
"Gilang, mau aku bantu." kata Zava cepat.
"Bantu apa?" tanya Gilang bingung.
"Bantu mendapatkan Salma." ujar Zava berterus terang membuat Gilang gugup dan salah tingkah.
"Apa maksudmu?" kata Gilang merasa gugup.
"Tidak perlu gugup seperti itu Gilang, aku tau sekarang kau sedang memikirkannya kan." Zava tersenyum mengatakan itu.
"Sudahlah Gilang, bilang saja kalau kau sekarang menyukai gadis itu dan jangan kau katakan kalau kau masih memikirkan istriku." kata Dion telak dan kata terakhir membuat Zava memutar bola mata malas sedangkan Gilang diam saja.
Lalu Dion menepuk pundak Gilang dengan keras sehingga membuat siempunya terjingkat kaget.
"Aku beri tahu padamu, jangan sampai kau patah hati untuk yang kedua kalinya atau kau akan menjadi bujang lapuk untuk waktu yang lama. Apa kau mau seperti itu?".
Ucapan Dion mampu membuat Gilang bereaksi dia pun menatap Dion dengan serius.
"Hey, tidak usah menatapku seperti itu, aku risih melihatmu." lanjut Dion menolak bertatapan dengan Gilang.
"Sepertinya yang kalian katakan itu benar. Aku memang harus berjuang." kata Gilang bersemangat.
"Nah begitu dong! kau jangan menyiakan cinta gadis yang tulus mencintaimu atau kau akan menyesal seumur hidupmu." tambah Zava tersenyum.
"Baiklah, kalian mau membantuku." pinta Gilang.
"Tentu saja, dengan senang hati." kata Zava tersenyum.
Dion juga ikut tersenyum, kali ini dia ingin membantu Gilang supaya Gilang tidak memikirkan istrinya lagi.
****
__ADS_1
Dipesantren Salma sedang termenung didalam kamarnya yang tidak terlalu luas namun sangat rapi dan bersih, dirinya sedang berdiri didekat jendela sambil memandangi tanaman bunga rose kesukaannya. Namun pikirannya tidak kesitu pikirannya melayang jauh pada pria yang berhasil mengisi relung hatinya.
Sudah dua minggu dirinya disini tapi sama sekali tidak ada kabar dari pria yang didambakannya.
Dia pikir setelah kepergiannya pria itu menyadari dan merasa kehilangan lalu pergi menemui dirinya dan mengatakan bahwa aku juga mencintaimu, tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja dia terlalu banyak berharap yang tak pasti mengharapkan cinta dari lelaki yang tidak menyukainya.
Salma menarik nafas pelan, meski begitu tapi tetap saja gadis itu tidak bisa melupakan cinta pertamanya sungguh sulit untuk dilupakan berkali-kali dirinya menyibukkan diri dengan berbagai hal tapi tetap saja bayangan pria itu tidak bisa hilang.
"Ya Allah.. kenapa Kak Gilang terus ada di pikiranku? kalau memang dia bukan jodohku lupakan ya Allah tapi jika dia jodohku maka dekatkanlah." gumamnya berdoa sambil menengadahkan wajahnya keatas.
Tak disangka ucapannya itu meski pelan namun terdengar oleh uminya dan uminya tersenyum lalu mendekati putrinya dengan pelan.
Karena pintunya tidak dikunci dan Salma pun tidak mendengar salam dari uminya sehingga membuat uminya langsung masuk.
"Salma..." panggil uminya pelan, namun berhasil membuat Salma terkejut dengan wajah pias.
"Astagfirullah Umi, sejak kapan umi disini? kenapa tidak mengucapkan salam?." kata Salma salah tingkah.
"Oh maaf umi, Salma tidak dengar." Salma merasa tidak enak karena tidak menjawab salam uminya.
"Tapi sepertinya anak umi sedang galau, ada apa nih? Salma bisa kok cerita sama umi." ucap umi memancing.
Salma membalikkan badan kehadapan jendela lagi, dia malu untuk bercerita pada uminya.
Uminya tersenyum mengerti kegundahan putrinya.
"Anak umi sudah besar rupanya. Sudah merasakan cinta juga."
"Umi... apa sih?"
"Tidak apa-apa nak! itu wajar tapi yang terpenting sekarang adalah pasrahkan diri kepada Allah dan terus berdoa kepada Allah insya Allah, Allah akan mendengar semua doamu."
__ADS_1
Seperti mengerti uminya memberi petuah yang langsung masuk kehati Salma sehingga membuatnya tersenyum lalu membalikan badan menatap uminya.
"Umi seperti tau saja! memangnya aku kenapa?"
"Dari matamu, dan wajahmu sudah bisa umi lihat kalau kamu sedang jatuh cinta dan galau secara bersamaan." ujar uminya membuat Salma terperangah malu.
"Ah umi... Salma kan jadi malu." ucap Salma memeluk manja uminya.
Lalu tiba-tiba kakak perempuannya Salwa datang dengan wajah gembira membuat Salma heran sedangkan uminya hanya tersenyum.
"Ada apa kak? gembira sekali keliatannya senyum-senyum sendiri lagi." kata Salma heran.
Salwa mendekati Salma kemudian merangkulnya, "Adik kakak ini rupanya sebentar lagi akan jadi istri orang." kata Salwa.
Salma mengerutkan alisnya, "Apa an sih kak! calon saja aku tidak punya bagaimana aku jadi istri orang." hardik Salma cemberut merasa kakaknya tidak lucu.
"Loh terus laki-laki yang didepan itu siapa yah! yang minta sama Abah buat meminang kamu."
Hahh..
Salma terbengong mendengar cerita dari kakaknya, bahwa hari ini ada yang meminangnya, dia sudah berfikir pasti bukan Gilang orangnya, berarti dia sudah dijodohkan dengan pria lain.
"Hey, kenapa bengong?" Salwa mengguncang bahu Salma yang terdiam.
"Umi, apa maksud kak Salwa aku dijodohkan?" tanya Salma gusar.
"Loh bukannya kamu memang sudah dijodohkan, kenapa jadi kaget begitu." jawab uminya menggelengkan kepala.
"Udah jangan banyak mikir, kamu pasti suka." kata Salwa terus tersenyum.
Tapi tidak dengan Salma, hatinya merasa gusar bagaimana kalau bukan Gilang karena sudah pasti dari awal Gilang menolaknya karena tidak mencintainya tapi jika itu orang lain bagaimana? apakah dia benar-benar harus mengubur perasaannya dalam-dalam?.
__ADS_1
Entahlah hanya dia dan tuhan yang tau.