Alvian langsung datang kekediaman Dion, Gilang juga masih berada disana dia juga sedang menunggu kedatangan Alvian.


Dion dan Gilang menyambut Alvian dengan suka cita penuh harapan.


"Alvian.!" panggil Gilang pada Alvian, kini Alvian tumbuh lebih tinggi darinya dengan rambut mohak andalannya sejak dulu dan terlihat lebih bersih dan tampan.


"Gilang.!" balas Alvian memandang Gilang dengan takjub karena yang dilihatnya Gilang kini lebih alim dengan pakaian yang lebih sopan dibanding remaja dulu, Gilang juga mempunyai kumis dan jenggot yang tipis menambah kesan kelelakiannya.


"Wah... kau sudah berubah sekarang, lebih alim dan sopan. Sejak kapan kau berubah." tanya Alvian memandang Gilang dengan takjub.


"Alhamdulilah, setelah keluar dari penjara hidupku merasa lebih baik, kau pun semakin tampan dan berjaya sekarang." jawab Gilang dengan menepuk pundak Alvian.


"Ah, coba kaum wanita yang memujiku sudah pasti akan kujadikan pacar." kekeh Alvian meledek sendiri.


"Hah, jadi kau masih jomblo meski kau tinggal di negara bebas." goda Gilang, Alvian pun tersenyum.


"Hey, aku tidak jomblo yah, aku sudah mempunyai kekasih bahkan yang ingin menjadi simpanan ku saja banyak." kata Alvian bangga.


Saat Gilang ingin membalas lagi Dion langsung menyela.


"Aku sudah bosan mendengar kalian berbicara, sudah cukup obrolan kalian, sebaiknya kau masuk dan kita langsung keinti." ucap Dion datar merasa jengah dengan mereka berdua.


Alvian tersentak dengan kata-kata Dion lalu dia memandangi Dion lekat sebelum berbicara, "Oh maafkan aku, aku Alvian dan kau Kak Dion Raditya Mahendra." ucap Alvian tenang sambil menjulurkan tangannya.


Dion membalas dan menjabat tangan Alvian.


"Ya aku Dion." jawab Dion singkat.


"Kau tak perlu memandangiku seperti itu, aku tau apa yang kulakukan dan aku meminta bantuanmu atas nama adikku Doni. Cepatlah waktuku tidak banyak." Setelah berkata seperti itu Dion langsung melengos pergi masuk kedalam rumahnya.


Gilang dan Alvian memandanginya dengan pandangan bingung dan mereka mengikuti Dion dibelakang setelahnya.


"Aku baru tau kalau kakak Doni sebelas dua belas tapi ini lebih dingin dan kejam sepertinya." ucap Alvian sambil berbisik dan Gilang hanya mengangguk.


"Jangan mengumpat ku." ucap Dion nadanya terdengar dingin.

__ADS_1


Alvian dan Gilang menggedikkan bahunya tidak peduli.


****


Mereka kini sedang berada diruangan kerja Dion, Alvian sudah memegang laptop andalannya yang dia bawa dari luar ngeri, dia sudah berkutat sedari tadi dengan benda itu.


Alvian dengan serius bekerja dan jarinya yang lincah dan lihai itu dia sudah meretas kemana-mana, dengan segala keahliannya sangat mudah bagi Alvian untuk menemukan keberadaan Zava.


"Oke, ketemu." ucap Alvian dengan semangat, karena hasil pencariannya membuahkan hasil.


Dion dan Gilang langsung antusias mendengar Alvian. Mereka juga sangat serius melihat cara kerja Alvian yang sangat jenius.


"Dimana dia?" timpal Dion cepat.


"Eits,, sabar kenapa jadi kau yang sangat bersemangat?". kata Alvian belum mengetahui hubungan Dion dengan Zava.


"Jangan berbasa-basi denganku! cepat katakan dimana?". jawab Dion dengan tegas.


Alvian mengerutkan alisnya dirinya dipanggil karena Gilang meminta bantuan atas nama Doni tapi kenapa kakak Dion yang sangat terlihat cemas dan bersemangat.


"Kenapa kau malah diam?" ucap Dion lagi dengan suara yang lebih keras.


Dion dan Gilang merasa lega dan senang karena Alvian dengan mudahnya dapat menemukan keberadaan Zava.


"Tapi aku heran, kenapa Titi bisa bisa berurusan dengan tuan Edgar? bukankah dia orang yang sangat berpengaruh begitu juga dirimu, apa dia mempunyai masalah dengan kalian berdua?". tanya Alvian dengan menopang dagu membuat Dion mendelik sebal.


