Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Gilang Dilema


__ADS_3

Diruangan sejuk itu seketika menjadi sesak bagi Gilang, dia masih terdiam belum menjawab penuturan abahnya.


Hati kecilnya ingin menolak tapi lidahnya terasa kelu dia tidak bisa mengungkapkan itu. Dihatinya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa dia akan melamar gadis yang selama ini dipujanya dan ingin segera menikahinya.


Tapi sekarang dia menjadi dilema dia juga tidak mungkin menolak karena kalau bukan karena kebaikan Abah dan umi Gilang tidak mungkin bisa jadi seperti ini bahkan orang tua kandungnya saja sudah melupakannya dan tidak pernah mencarinya.


Salma yang melihat raut wajah Gilang sedikit mengerti bahwa dirinya bukanlah gadis yang dicintai, ada gadis lain yang sudah mengisi relung hatinya meski dia tidak terlalu mengenal gadis itu tapi dia sudah bisa melihat dan merasakan perasaan yang dalam Gilang pada gadis itu.


Salma tertunduk menyadari kalau Gilang pasti menolak keinginan abahnya dan dia juga harus rela dan ikhlas bila hal itu terjadi karena 'cinta itu tidak harus memiliki'.


Abah dan yang lain menunggu jawaban Gilang yang tak kunjung menjawab lalu Abah bertanya lagi.


"Gilang, apa kau bersedia menikahi Salma?".


Pertanyaan singkat itu kembali menyadarkan Gilang dari lamunannya, Gilang pun tergugup lalu tersenyum paksa.


"Maaf Abah aku hanya kaget!".


Umi yang merasakan kalau Gilang bingung pun berkata, "Nak, apa kau sudah menemukan gadis pendamping yang ingin kau nikahi?"


Gilang terhenyak dengan perkataan umi dia memang mempunyai gadis pujaannya tapi gadis itu belum tau, dan dia juga tengah bersaing dengan pria lain untuk merebut hati gadis itu dia juga tidak tau gadis itu akan membalas cintanya atau tidak.


"Kenapa Gilang?, apa ada masalah?." tanya umi lagi.


Sebelum Gilang menjawab Salma sudah menyela.


"Umi, Abah jangan memaksa kak Gilang dengan permintaan mendadak ini. Kak Gilang perlu berfikir biarkan dia tenang dulu." perkataan Salma sukses membuat hati Gilang lega bagai tersiram air dipuncak gunung, Salma mewakili jawaban yang ingin Gilang utarakan namun sulit untuk dikeluarkan.


"Baiklah, Abah mengerti maafkan Abah yang tiba-tiba menyuruhmu untuk mengatakan ini. Abah hanya ingin Salma mendapat pendamping yang Soleh dan bisa menjaganya dan kamulah pilihan Abah dan Abah juga takut kalau umur Abah ini tidak akan lama lagi." tutur abahnya membuat yang mendengarnya terhenyak.


"Abah, Abah ini ngomong apa sih! Abah itu cuma sakit biasa sebentar lagi juga sembuh. Memangnya Abah tidak ingin melihat anak bungsu Abah menikah dan punya anak seperti Salwa." ucap Salwa kakaknya Salma yang sedari tadi diam hanya menyimak.


"Iya Abah istighfar yah!" tambah umi menenangkan.


Kemudian Abah beristigfar, "Maafkan Abah membuat kalian panik."


"Umi, kali ini biar aku yang jaga Abah. Umi istirahat saja dirumah." kata Salma menawarkan.


"Iya umi, umi pasti capek biar kami yang jaga." tambah Salwa.

__ADS_1


"Jangan kak Salwa. Kak Salwa juga pulang saja biar aku dan Salma yang menjaga Abah kalian semua pulang saja." tambah Gilang karena Gilang melihat semuanya seperti kelelahan.


"Baiklah, kalau itu mau kalian kami pulang dulu yah! ayo Salwa kita pulang kasian suamimu juga." kata umi tersenyum.


"Iya umi ayo!" balas Salwa.


Mereka pun pulang tak lupa Salma dan Gilang menyalami tangan mereka dan mereka pun menyalami tangan abah dan mengucap salam.


Tinggalah mereka bertiga, karena Gilang merasa canggung dia memutuskan pergi sebentar.


"Salma, Abah aku belikan makan dulu yah diluar. Kau kan belum makan Sal." kata Gilang.


"Iya kak aku lapar sekali belikan aku sate ayam yah!" jawab Salma sambil tersenyum lebar meski hatinya masih merasa sesak.


