
"Pantas saja aku tidak bisa melacakmu dan juga gadis itu, ternyata kalian adalah orang yang sama." ucap Dion lagi kemudian dia berdiri kembali mendekati Zava.
Lalu tanpa diduga Dion memeluk Zava dengan erat membuat tubuh Zava menegang seketika.
"Tapi tidak apa! aku sangat bersyukur sekali akhirnya aku lega sekarang." kemudian Dion melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Zava.
"Kau bukan hanya gadis yang dititipkan oleh adikku dengan percuma karena kini tanpa embel apapun aku bersedia untuk menjaga dan melindungimu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, aku mencintaimu sejak awal kita bertemu. Kau tau kau adalah satu-satunya gadis yang berhasil membuka hatiku." ucap Dion dalam membuat mata Zava berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu." lanjutnya mencium kening Zava lama.
"Apa kau juga mencintaiku?". Zava mengangguk malu, Dion pun tersenyum dan kembali memeluk erat Zava.
"Tapi ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu." Zava melepaskan pelukannya dan menatap Dion serius.
"Bertanya apa?".
"Kapan kau bertemu Doni? dan bilang padaku bahwa Doni menitipkanku padamu." itu memang pertanyaan yang ingin ditanyakan Zava sedari tadi.
"Dan aku juga tidak menduga sama sekali kalau kau ternyata kakak tiri Doni yang pernah diceritakan olehnya." sambungnya lagi.
"Saat Doni menemuiku itupun pertemuan yang bisa dibilang pertama dan terakhir kalinya karena setelah itu aku kehilangan dia untuk selama-lamanya, sebenarnya aku menyesal karena tidak menemuinya saat dia masih hidup tapi aku terbawa pengaruh ibunya yang aku benci sehingga akupun membencinya." ungkap Dion, ada rasa menyesal dalam hatinya karena selalu mengabaikan Doni yang tidak tau apa-apa padahal Doni hanya ingin bisa bersama dengan kakaknya.
"Jadi alasanmu tidak ingin bertemu dengannya karena kau membenci ibunya dan ikut membenci anaknya juga." Dion mengangguk membenarkan.
Zava menunduk pilu sungguh kehidupan Doni yang ia kira dulu sangat santai dan seperti tidak ada beban ternyata salah. Doni ternyata menyembunyikannya dengan cara menjadi pribadi yang tidak baik.
"Kau kenapa? apa kau masih mencintainya?" tanya Dion dengan raut wajah kecewa.
Zava terdiam karena sebenarnya meskipun sekarang ini dihati Zava ada nama Dion namun cinta pertamanya tidak bisa dilupakan begitu saja.
"Baiklah, aku mengerti adikku adalah cinta pertamamu dan...!"
"Dan kau adalah cinta terakhirku dan sekarang yang ada dihatiku adalah tuan." potong Zava cepat dengan tersenyum.
Dion pun ikut tersenyum mendengar jawabannya kemudian dia mencium bibir Zava sekilas.
"Hei, tuan jangan sembarang cium-cium kita belum halal." ucap Zava dengan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Lain kali jangan panggil aku tuan karena aku bukan tuanmu." ucap Dion menyentil hidung Zava gemas.
"Hem... baiklah masku Dion." katanya.
"Mas, baiklah tidak apa-apa!" balasnya santai.
"Ngomong-ngomong dengan tampilanmu begini, aku jadi tidak sabar ingin memakannya cepat." bisik Dion diwajah Zava sangat dekat, Zava langsung mendorong dada Dion dan menyuruhnya keluar.
Karena kini Zava malu sekali pakaiannya sangat pendek dan dia juga tidak menutup kepalanya sedari tadi.
Saat Zava ingin menutup pintu Dion menahannya dengan satu kakinya.
"Tunggu, sebaiknya aku pulang saja jika aku menunggumu berpakaian aku takut tidak bisa menahannya." kata Dion santai tidak mempedulikan wajah Zava yang memerah karena malu.
"Kau mau pulang, ya sudah pulang saja! untuk apa menahan pintu ini." kata Zava dibalik pintu.
