
"Kak Rian?" panggil Zava lagi pada asisten Rio sambil mendekati.
Edgar dan Rio mengernyit siapa Rian?.
"Maaf, siapa yang kau panggil Rian?" tanya asisten Rio pada Zava.
Zava menatap bingung pada kakaknya, "Ka Rian, ini aku adikmu! apa kau lupa?"
Rio berfikir ada seorang gadis yang mengaku adiknya kebetulan dia pun sedang mencari keluarganya.
"Apa benar kau adikku?" tanya Rio menelisik.
"Ya ampun kak, aku memang sudah berubah tapi aku beneran adikmu, aku Titi... Titi Zavania." desak Zava pada Rio sambil mengguncang lengan Rio.
"Apa buktinya jika kau adikku?" tanya Rio lagi masih tak percaya karena dirinya kini hilang ingatan dia hanya mengingat kalau dia masih memiliki keluarga.
Pasalnya saat kecelakaan itu Rian dibawa oleh seseorang dan orang itu adalah Edgar membawanya keluar negri bersamanya.
Edgar mengambil kesempatan saat Rian dibawa kerumah sakit dan di diagnosis amnesia, dirinya membutuhkan asisten setelah memecat asisten lamanya dia melihat Rian mempunyai potensi dan dia juga menyukai Rian maka dari itu dia membawa Rian kenegara nya dan melatihnya hingga menjadi asisten hebat dan handal.
Saat ingin kembali ke Indonesia tiba-tiba saja Rian mengingat sesuatu yaitu dia mengingat dia masih mempunyai keluarga dan saat berada di negaranya Edgar mengijinkan Rian untuk mencari keluarganya tapi sekarang ini dia tidak menyangkan ada seorang gadis yang mengaku sebagai adiknya tapi dia bingung harus percaya atau tidak karena dia sama sekali tidak mengingat siapa saja keluarganya apalagi wajahnya.
"Baik, aku akan membuktikan pada kakak dan kakak harus ikut aku." kata Zava yakin.
Edgar tersenyum devil merasa mendapat kesempatan diapun segera memanfaatkannya.
"Tunggu nona, kau tidak bisa membawanya begitu saja, karena dia adalah asistenku sekarang dan maaf dia amnesia sekarang jadi tidak bisa mengingatmu. Sekali lagi maaf karena kami mempunyai pekerjaan dan urusan disini jadi kami tidak bisa lama disini" kata Edgar mencoba berdiskusi.
"Atau jika kau memang benar adiknya maka kau tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini bukan." kemudian Edgar mengambil kartu namanya dan memberikannya pada Zava.
"Ini datanglah kesini, karena aku dan dia sedang ada urusan mendesak dan kami harus pergi, maaf nona kami harus meninggalkanmu." lanjut Edgar lagi. Zava menerima kartu nama itu dan membiarkan mereka pergi.
__ADS_1
"Ayo Rio kita pergi dari sini, permisi nona." ujar Edgar tersenyum misterius. Dan Rio mau tak mau mengikuti tuannya meskipun dia merasa ada yang aneh pada tuannya.
Zava hanya tersenyum menanggapinya kemudian melihat lagi kartu nama itu kemudian menyimpannya dalam tas kecilnya.
****
Setelah itu Zava memutuskan pergi kekamar mandi setelah bertemu singkat dengan kakaknya yang ternyata amnesia pantas saja kakaknya tidak mengenalinya tapi kalau dipikir dia juga telah berubah sekarang tapi masa iya kakaknya tidak mengenalinya.
Ya sudah nanti dia akan pikirkan untuk datang kesana atau tidak.
Saat dia melewati lorong yang hendak menuju ke kamar mandi dirinya tak sengaja mendengar percakapan seseorang yang mengusik telinganya karena dia mendengar nama Dion didalam percakapan itu.
Zava pun mengintip dan memasang telinganya dia melihat seorang wanita yang dikenalinya sedang berbicara serius dengan seorang pelayan laki-laki.
Anetta wanita itu menyuruh pelayan itu memberikan minuman yang sudah ditaburi obat perangsang untuk Dion dan memberikannya uang yang cukup banyak kepada pelayan pria itu.
"Ingat kau harus berhasil memberikan minuman ini pada Dion dan pastikan Dion meminumnya dan ini untukmu." ucap Anetta sambil menyodorkan uang itu.
