Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Bahagia Bersama


__ADS_3

"Oh, lalu benda ini apa dari Doni?" Dion menunjukkan kalung liontin yang menjadi benda berharga bagi istrinya.


Zava terdiam mengambil kalung itu, seketika matanya berkaca-kaca teringat saat pertemuan terakhirnya dengan Doni.


"Iya, ini dari Doni. Dia memberikannya saat akan pergi keluar negri. Dia bilang ingin bertemu denganmu dan belajar cara mengelola perusahaan." jawab Zava terhanyut dalam ceritanya.


Kini Dion yang terdiam, masih teringat diingatannya waktu Doni menunggunya pulang bahkan sampai tengah malam dan tertidur di sofa. Doni selalu berusaha untuk bertemu dengannya namun Dion selalu sengaja mengulur waktu supaya tidak bertemu dengan adiknya.


Kini matanya berkaca-kaca hampir menangis dia sangat menyesal karena dulu mengabaikan dan membenci adiknya hanya karena ibunya padahal Doni hanya ingin menjadi adik yang baik untuknya.


Zava menyadari hal itu segera dia alihkan pandangannya pada suaminya.


"Mas, kau menangis,?" tanya Zava sambil menyentuh sebelah pipi Dion.


"Tidak, aku hanya teringat masa laluku yang selalu mengabaikan adikku." kata Dion dengan menangkap tangan Zava yang menyentuh pipinya.


"Aku tau kau sebenarnya tidak sepenuhnya membenci Doni, hanya keadaan yang membuatmu begini. Aku yakin juga Doni tidak pernah marah padamu dan dia malah berterimakasih kepadamu karena kau mau mencintaiku dengan tulus." ungkap Zava tersenyum.


Dion ikut tersenyum juga, "Terimakasih kau juga mau menerimaku yang kekurangan ini."


"Kekurangan apa? banyak kelebihan iya " Zava balas terkekeh membuat Dion ikut terkekeh.


"Kelebihan apa? apa yang kau suka dariku?"


"Emm... apa yah! awalnya sih aku sangat kesal padamu kau itu sebelas dua belas dengan Doni tapi lebih parah dirimu. Kau lebih dingin ketus dan menyebalkan." kata Zava seolah meledek suaminya agar teralihkan rasa sedihnya.


Dion terpancing karena ledekan Zava, "Apa kau bilang aku ketus dan menyebalkan. Hey kau tau meski aku begitu, banyak para wanita yang mau denganku bahkan aku sudah punya istri pun mereka mau jadi istri kesekianku." balas Dion membanggakan diri.


"Awas saja jika kau melakukan itu, akan kupotong benda pusaka mu dan ku gantung didepan pintu kamar." ancam Zava terlihat serius.

__ADS_1


Dion terhenyak langsung menutupi benda pusakanya yang mana membuat Zava menahan tawanya.


"Memangnya kau berani melakukan itu." ucapnya dengan nada sarkas.


"Tentu saja berani, jika kau juga berani." tantang Zava dengan menyilangkan kedua tangan didada.


"Kau... maka sebelum itu aku akan memuaskan diriku dulu untuk menjamahmu." kata Dion dengan tersenyum.


Zava bangkit sebelum Dion menangkapnya, "Kalau begitu tangkap aku dulu." ledek Zava menantang Dion.


"Sangat mudah menangkapmu." Dion lalu mengejar Zava yang mulai berlari menghindar.


Mereka jadi main kejar-kejaran bak anak kecil dengan tawa bahagia menyelimuti mereka.


Dion dan Zava tidak pernah sebahagia ini mereka melepas tawa seperti tanpa beban sungguh mereka berharap ini akan terus berlanjut hingga mereka tua.


****


Sepertinya Gilang masih menyimpan perasaan terhadap Zava meski Zava sudah menikah. Jadi untuk apa dia bertahan dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Mungkin cukup sampai disini dirinya mengejar dan memuja pria itu, dia akan belajar move on dan melupakan Gilang karena mengingatnya hanya akan membuat hatinya semakin terluka.


Dia juga memutuskan untuk berhenti mengajar disekolah itu dan akan melanjutkan mengajar di pesantren abahnya saja, sepertinya Gilang juga akan menetap disini jadi kalau dia terlalu lama disini dia hanya akan terhanyut dalam cintanya yang hanya digenggam sendiri.


Disaat dirinya telah siap meninggalkan tempat itu dengan hati yang risau dia memantapkan langkahnya untuk keluar, namun alangkah terkejutnya ketika membuka pintu, seseorang yang tidak ingin dia temui kini malah hadir dihadapannya dengan pandangan yang tak terbaca.


Keduanya terdiam diambang pintu, mencerna perasaan masing-masing, lelaki itu juga terdiam menatap gadis yang kemarin dengan lantang berkata bahwa dia mencintainya sejak dulu sebagai pria bukan sebagai kakak, kini sedang menggaet koper berukuran sedang dan tas selempangnya dengan pandangan sedih.


"Salma, kau mau kemana?" entah kenapa kata itu terasa berat diucapkan oleh pria itu yang kini menatap gadis itu dengan pandangan tak menentu.

__ADS_1


"Kak Gilang, a-aku ingin pulang!" jawab Salma dengan gugup tak berani memandang pria dihadapannya yang mampu membuat hatinya campur aduk.


"Pulang kemana?" pertanyaan yang aneh yang dilontarkan oleh Gilang seolah Zava tidak punya keluarga.


"Kerumahku lah kak ke umi dan ke Abah." jawab Salma masih bisa tersenyum.


Gilang menjadi salah tingkah atas ucapannya sendiri.


"Tapi.. kenapa? apa kau tidak betah disini?" tanya Gilang risau.


"Tidak, hanya saja masa kontrak mengajarku sudah habis, jadi... aku memutuskan untuk kembali." elak Zava tidak ingin Gilang tau penyebab aslinya.


"Tapi kau kan bisa mengajukan kontrak lagi atau kau mencari pekerjaan lain." ucap Gilang mendadak tak enak hati.


"Tidak kak, aku rasa sudah cukup, lagian dipesantren juga masih butuh seorang ustad." kata Zava dengan raut sedih.


"Apa kau akan kembali?" tanya Gilang lagi.


"Tidak tau kak!" jawaban yang diberikan Salma membuat Gilang seperti ada yang salah.


Gilang terdiam, mencoba mencerna dan mengartikan sikap Salma dan dia menyimpulkan kepergian Salma mungkin karena dirinya.


"Apa ini karena aku?" tebaknya memandang Salma serius.


Salma terhenyak dengan penuturan Gilang, dia menjadi gugup. Apakah sebegitu terlihatnya alasan kepergiannya.


"Eh... ti-tidak kak memangnya kakak kenapa?" kata Salma mengalihkan pandangan.


"Jawab saja Salma, apa semua ini karena aku?" tanya nya lagi dengan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


Salma bingung ingin menjawab apa? dia bukan tipe perempuan yang blak-blakan sebenarnya, waktu itu dia hanya terbawa emosi jadi tidak sengaja berbicara jujur.


"Permisi kak, aku harus pergi." ucapnya tak menjawab pertanyaan Gilang, Salma langsung pergi dengan wajah menunduk meninggalkan Gilang yang masih menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca.


__ADS_2