Gilang mengangguk, "Abah mau apa? biar Gilang belikan." tawar Gilang.


"Abah sudah makan kau tidak usah beli apa-apa untuk abah lihat makanan dimeja saja masih banyak." kata Abah menunjuk makanan dimeja yang memang masih banyak.


"Baiklah aku pergi dulu!" pamit Gilang lalu pergi.


Setelah Gilang pergi barulah Abah bertanya.


"Jawab saja yang jujur nak Abah bisa melihatnya.!" kata abahnya yang memang mengerti perasaan anak bungsunya.


Salma menunduk tak berani menatap Abah, "Iya abah, tapi kak Gilang tidak suka padaku."


"Apa nak Gilang mencintai wanita lain?" tanya abahnya lagi.


Kali ini Salma mendongak menatap abahnya.


"Iya Abah sepertinya begitu."


Abah mengernyit mendengar jawaban Salma, "Kenapa jawabannya begitu? apa mereka belum terikat atau ta'aruf?".


"Salma tidak tau Abah tapi Salma bisa merasakan karena Salma tinggal dengan gadis itu dan gadis itu adalah teman sekolah kak Gilang dulu dan sepertinya Salma menduga hanya Kak Gilang yang menyimpan perasaan itu atau mungkin belum mengungkapkan karena mereka baru bertemu dan gadis itu juga sepertinya belum mengetahui bahwa kak Gilang menyukainya." cerita Salma panjang lebar, selain dia melihat dengan hatinya dia juga tau ceritanya dari Daryna.


Abah kemudian tersenyum mengerti, "Kalau kalian berjodoh maka kalian pasti akan dipertemukan di pelaminan. Tapi jika kalian tidak berjodoh maka bersabarlah Allah sudah menyiapkan jodoh masing-masing." ucap Abahnya bijak dan Salma tersenyum lega mendengar nasehat abahnya dia kemudian memeluk abahnya dengan sayang.


"Terimakasih Abah, abah segalanya bagi Salma! tanpa Abah Salma tidak akan kuat."

__ADS_1


"Kau sudah besar nak! tanpa abahpun kau harus kuat." Abah menepuk pundak anak bungsunya dengan kasih sayang yang besar.


****


Pagi pun tiba Zava sedang menyiram tanaman bunga mawar pemberian Dion yang sekarang tumbuh semakin subur.


Pagi ini cuaca sangat sejuk, sesejuk hatinya yang sedang bahagia bibrinya tak berhenti terus mengembang menampakkan raut wajah yang manis berseri, mungkin jika Dion disampingnya Dion akan merasa gemas dan tidak tahan.


Tiba-tiba ponselnya berdering memperlihatkan panggilan video call dari orang yang membuatnya bahagia.


Ya Zava sudah diberi ponsel terbaru dari Dion beberapa hari yang lalu dan isinya hanya nama Dion dan asistennya Kevin dan tidak boleh diisi nama pria manapun selain nama teman perempuan itu pun dibatasi.


Meski begitu Zava tetap menuruti permintaan Dion yang aneh itu.


Zava kemudian mengangkat panggilan itu dengan menjauhkan wajahnya.


"Hallo sayang, sedang apa?" sapa Dion tersenyum sumringah, masih pagi sudah merindukan wanitanya.


"Aku sedang menyiram, ada apa pagi-pagi sekali menelfon?" kata Zava.


Ya memang ini masih pagi sekitar jam 05.30. Dion pun masih berbaring diranjangnya dia baru bangun dari tidurnya dan langsung menelfon gadis pujaannya.


"Aku merindukanmu.!" ucap Dion dengan suara khas bangun tidurnya meski baru bangun tapi tidak melunturkan ketampanannya.


Zava tersenyum, "Mas, baru bangun tidur yah!"


"Iya, dan aku sudah merindukanmu." jawab Dion menggoda.


"Sudahlah ini masih pagi, jangan buat anak gadis orang jadi tidak bisa apa-apa." kata Zava memalingkan wajahnya.


Dion terkekeh, "Apa kau merasa malu? kenapa wajahmu disembunyikan?".


Karena Zava benar-benar malu diapun menyudahi panggilan video itu.


"Sudah dulu yah aku mau mandi.!"


"Hey, kenapa cepat sekali bahkan ini belum ada 10 menit." protes Dion.


"Ya nanti kita lanjutkan lagi yah!"

__ADS_1


"Baiklah aku tunggu nanti siang bawakan makan siang yang spesial untukku." Karena Dion mengerti diapun menyudahi obrolan itu karena diapun harus bekerja.


__ADS_2