
Zava dibawa Dion bukan kepasar melainkan kepusat perbelanjaan yang mewah dan besar yaitu di mall yang terletak ditengah kota.
"Tuan, kenapa kita kesini? aku kan mintanya kepasar bukan ke mall." ucap Zava pada Dion saat masih didalam mobil ditempat parkiran.
"Terserah aku mau membawamu kemana? karena aku yang mengajakmu." jawab Dion datar.
"Kau ini memang tuan pemaksa sebelas dua belas dengan Do..." Zava menghentikan ucapannya dia menutup mulutnya sendiri saat nama lelaki yang ingin dia ucapkan.
Dion mengernyit memandang Zava dengan lekat.
"Do... siapa? apa kau ingin menyebut nama seorang pria.?" tanya Dion mengintimidasi.
Zava jadi bingung tapi herannya dia tidak bisa mengucapkan nama Doni didepan Dion untuk apa juga pikirnya.
"Tidak apa-apa, bukan apa-apa dan bukan urusanmu juga." kata Zava gugup.
"Jadi kau sedang menyembunyikan sesuatu" ujar Dion masih menatap Zava lekat.
"Menyembunyikan apa? kenapa tuan aneh sekali?" jantung Zava berdegup kencang sungguh ditatap seperti itu oleh Dion membuatnya panas dingin serta berkeringat.
Bagaimana tidak? Dion lelaki dewasa yang begitu tampan dan berkarisma tatapannya yang tajam serta rahangnya yang tegas membuat setiap wanita pasti akan terpesona termasuk Zava dia juga tidak munafik hanya saja dia masih bisa menahannya.
"Tuan, ada yang memanggilmu?" kata Zava beralasan menunjuk sesuatu didepannya.
Reflek Dion menoleh kearah yang ditunjuk Zava, kesempatan ini digunakan Zava untuk keluar dari mobil dan menghindari tatapan Dion.
Dion melihat kedepan tapi tak ada siapapun.
"Sial, kau menipuku!" saat kembali menengok kearah Zava ternyata Zava sudah tidak ada dia sudah berada diluar dengan tersenyum geli.
Dion balas tersenyum smirk, dia keluar dari mobil menyusul Zava.
Zava sedikit berlari saat Dion mengejarnya karena larinya yang terbatas dengan gamis yang ia kenakan sehingga membuat Dion dengan cepat menangkapnya. Dion menarik tangan Zava sehingga Zava jatuh ke pelukan nya.
Zava terkejut dengan tarikan Dion mereka lalu saling menatap lekat wajah masing-masing.
Deg
Jantung mereka berdegup dengan cepat Dion tak bisa mengalihkan pandangannya dari Zava sedetikpun begitu juga dengan Zava.
Sepertinya benih cinta memang sudah tumbuh diantara keduanya. Bahkan Dion merasakan hal yang aneh akhir-akhir ini dengan hatinya jika bertemu Zava atau tidak bertemu Zava.
Disisi lain Anetta yang baru keluar dari mobil bersama teman-temannya dengan riang gembira seketika terkejut dengan pemandangan didepannya.
Dia merasa emosi dan cemburu melihatnya dengan amarah yang menggebu dia menghampiri kedua insan itu diikuti temannya yang kebingungan.
__ADS_1
"Dion...!" panggil Anetta berteriak lalu dengan cepat melepaskan tangan Dion dari Zava.
Dion dan Zava seketika terkejut saat seseorang yang berteriak marah terhadap mereka.
"Kau...!" ucap Dion melotot yang ternyata Anetta yang telah mengganggunya.
Zava pun terdiam saat tahu wanita yang meneriaki itu adalah wanita yang pernah datang kerumah Dion.
"Dion, sedang apa kau bersama gadis ini?" tanya Anetta dengan menatap sinis pada Zava.
"Sedang apa aku disini dan dengan siapa? itu bukan urusanmu." jawab Dion dingin.
"Dion, kau tau aku menunggumu untuk hal seperti ini tapi kau malah melakukannya dengan gadis kampungan ini." Anetta marah sambil menunjuk-nunjuk Zava
Dion pun tersulut emosinya karena Anetta telah membawa-bawa Zava.
"Hei, memangnya siapa dirimu? beraninya berteriak didepanku dan calon istriku." Ujar Dion membuat Anetta melebarkan matanya.
"Apa dia calon istri?" Anetta tercekat dengan penuturan Dion.
"Ya dia calon istriku. kenapa?" ucap Dion dingin dan tenang.
