
"Kenapa taun berdiri saja, tidak duduk " sahut Zava sambil membawa secangkir teh.
"Kau tidak lihat disini tidak ada kursi, bagaimana aku bisa duduk?" sela Dion kedua tangannya dia masukkan kesaku celananya.
"Ya duduk dilantai tuan, aku memang tidak punya kursi ataupun sofa." kata Zava masih berusaha ramah dan meletakkan teh itu ketikar yang selalu dipakainya.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Dion saat Zava meninggalkannya.
"Ya aku mau kembali kedapur untuk menyelesaikan pekerjaanku." balasnya sedikit kesal.
"Kau ini sangat tidak sopan, aku tamu disini dan kau membiarkanku untuk jadi patung." sungut Dion masih berdiri tak mau duduk.
Zava menghela nafas pelan.
"Dengar yah tuan Dion yang terhormat, aku sedang sibuk dan tidak bisa menemani tamu, jadi kalau tuan merasa jadi patung lebih baik tuan pulang saja" ucap Zava seramah mungkin.
"Kau mengusirku lagi," Dion menggelengkan kepalanya. "Dengar hanya kau gadis yang berani mengusirku dan membantahku dan aku tidak terima itu." sanggah Dion cepat.
Zava lagi-lagi menghela nafas kesabarannya benar-benar akan hilang jika terus meladeni Dion, maka Zava terpaksa mengusir Dion dengan kasar terserah jika dia marah dan membatalkan pesanannya Zava tidak peduli.
"Tuan, sebaiknya anda pulang karena aku lelah dan mau tidur." Zava mendorong punggung Dion yang lebar dan kekar keluar dari kontrakannya.
"Hey, kau benar-benar berani berbuat seperti ini kepadaku," Dion menatap tajam Zava tapi yang ditatap seperti itu malah biasa saja.
"Apa tuan mau marah? silahkan marah dengan pintu." kata Zava dan dengan sekejap pintu langsung ditutup membuat Dion melongo kemudian menggeram kesal.
"Sial, gadis ini benar-benar... eeh ingin kumakan saja dia!" bahkan Dion tak bisa marah ataupun mengumpat dia hanya bingung kenapa dia tidak bisa melakukannya terhadap Zava malah dia menjadi gemas.
"Hey, ingat besok kau harus bawa makanan yang istimewa untukku, kalau tidak aku akan menghukummu." teriak Dion dibalik pintu setelah itu karena sudah malam dia memutuskan untuk pulang saja dan memberikan pelajaran kepada Zava.
Didalam rumah Zava mendengar teriakan Dion tapi dia tidak menghiraukan dia juga tidak akan mengirim yang istimewa untuk Dion.
*****
Keesokan paginya Wawan sudah nangkring didepan pintu kontrakan Zava menunggu Zava keluar sebelum berangkat bekerja.
Tak lama kemudian Zava keluar untuk membuang sampah dan alangkah terkejutnya dia mendapati Wawan berdiri bersandar di samping pintunya dengan wajah lesu.
"Astagfirullah, bang Wawan bikin kaget saja!" Zava mengelus dadanya setelah dia menjatuhkan sampah.
__ADS_1
"Kenapa bang Wawan? kenapa mukanya lesu gitu." tanya Zava melihat Wawan tidak bersemangat.
"Va, apa benar Pak Dion calon suami kamu?" tanya Wawan memastikan.
Zava menelan ludahnya sendiri bagaimana ini apa dia harus jujur atau berbohong.
"Zava kenapa diam saja, apa kamu menyukai pak Dion." tanya Wawan lagi saat Zava diam saja.
Zava menggigit bibir bawahnya tambah bingung dengan pertanyaan Wawan kalau dia jujur maka ibu Lusi pasti akan marah dan dia akan diusir tapi kalau bohong dia kan bukan calon istrinya dan juga tidak tau menyukai Dion atau tidak, tapi pria itu selalu bisa membuatnya benci dan bergetar saat didekatnya.
"Iya Wan, bener tuan Dion calon suamiku dan aku menyukainya". ucap Zava dengan senyum paksa membuat Wawan tambah lesu.
Lalu tiba-tiba ponsel Wawan bergetar, Wawan segera melihatnya. Ada pesan untuknya
raut wajah Wawan sangat tidak enak setelah membaca pesan tersebut.