"Nona tidak perlu khawatir saya pastikan minuman ini sampai pada tuan Dion."
"Bagus, aku percaya padamu. Aku akan menunggu disini kabari aku jika sudah selesai."
kata Anetta tersenyum tipis.
Pelayan itu kemudian mengangguk dan mulai menjalankan aksinya sedangkan Anetta menunggu ditempat yang dia tuju.
"wanita itu memasuki obat yah! " gumam Hafsa karena dia hanya melihat Anetta memasuki serbuk itu.
"Tapi apapun itu sepertinya itu tidak baik aku harus mencegahnya sebelum terlambat." ucap Zava lagi dia kemudian menormalkan kembali sikapnya supaya tidak menimbulkan curiga karena pelayan itu lewat didepannya.
Setelah agak jauh Zava mengikuti pelayan itu dengan pelan, karena dia sendiri juga tidak tau dimana ruangan Dion berada tapi filingnya mengatakan bahwa pelayan itu akan mengantarkan minuman itu pada Dion.
__ADS_1
Terus mengikuti tanpa ketauan akhirnya pelayan itu memasuki ruang VIP dan Zava masih menunggu waktu yang tepat, setelah ditunggu ternyata pelayan itu belum juga keluar akhirnya Zava berinisiatif sendiri untuk masuk keruangan itu tapi ternyata ruangan khusus itu terkunci.
Sementara didalam ruangan Dion serta Kevin sedang berdiskusi mengenai kerjasama atas proyek barunya, kemudian pelayan lelaki itu datang dan menaruh minuman itu kesemua orang termasuk Dion yang minumannya sudah dikhususkan.
"Silahkan tuan diminum." ucap pelayan lelaki itu berpura-pura sopan.
Dion beserta yang lain hanya mengangguk tanpa suara karena menurut mereka ucapan pelayan itu tidak penting.
Pelayan itu belum pergi masih berpura-pura mengulur waktu hanya untuk melihat Dion meminumnya.
Lalu kemudian salah satu dari mereka mengajak bersulang tentu saja yang lain mengikuti termasuk Dion.
"Mari kita bersulang terlebih dahulu, untuk kemajuan perusahaan ini." ucap pria paruh baya yang sangat berpengaruh dengan menyodorkan minumannya kedepan.
"Mari...!" jawab yang lain mengikuti dengan ikut menyodorkan minuman nya pula.
Saat Dion mengangkat minumannya dan bersulang pelayan itu tersenyum sumringah karena usaha nya sebentar lagi akan berhasil dan dia akan mendapat jatah lagi jika berhasil sampai ketahap membawa Dion kekamar yang sudah disediakan oleh Anetta sedangkan Kevin Anetta dan nyonya Mega yang akan mengurusnya.
Lalu apakah rencana mereka akan berhasil? jawabannya... tentu saja tidak karena pada saat sedetik lagi Dion meminumnya Zava tiba-tiba menerobos masuk setelah mendapat bantuan dari pemilik hotel.
Karena tadi disaat dia kebingungan dia mendapat ide untuk meminta tolong pada pihak hotel dengan gerak cepat Zava segera mencari pihak hotel itu, untungnya mereka percaya pada Zava karena sebelumnya Zava sudah dikenalkan kepada pihak hotel oleh Dion sehingga ini sangat bermanfaat juga untuknya.
"Dion jangan diminum.!" dengan reflek Zava memanggil nama Dion dan melempar gelas kristal mahal itu hingga jatuh berserakan.
Tentu saja tindakan Zava itu membuat semuanya tercengang dan melorotkan matanya.
"Zava, ada apa?" tanya Dion sedikit marah pada Zava sambil beranjak dari duduknya diikuti dengan yang lain.
"Minuman yang akan kau minum ini, ada obatnya bahaya pelayan itu telah disuruh oleh orang lain untuk mencelakaimu." ucap Zava dengan tergesa-gesa karena kelelahan.
Dion dan yang lain kembali terkejut, tentu saja Dion percaya pada Zava dan menatap tajam pada pelayan itu.
__ADS_1
Pelayan itu tentu saja gemetar ketakutan saat dirinya ketauan dia hendak kabur tapi tak bisa karena sudah dikepung oleh banyak orang disana.