Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Pengutaraan Yang Tak Disengaja


__ADS_3

Zava dan Dion sudah keluar dari rumah sakit,


Zava senang sekali akhirnya dia bisa menghirup udara segar diluar. Seperti kata Dion, Zava akan tinggal bersama Dion karena mereka akan segera menikah.


Rian juga mempunyai rumah pribadi dan ingin mengajak adiknya untuk tinggal bersama tentu saja Zava mau tapi Dion dengan beribu alasan dan sikapnya yang pemaksa membuat Rian harus merelakan dirinya hidup terpisah dengan adiknya, tapi Dion tidak melarangnya jika Rian juga ingin tinggal dengannya.


Dan Zava tentu saja tidak bisa membantah perintah dari raja hatinya karena dia percaya bahwa Dion akan menjaganya.


Zava juga sudah titip salam pada ibu Lusi melalui Daryna bahwa dirinya tidak bisa kembali ke kontrakan lagi membuat ibu Lusi sedih tapi juga senang.


Jadi kontrakan Zava sekarang ditempati oleh Salma dan barang-barangnya sebenarnya tidak dibuang karena masih digunakan oleh Salma malah Dion memberikan fasilitas lainnya dikontrakkan itu, dia hanya mengambil barang pribadi milik Zava saja.


Kini Zava kembali ke rumah mewah Dion lagi, dimana dirinya pertama kali bertemu dengan Dion dan tinggal disana dalam beberapa hari.


Dan rumah Dion masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Zava menginjakkan kakinya untuk yang kedua kali, rumah ini besar tapi penghuninya hanya Dion dan para pengawal serta pelayannya saja, Kevin pun jarang ada dirumah itu karena dia juga mempunyai keluarga.


"Apa kau rindu dengan rumah ini?" tanya Dion, melihat Zava terus memandangi sekeliling rumahnya.


Zava terhenyak, "Ah! iya sepertinya aku rindu. Karena sudah lama aku tidak kesini."


"Sekarang kau nyonya dirumah ini. Jadi kau bisa berkeliling rumah ini semaumu." ucap Dion tersenyum tipis. Ada rasa bahagia dalam hatinya bisa mewujudkan impiannya yaitu menikahi gadis pilihannya.


"Nyonya, memangnya kita akan menikah kapan?" Zava tak ingin jika belum mempunyai status yang jelas dirinya dipanggil nyonya.


"Em... mungkin lusa." jawab Dion, ingin menjawab besok tapi teringat besok ingin mengunjungi makam ibunya.


"Hah.. lusa!" Zava sedikit kaget mendengarnya. Kenapa buru-buru sekali memangnya semuanya tidak butuh persiapan.


"Eh! cepat sekali lusa, memangnya semuanya tidak butuh persiapan." Zava takut-takut mengatakan itu dengan wajah meringis.


"Kau lupa siapa aku? besok pun aku bisa menikahimu. Karena aku kaya dan berkuasa." ucap Dion bangga pada dirinya sendiri.


"Huh... sombong sekali." gumam Zava pelan, tapi masih didengar oleh Dion.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" Dion pura-pura tidak mendengar.


"Ah tidak apa-apa! ya kau memang kaya dan berkuasa." kata Zava tersenyum paksa.


"Baiklah ayo kita masuk." Dion menggenggam tangan Zava dan mereka melangkah memasuki rumah mewah itu.


****


Disekolah Gilang sedang termenung di taman sambil tangannya sesekali melempari makanan di kolam ikan.


Tangannya memang sedang memberi makan ikan tapi hati dan pikirannya sedang kalut memikirkan perasaannya yang tak pernah sampai.


Salma mencarinya ingin mengajaknya makan siang dan dia menemukan Gilang ditaman karena bertanya dengan orang-orang.


Salma sudah membawa rantang yang dia masak sendiri untuknya dan Gilang dan mendekati Gilang yang hatinya sedang berkecamuk, apalagi mendengar bahwa gadis itu sebentar lagi ingin menikah.


"Kak Gilang...!" panggil Salma saat sudah didekat kolam.


"Lihat kak! aku bawa makan siang untuk kita, makan yuk!" ucap Salma kemudian duduk disamping Gilang.


"Terimakasih Salma. Kenapa sekarang kau repot sekali?" jawab Gilang biasa saja.


