
Dion membawa Zava ketempat peristirahatan terakhir ibunya, dia berjongkok diikuti Zava. Lalu Dion berdoa dengan khusyuk diamini Zava.
Meski Dion sibuk dengan urusan dunia tapi dia tidak melupakan urusan agamanya karena ibunya selalu mengajarkan utamakan urusan agama terlebih dahulu sebelum dunia dan jangan pernah kamu pamer jika ingin berbuat kebaikan apalagi dalam urusan berhadapan dengan Allah. Begitu kata ibunya sewaktu masih hidup, selalu diingat oleh Dion bahkan diamalkan olehnya. dan itu membuat Zava kagum karena dibalik jas nya ternyata Dion pantas juga untuk menjadi seorang imam dan Zava tersenyum dibalik aminnya itu.
Dion sudah selesai membacakan doa, lalu menaburkan bunga pada makam ibunya diikuti juga oleh Zava.
Dia menyentuh batu nisan ibunya dengan sayang tak terasa air mata menetes begitu saja tanpa diketahui oleh Zava dengan cepat dia menyeka air matanya.
"Ibu, aku datang hari ini. Tapi aku tidak sendiri aku bersama kekasih hatiku bu, calon istriku calon menantumu." lalu menengok kearah Zava dimana gadis itu membalasnya dengan tersenyum manis.
"Lihat! dia cantik kan Bu, sesuai dengan keinginanmu. Namanya Zava, Titi Zavania. Aku sangat mencintainya lebih dari apapun aku yakin ibu pasti senang punya menantu seperti dia. Aku juga senang Bu, tapi... ada yang lucu Bu, ternyata aku mencintai kekasih dari adikku sendiri. Mungkin jika dia masih hidup, dia tidak akan pernah membiarkan aku merebut gadisnya dan kami akan terus bertengkar." ucap Dion terkekeh sendiri membayangkan dirinya harus berebut gadis dengan adiknya sendiri.
Sedang Zava ikut terkekeh pelan juga tapi dibarengi dengan kesedihan, kesedihan disini karena dia terharu dengan ucapan Dion yang memujinya dengan tulus.
"Tapi ternyata takdir berkata lain, Yang kuasa lebih merestui dia bersamaku bukan bersama adikku, dan aku sangat bersyukur sekali untuk itu." Dion kemudian menatap Zava dan tersenyum, senyuman yang sangat indah dimata Zava dan senyuman yang pasti akan membuat para wanita tidak tahan untuk membalasnya. Seperti yang dilakukan Zava dia balas tersenyum.
"Apa kau tidak ingin menyapa ibuku?" tanya Dion menatap Zava.
"Ah.. iya tentu." Zava gugup ketika Dion menyuruhnya berbicara didepan makam ibunya.
"Assalamualaikum Tante, namaku Titi Zavania. Aku calon istri dari mas Dion dia sangat baik dan juga sangat menyayangiku aku sangat bersyukur sekali bisa menikah dengannya. Mungkin itu saja Tante." ucap Zava dia malu juga karena Dion selalu menatapnya.
"Wah, benarkah apa yang kau katakan? aku jadi tersanjung mendengarnya. Tapi...aku ingin mendengar yang lain." balas Dion dengan tersenyum smirk.
"Apa itu?" tanya Zava.
"Aku ingin kau mengatakan didepan makam ibuku bahwa kau sangat mencintaiku." bisik Dion membuat pipi Zava menghangat juga malu.
"Kenapa harus bilang begitu? tidak ah aku malu." tolak Zava.
"Kalau begitu, kau tidak malu jika aku cium disini."
Zava melebarkan matanya mendengar penuturan Dion. Apa-apaan ini ancaman yang hanya menguntungkan baginya. gerutu Zava kesal.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku katakan". mau tak mau Zava mengalah juga karena dia tidak mungkin membiarkan Dion menciumnya ditempat umum apalagi dikuburan.
"Pintar." Dion mengelus kepala Zava sambil tersenyum samar.
"Ibu... aku sangat mencintai anakmu dan mau menikah dengannya. Sudah, jangan suruh-suruh yang tidak masuk akal lagi." sungut Zava kesal sekaligus malu.
Dion terkekeh, "Baiklah, ayo kita kemakam ayah dan Doni." ajak Dion.
"Iya."
"Ibu, aku pamit assalamualaikum." sebelum Dion beranjak kebiasaannya pamit terlebih dahulu.