"Sudahlah nanti aku akan ceritakan padamu, Sekarang lebih baik kita langsung menuju lokasi." kata Gilang mengalihkan.


"Baiklah, aku yang akan mengalah dengan rasa penasaran ini. Sekarang ayo kita bersiap." Alvian beranjak lebih dulu diikuti Dion dan Gilang.


"Baiklah, sepertinya... ini akan menjadi perseteruan yang seru." ucap Dion pelan namun tetap terdengar ditelinga Gilang dan Alvian membuat keduanya merasa aneh.


Kini Dion, Alvian dan Gilang sedang mempersiapkan keberangkatan mereka, Dion mempersiapkan semua pengawalnya, berikut senjata yang harus dibawanya karena Edgar bukan orang sembarangan dan tidak main-main maka Dion harus mempersiapkan semuanya dengan matang.


"Kau membawa senjata, untuk apa?" tanya Dion merasa misi ini seperti bukan main-main.


"Lawan kita bukan orang sembarangan, jika kita tidak menyiapkan ini, maka Zava bukan tidak bisa kita ambil tapi kita juga tidak akan bisa kembali dengan hidup." jawab Dion sambil mengisi amunisi pada senjatanya.

__ADS_1


Gilang sedikit terhenyak, dia kira mudah untuk menjemput Zava tapi ternyata Dion lebih mengenal musuhnya.


"Hey, Gilang jika menurutmu ini mudah, tidak mungkin dia memanggilku, kau tau tuan Edgar itu adalah saingan terberatku dalam hal ini." yang dimaksud hal ini adalah dalam bidang IT, Alvian tiba-tiba sudah ada disamping Gilang dan ikut membantu Dion.


Gilang hanya mengangguk dan Alvian tidak kaget dengan hal ini karena dirinya pernah terlibat dalam misi penyelamatan temannya diluar negri.


"Baiklah semua sudah siap.!" Kata Dion dia mengambil jaket yang berada dimeja dan memakainya.


Lalu tiba-tiba masuklah Kevin, "Tuan, semua sudah siap dan kita bisa langsung pergi sekarang." ucapnya dengan tegas.


Kevin sudah diberi tahu oleh Dion, dan menyuruhnya untuk mempersiapkan semuanya, ketika Kevin diberi tahu Kevin dengan sigap menyiapkan semuanya tanpa cela, inilah yang disukai Dion dari Kevin karena Kevin bekerja dengan sigap dan cepat dan dia juga sangat bisa diandalkan.


"Baik, ayo kita berangkat." ucap Dion dan berjalan mendahului mereka semua.


****


"Tuan, ada yang berhasil membobol pertahanan kita dan menemukan tempat ini." ucap pengawal Edgar dengan panik.


Edgar yang sedang terbaring didekat kolam dengan bertelanjang dada langsung terbangun dengan raut wajah yang memerah.


"Kurang ajar, siapa yang telah berani melakukannya? bahkan Dion pun tidak bisa meretasnya." ucap Edgar dengan mengeraskan rahangnya.


"Aku juga tidak tau tuan.!" jawab pengawal dengan menunduk.


Edgar bangun dan langsung memukul wajah pengawal itu hingga tersungkur dirinya tidak suka dengan jawaban pengawal itu.


"Sekali lagi kau mengatakan itu akan kulenyapkan kan kau." kata Edgar menatap tajam pengawal itu.


Lalu datanglah pengawal lain. "Tuan, Rio sedang dalam perjalanan menuju kemari dia mengatakan bahwa urusannya sudah selesai."


Edgar semakin mengeraskan rahangnya dengan sorot mata mengerikan setelah mendengar Rio atau Rian akan kembali bisa jadi rencananya akan gagal dengan kedatangan mereka semua.


"Bodoh... kuperintahkan kau untuk menghalangi kedatangan Rio kesini atau kalau bisa celaka dia dan kau cepat persiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan Dion." ucap Edgar dengan suara keras dan membentak kepada dua pengawal nya.


"Baik tuan," kedua pengawal itu langsung bergegas melaksanakan perintah tuannya.


Edgar kemudian menendang kursi yang tadi dipakainya sampai terlempar ke kolam renang dirinya mengepalkan tangannya terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Sebelum kau mendapatkan Zava, aku akan memilikinya lebih dulu, jika aku tidak bisa memilikinya maka kau juga tidak boleh memilikinya." ucap Edgar dirinya mengambil pisau yang terletak disamping buah dan memainkannya sambil tersenyum devil.


Dibalik itu semua, Zava terkaget-kaget sehingga matanya membola lebar dan menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang didengarnya, karena pantas saja dirinya tidak bisa pulang ternyata ada maksud terselubung dari Edgar.


__ADS_2