"Kenapa bang Wawan?" tanya Zava heran.
"Zava bos memintaku untuk membawa pesananmu lagi dan kau juga harus membawakan kotak makan untuk calon suamimu, kalau tidak maka dia yang akan kesini untuk mengambilnya.".
Zava tercekat dia hanya membuat pesanan untuk karyawannya saja dan dia sengaja tidak membuat untuk Dion tapi Dion seolah memaksanya untuk tetap membuatkannya.
"Emm... Wawan bisa tidak pesanannya kau yang ambil saja dan untuk bosmu kau juga yang memberikannya." Zava beralasan dengan wajah dibuat memelas mungkin.
"Aku lelah Wawan tolong yah!" Zava memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
Wawan tak bisa menolak dia jadi kasihan pada Zava.
"Baiklah aku akan menolongmu!" pasrah Wawan.
"Wah, kamu baik sekali bang Wawan terimakasih yah!" Zava senang akhirnya dia terbebas dari Dion dia lebih baik mengantar pesanan ke sekolah tempat mengajar Daryna.
Wawan melirik jam ditangannya, "Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu siang nanti aku akan kesini lagi.!" Kata Wawan menyudahi karena jam menunjukkan dia harus berangkat.
"Iya hati-hati bang Wawan." ucap Zava tersenyum dan dibalas Wawan dengan senyuman juga.
Setelah Wawan pergi Daryna pun datang.
"Hey, kau sedang apa? berpamitan dengan calon suami." candanya karena tadi dia melihat Zava dengan Wawan tersenyum.
__ADS_1
"Tidak, kau ini ada-ada saja!" jawab Zava cepat.
"Lalu itu kalian saling senyum, kamu suka Wawan yah!" ledek Daryna lagi.
"Apaan sih Daryna? tadi itu aku sedang minta tolong padanya untuk mengantarkan pesanan untuk teman-teman nya kekantor tempatnya bekerja jadi aku tidak perlu kesana lagi makanya aku senang." jawab Zava dan Daryna hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Lalu, siapa yang mengantar pesananku?" tanya Daryna saat ingat dia juga punya pesanan.
"Ya kau lah!".
"Aku, hanya aku!" bingung Daryna.
"Ya denganku tentu saja aku juga ingin tau dimana tempatmu mengajar?" ujar Zava.
"Tapi kau kenapa tidak mau mengantar ketempat Wawan."
"Sudahlah jangan banyak tanya, lagian aku sudah tau tempatnya dan sekarang aku ingin tau tempatmu bekerja, apa tidak boleh?"
"Tentu saja boleh ayu!" Daryna tersenyum sumringah lalu mereka masuk kedalam kontrakan Zava.
*****
Ditengah hiruk pikuk kota Jakarta dipagi hari yang penuh dengan kesibukan para manusia untuk beraktifitas masing-masing.
Disebuah rumah minimalis yang sejuk dan tentram tinggallah seorang lelaki berusia 24 tahun yang mengenakan pakaian rapih dengan style syar'i terlihat begitu nyaman dan sejuk.
Apalagi wajah lelaki itu yang tampan dengan sedikit kumis dan janggut dengan rambut yang disisir rapi.
Wajah yang teduh dan damai dan juga berseri menampakkan aura yang begitu tenang dan kalem dan selalu menebar senyum disetiap bertemu seseorang.
"Pagi mas, sudah rapi nih mau ngajar yah!" tanya seorang ibu-ibu yang lewat didepan rumahnya.
"Iya bu," jawab lelaki itu tersenyum ramah.
"Wah adem banget sih ngeliatnya, mas nya sudah punya calon belum kalau belum saya ada anak yang sudah siap dihalalin." celoteh ibu itu membuat lelaki itu terkekeh.
"Maaf Bu, saya sudah punya!" jawabnya mempersingkat waktu.
"Wah sayang sekali, padahal anak ibu cantik loh!" ibu itu terus berceloteh.
__ADS_1
"Ibu bisa saja, saya permisi yah bu mau berangkat mengajar!" lelaki itu berpamitan dengan menaiki motornya.
"Iya hati-hati yah mas ganteng."