"Ya aku sebagai calon suami yang baik harus berpamitan dengan calon istrinya." kata Dion tersenyum.
"Ya sudah kau sudah berpamitan sekarang pulanglah." jawab Zava asal.
"Hey, kenapa begini caramu memperlakukan calon suamimu pergi?." kata Dion tersenyum miring.
Dion pun tersenyum jahil, "Buka dulu pintunya, maka akan ku beri tahu."
Karena supaya Dion cepat pulang dan dirinya nanti akan merasa tidak enak Zava pun membuka pintu lebar-lebar.
"Bagaimana?"
"Begini." Dion langsung menarik kepala Zava dan mencium bibirnya lagi dengan lembut hanya sebentar lalu dilepaskannya.
"Kau...!" Zava tidak bisa melanjutkan kata-katanya dia mendorong tubuh Dion dan langsung menyuruhnya keluar serta langsung menutup pintu.
Bukannya marah tapi Dion malah jadi semakin gemas saja dan menggelengkan kepalanya dengan senyum yang terus mengembang.
Dibalik pintu Zava masih menengok melalui jendela melihat kepergian Dion jantungnya sejak tadi selalu berdegup dan wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus dia menyentuh dadanya sambil tersenyum manis menghiasi bibirnya.
****
__ADS_1
Dirumah sakit Harapan Bunda Abah Salma dirawat sudah tiga hari dan baru memberi kabar kemarin kepada anak gadis bungsunya.
Abah mempunyai dua anak gadis yang pertama sudah menikah dan mempunyai satu anak laki-laki yang berusia dua tahun.
Mereka sudah dari pertama menjenguk Abah mereka dan kini sedang menunggu adik bungsunya.
Alasan baru memberi tahu karena abahnya yang meminta supaya anak bungsunya tidak khawatir tapi ternyata kondisi Abah semakin hari semakin memburuk.
Umi pun menyarankan agar Salma dan Gilang lelaki yang sudah dianggap seperti anaknya datang menjenguknya karena uminya takut ini adalah waktu-waktu terakhirnya.
Dan sekarang dua orang yang diharapkan kedatangannya itu datang bersamaan dengan raut wajah panik dan cemas.
"Assalamualaikum Abah, umi.!" ucap Gilang dan Salma bersamaan mendekati brankar abahnya yang terbaring lemah.
"Wa Alaikum salam.!" jawab mereka yang ada disana menyambut dengan senang.
Salma mencium tangan abahnya berkali-kali dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata karena Salma termasuk gadis yang perasa.
"Salma anak Abah." ucap Abahnya dengan nada pelan.
"Abah ini Gilang.!" Gilang pun ikut mencium tangan abahnya.
"Nak Gilang, kau sudah semakin dewasa sekarang.!" kata Abah dengan melihat penampilan Gilang.
"Abah, umi kenapa kalian baru memberi tahuku? kalau tau Abah sakit aku akan pulang lebih awal untuk merawat Abah." ucap Salma dengan menatap Abah dan uminya bergantian.
"Salma Abah tidak apa-apa! Abah hanya sakit biasa. Abah tidak mau membuat kalian berdua khawatir." umi yang membalas pertanyaan anaknya.
"Tuh kan Abah selalu begitu, aku ini anak Abah bukan sih! selalu saja diberi tahunya akhir." Salma mengerucutkan bibirnya cemberut dan yang melihatnya hanya tertawa.
"Salma, Gilang ada yang ingin Abah bicarakan sama kalian berdua. Mari mendekat." kata Abah melambaikan tangannya.
Gilang dan Salma pun mendekat dan memandang Abah serius.
"Gilang, kau sudah berubah dan jadi lebih dewasa sekarang, boleh Abah minta satu keinginan padamu." kata Abah dengan serius membuat Gilang merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Apa itu Abah?" tanya Gilang serius.
__ADS_1
"Gilang Abah ingin kau menikahi Salma secepatnya." ucap Abah dengan tersenyum dan Salma pun ikut tersenyum mendengar penuturan abahnya.
Tapi raut wajah Gilang berubah jadi wajah yang tidak menentu gelisah dan merasa tidak enak.