Tangan Zava digenggam olehnya seolah takut ada yang mencuri darinya. Mereka pun berjalan tidak jauh dari tempat makam ibunya. Dion pun sampai ditempat makam Doni dan ayahnya.
Tak berlama-lama Dion mendoakan mereka, karena makam Doni dan ayahnya bersebelahan sehingga memudahkan Dion.
Zava sedih meneteskan air mata ketika mengingat hari terakhirnya bersama Doni.
"Apa kau masih mencintainya?" tanya Dion melihat Zava menangis.
"Ah..tidak tau. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa hanya ingin tau saja."
"Em.. aku memang dulu suka dengan Doni tapi itu dulu karena sekarang aku mencintaimu." ucap Zava cepat melihat raut wajah Dion yang berubah.
Dion tersenyum, "Benarkah, kalau begitu cium aku." goda Dion.
plakk
"Aww, kenapa kau memukulku? aku kan mintanya cium."
"Kau selalu saja berkata begitu, dengar yah jika kau sudah menikahiku maka kau akan puas." ucap Zava kesal.
__ADS_1
"Benarkah, ku tagih nanti." Dion terkekeh kemudian.
Mereka pun telah selesai berjiarah dan memutuskan untuk pulang sebelum itu mereka mampir dulu ke pasar tradisional untuk membeli bahan membuat nasi kuning.
Zava sengaja meminta membelinya dipasar bukan di supermarket suruhan Dion karena dia ingin memuji sekaligus mengerjai Dion. Apakah Dion akan tahan berada ditempat becek dan sumpek itu? membayangkan nya saja membuatnya tertawa.
"Ada artis bule, ada artis bule." begitulah kata orang-orang dipasar ketika kami datang.
Mereka menyerbu Dion terlebih lagi para wanita berdesakan ingin meminta foto dan tanda tangan sampai-sampai Zava tersingkirkan.
"Hey, berhenti aku bukan artis." kata Dion yang kaget melihat serbuan itu karena mengira dirinya artis.
Tapi mereka tidak peduli karena Dion sangat mencolok dibanding mereka dan wajahnya yang tampan serta kebulean membuatnya jadi serangan ibu-ibu halu.
Sedangkan Zava hanya tertawa melihat Dion yang kelimpungan sendiri meladeni para wanita-wanita itu. Dion pun hanya bisa pasrah kepada ibu-ibu itu dan membiarkan dirinya difoto.
Lama kelamaan Zava kasian juga melihat wajah memelas Dion yang meminta pertolongan darinya karena wanita itu terus berdatangan dan mengganggu Dion dan yang membuat Zava kesal adalah ada seorang ibu yang dengan berani memeluk Dion serta ingin menciumnya karena gemas, tentu saja Zava tidak mau itu terjadi.
Dengan hatinya yang cemburu Zava memaksa masuk kedalam kerumunan itu, dan menarik tangan Dion untuk keluar.
"Maaf, dia bukan artis tapi dia suamiku" ucap Zava dengan lantang membuat yang lain terdiam.
"Kalian tidak sopan yah! pegang-pegang suami orang dan minta foto suami orang. Saya minta cepat hapus saya tidak mau suami saya menjadi bayang-bayang dikehidupan kalian. Cepat hapus." sambungnya lagi dengan tegas membuat Dion tersenyum lucu.
"Hey, siapa kamu? tiba-tiba datang bilang dia bukan artis dan suami kamu. Mana buktinya kalau dia suami kamu." ucap salah satu ibu yang tidak percaya.
"Iya benar mana buktinya, dia nya saja diam saja tuh." kemudian diserbu yang lain.
Suasana pun menjadi riuh kembali karena suara mereka kini Zava yang kepusingan.
"Berhenti.." suara Dion menggema membuatnya semuanya terdiam.
"Aku memang suaminya, dan dia adalah istriku dan aku bukan artis. Segera kalian menyingkir dari sini atau aku ratakan pasar ini supaya kalian tidak bisa berdagang dan berbelanja dan cepat hapus foto ku seperti perintahnya." ucap Dion dengan nada dingin dan tegas.
__ADS_1
Mereka yang mendengar pun tiba-tiba menjadi gemetar karena aura Dion yang sangat kuat serta tatapannya yang tajam.
Mereka menghapus foto barusan dan berlarian pergi tanpa sepatah kata pun.Dion dan Zava menjadi lega karena mereka tidak dikerumuni lagi.