"Tidak repot kok kak, aku malah senang." balas Salma sambil tersenyum.


"Ini kak!" Salma menyerahkan makanannya pada Gilang tapi Gilang menggelengkan kepalanya.


"Tidak Sal, aku tidak lapar." jawabnya acuh.


Salma menurunkan kembali makanan itu dia sedih karena Gilang tidak mau. Melihat perubahan raut wajah Salma yang kecewa membuat Gilang menjadi tidak enak dia segera meresponnya.


"Salma, maafkan aku!"


"Tidak apa-apa kak, masakanku memang tidak enak. Berbeda dengan masakan kak Zava yang selalu habis kakak makan."

__ADS_1


"Salma..."


"Tidak bisakah kakak tidak memikirkan kak Zava disaat bersamaku. Kakak harus sadar kalau kak Zava milik orang lain dan bukalah hati kakak untuk orang lain." ucap Salma seketika matanya berkaca-kaca.


Gilang menunduk, "Kakak tau, tapi perasaan ini masih begitu besar padanya, kakak memendam perasaan ini sudah lama. Masih sangat sakit dan belum rela untuk membiarkannya bersama pria lain."


"Lalu kakak mau apa? mau merebutnya dan memaksanya begitu, bukannya kakak tau kalau kak Zava itu tidak mencintai kakak dan bahkan dia tidak tau kalau kakak mencintainya." ungkap Zava, entah mengapa hatinya jadi sedih mengatakannya.


"Salma, kau tidak tau bagaimana rasanya mencintai seseorang dalam diam dan kau juga tidak tau bagaimana rasanya cinta yang tak terbalas." balas Gilang dengan hati yang menggebu.


"Aku tau kak, aku tau rasanya cinta dalam diam, aku tau rasanya cinta yang tak terbalas dan menunggu seseorang serta bertahan hanya untuk supaya orang itu melihatku, aku tau kak. Karena sekarang aku sedang merasakannya." Salma menghela nafas beristigfar, bahkan dia sampai mengeraskan suaranya.


Gilang terdiam mencerna ucapan Salma, apa maksudnya? dia memendam perasaan pada orang lain dan cintanya juga tidak terbalas. Siapa lelaki itu? yang tega menyakiti perasaan adik tersayangnya. Karena Gilang tidak pernah melihat Salma bersama pria manapun selain dirinya dan juga abahnya.


"Kau mencintai seseorang, kenapa kau tidak cerita kepadaku? siapa lelaki itu? aku akan berbicara padanya." kata Gilang sangat tidak peka.


Salma hanya mengelus dadanya, air mata sudah luruh dan membanjiri pipinya, makanan yang ia sediakan menjadi dingin terkena uap angin karena dibiarkan begitu saja.


"Sudahlah, kakak tidak perlu tau siapa orangnya yang pasti orang itu pun sama sedang merasakan apa yang aku rasakan saat ini."


Setelah berkata seperti itu barulah Gilang tersadar siapa lelaki yang Salma maksud, ketika Salma ingin pergi tangannya dicekal Gilang.


"Katakan! apakah lelaki itu adalah kakak?" ucapnya tak menatap Salma tapi tangannya masih mencekal.


"Tidak perlu tau, percuma juga kakak hanya mencintai kak Zava, memikirkan kak Zava dan kak Zava selalu ada dihati kakak. Jadi untuk apa aku mengutarakan perasaanku ini pada kakak. Percuma tidak akan terbalas." Salma menepis tangan Gilang dan berlarian sambil menyeka air matanya.


Luruh sudah hatinya tapi juga merasa lega karena apa yang ada dihatinya sudah dia utarakan meski hatinya harus menahan sakit.


"Jadi selama ini, dia mencintaiku, akulah pria yang menyakitinya dan akulah pria yang selalu ditunggunya." gumamnya ketika menyadari bahwa dirinyalah lelaki itu.


Ketika Gilang mengalihkan pandangannya kedepan tiba-tiba jantungnya mendadak berhenti dengan pandangan mata yang tak terbaca ketika melihat gadis yang dia cintai tiba-tiba ada didepannya sedang menatapnya dengan aura yang terlihat sedih.


"Zava...!"

__ADS_1


__ADS_2