"Tapi Dion, aku yang sudah menunggumu aku mencintaimu dan selalu mengejarmu. Kenapa kau tidak membukakan pintu hatimu sedikit saja untukku." kata Anetta memasang wajah memelas dan menangis tersedu membuat temannya mengelus punggung belakangnya merasa kasihan.
Sedangkan Dion tak bergeming ekspresinya dari dulu selalu datar dan dingin terhadap Anetta karena dia sama sekali tidak menyukai Anetta. Dan Zava juga terdiam tak tau harus bereaksi seperti apa.
Dion pun menarik lengan Zava masuk kedalam mall tanpa memperdulikan Anetta yang marah.
Tapi Zava tiba-tiba merasa khawatir melihat Anetta dia jadi mengingat seseorang yang sifatnya seperti itu dan orang itu sudah tiada yaitu Priska.
Setelah kepergian Dion dan Zava, Anetta berteriak tidak jelas.
"Ehh... Dion kau akan menyesal telah mengabaikanku dan aku tidak akan pernah menyerah. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka wanita manapun tidak ada yang boleh mendapatkanmu." gumam Anetta mengepalkan tangannya erat.
Temannya hanya melongo melihat Anetta marah seperti itu. Kemudian Anetta berbalik tidak jadi berbelanja.
"Net, tunggu gimana shoping kita hari ini?" tanya temanya yang mengejar Anetta.
"Aku sudah tidak mood lagi, kau belanja saja sendiri." ucap Anetta memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan temannya.
"Anetta, sialan kenapa meninggalkanku." temannya bersungut kesal karena dirinya ditinggalkan begitu saja.
*****
Anetta menuju rumah Tante Mega untuk mengadu kelakuan Dion. Dia masuk sambil menangis sampai mobilnya pun diparkir secara sembarang.
__ADS_1
Setelah sampai didalam Tante Mega kaget mendapati Anetta berlari memeluknya sambil menangis.
"Hey sayang kau kenapa?" kenapa menangis?" tanya Mega sambil mengelus rambut pirang Anetta.
"Tante Dion Tante...!" ucap Anetta tersedu-sedu.
"Iya kenapa dengan Dion." Anetta belum menjawab membuat Mega menyuruhnya untuk duduk dan menenangkan diri dulu.
"Bi, ambilkan air minum untuk Anetta, cepat!" perintah Mega pada pelayan.
"Baik nyonya." kata pelayan itu dan berlalu kedapur.
"Ayo sayang duduk dulu nak! tenangkan dirimu dulu." kata Mega sambil mengelus pundak Anetta.
Sampai minuman itu datang Anetta belum bicara.
"Ayo sayang diminum!"
Anetta tak menjawab hanya menerima minuman yang disodorkan oleh Mega kemudian meminumnya setengah.
"Nah sekarang ceritakan sama Tante, ada apa dengan Dion?". Mega mulai bertanya setelah Anetta sudah tenang.
"Tante, Dion sudah punya calon istri!" kata Anetta.
"Apa..? Calon istri." Mega tentu saja kaget karena Dion tidak pernah membawa seorang wanita pun didalam hidupnya.
Anetta mengangguk, "Aku tadi bertemu mereka di mall, mereka mesra sekali, aku cemburu." Anetta kembali merengek seperti anak kecil.
"Siapa wanita itu Anetta?" tanya Mega.
"Aku tidak tau siapa dia? hanya saja gadis itu memakai hijab dan berpakaian tertutup, dia juga cantik dan sangat anggun." tanpa sadar Anetta mengagumi Zava.
"Berhijab...!" Mega penasaran siapakah gadis yang dimaksud Anetta.
"Iya, aku sudah dua kali bertemu dengannya, yang pertama aku melihat dia dirumah Dion bahkan dia menginap dirumah Dion waktu itu." tukas Anetta tambah merengek.
"Apa? wanita itu pernah menginap dirumah Dion." kata Mega terkaget lagi.
"Iya tante."
"Siapa gadis itu?" Mega menerawang sambil berfikir penasaran juga siapa gadis itu.
"Kau tidak tau namanya?" tanya Mega.
"Tidak Tante aku tidak tau tapi aku hanya tau wajahnya saja.
__ADS_1
Mega kembali penasaran siapa gadis yang berhasil telah meluluhkan hati Dion, dia harus bisa bekerja sama dengan gadis itu supaya apa yang diinginkannya terwujud.