
Dikeheningan malam, Dion masih terjaga menunggu gadisnya membuka mata dia menggenggam erat tangan mungil itu sambil sesekali mencium punggung tangannya.
Rasa rindu kian membara Dion tak sanggup melangkah sedikitpun dari Zava, seakan hanya dia lah orang yang pertama dilihat Zava ketika dia terbangun dari alam mimpinya.
Dion sudah merasa pulih, begitu juga dengan Rian namun karena Rian berbeda ruangan maka dia hanya menengok saja dan dia juga mempercayakan adiknya kepada Dion jadi dia tidak curiga atau berfikiran buruk jika mereka satu kamar rawat.
Hari pun sudah tengah malam, Dion tidak bisa tidur dirancangnya dia duduk disamping Zava sambil mengusap kepala gadis itu, Lalu saat dia hendak terlelap jari mungil gadis itu tiba-tiba bergerak perlahan seiring dengan jarum jam yang berdetak, lama kelamaan jari itu semakin bergerak cepat sehingga membuat Dion yang hampir terlelap menyadarinya dan langsung bereaksi.
"Zava...!" panggil Dion pelan.
Setelah jari itu bergerak, kini mata indah itu terbuka secara perlahan bayangan kabur sedikit demi sedikit menjadi jelas dan orang pertama yang dia lihat adalah Dion yang sedang menatapnya dengan mata berbinar senang.
"Zava sayang, kau sudah sadar." Dion reflek mencium kening Zava sambil menggenggam tangan mungil itu erat.
Dia sangat bersyukur wanitanya sekarang sudah sadar dan dialah orang yang pertama yang dilihatnya seperti keinginannya.
"Mas Dion...!" Zava memanggil nama Dion pelan.
Dan yang dipanggil menatapnya dari jarak yang cukup dekat.
"Ya sayang aku disini!" ucap Dion sambil menyentuh pipi Zava.
"Aku dimana?".
"Kau dirumah sakit, kau sudah pingsan dalam beberapa hari ini." jawab Dion.
"Aku pingsan selama itu," Lalu Zava mengeluarkan air mata tiba-tiba.
"Maafkan aku, merepotkan mu kau juga terluka karena aku." ucap Zava, matanya mengarah pada perut Dion.
Dion pun ikut melihat keperutnya, lalu mengusap air mata Zava, "Ini bukan salahmu sayang, ini salahku yang tidak bisa menjagamu."
"Lukamu, apa kau tidak apa-apa?". kata Zava hendak menyentuh luka yang sudah diperban itu.
Dion mengiring tangan mungil itu untuk menyentuh luka yang diperban itu, Zava malah meringis takut Dion kesakitan.
"Tidak apa-apa! lihat aku sudah sembuh kau boleh menyentuhnya." kata Dion melihat ketakutan Zava.
Lalu Zava menyentuhnya, "Apa ini sakit?"
"Tidak, sama sekali tidak. Aku lebih sakit melihatmu saat ingin dinodai oleh pria brengsek itu." kata Dion menatap dingin kearah lain saat mengingat peristiwa itu.
__ADS_1
Zava kembali menangis, dia juga ingat peristiwa itu melihat itu Dion merasa bersalah.
"Hey, sudah jangan menangis, maafkan aku mengungkit hal itu, aku tetap mencintaimu dan tetap akan menikahimu." ucap Dion menghapus air mata Zava lagi dan meyakinkan gadis itu.
"Maafkan aku, seandainya aku minta ijin dulu padamu, mungkin ini tidak akan terjadi."
"Sudah ini bukan salahmu, jangan salahkan dirimu. Sudah yah sekarang bagaimana keadaanmu apa kau baik-baik saja!"
Zava mengangguk. Dion tersenyum.
"Aku panggilkan dokter yah untuk memeriksa keadaanmu?" Zava kembali mengangguk, dia ingin jadi gadis penurut sekarang.
Dion pun memanggil dokter dan dokter itu langsung datang memeriksa keadaan Zava.
Dokter tersenyum saat mengetahui kondisi pasien.
"Alhamdulilah pasien sudah pulih sepenuhnya dia sudah berhasil melewati masa traumanya."
kata dokter tersenyum.
"Terimakasih dokter." ujar Dion dokter pun mengangguk dan mengundurkan diri.
"Apa kau lapar?" tanya Dion pada Zava saat dokter sudah pergi.
"Biar aku bantu."
Dion membantu mendudukkan Zava dengan perlahan dan penuh kasih sayang seolah tidak ingin ada yang lecet pada wanitanya.
Zava melihat jam didinding, ternyata sudah jam dua pagi.
"Mas, kau belum tidur atau tidak tidur?".tanya Zava setelah melihat jam dinding.
"Mana bisa aku tidur, sedangkan kau masih memejamkan mata." jawab Dion.
"Sekarang aku sudah bangun, saatnya kau tidur." kata Zava tersenyum.
"Dan sekarang mana bisa aku tertidur sedangkan kau terbangun." ucap Dion lagi tersenyum jahil.
"Mas ini bagaimana tadi tidak bisa tidur karena aku belum bangun sekarang tidak bisa tidur karena aku sudah bangun. Lalu mas maunya apa?" tanya Zava bingung.
Tentu saja Dion tidak akan bisa tidur apalagi Zava sudah terbangun, sudah pasti dia ingin melihat senyuman gadis itu serta bersenda gurau karena lama tidak bertemu.
__ADS_1
Dion tersenyum jahil membuat Zava merasakan hal yang aneh.
"Jangan macam-macam ini dirumah sakit!" kata Zava langsung menyela.
"Kau ini geer sekali, memangnya siapa yang ingin macam-macam denganmu." jawab Dion, tapi dihatinya berkata lain sebenarnya dia ingin memeluk dan mencium.
"Terus...!" dengan menyipitkan mata Zava berkata.
"Hey, kenapa matamu begitu? kau tau aku rindu padamu sangat... rindu. Apa kau tidak rindu padaku?" tanya Dion tersenyum menggoda.
"Aku...!" Zava malu untuk menjawab, dia malah memalingkan wajahnya dari Dion dengan pipi menghangat.
"Kenapa kau malu? ayo katakan saja! kalau kau tidak menjawab maka aku akan menciummu."
kata Dion asal tapi itu berhasil membuat gadis itu semakin malu.
"Eh mana bisa begitu!".
"Bisa, katakan jika kau rindu padaku?" ucap Dion kini dia menatap serius wajah Zava dengan sangat dekat membuat pipi Zava semakin memerah.
Dengan malu-malu Zava mengangguk, "I-ya aku juga rindu." ucapnya lalu tertunduk malu tak sanggup menatap wajah Dion yang tampan rupawan.
Tapi Dion malah mengangkat dagunya sehingga membuat wajah Zava mendongak keatas tapi matanya masih menunduk.
"Tatap mataku jika kau rindu padaku" kata Dion serius menatap dalam wajah Zava.
Mau tak mau mata Zava menatap mata indah Dion yang tajam, pandangan mereka pun bertemu. Terlihat kerinduan yang dalam dari mata keduanya yang tidak bisa ditutupi saat mata keduanya bertemu.
Perlahan wajah Dion mendekat membuat Zava berfikir bahwa Dion akan mencium bibirnya maka dia memejamkan matanya, Dion tersenyum melihat reaksinya dengan sayang Dion mencium kening Zava dengan lembut dan lama, dia benar begitu mencintai wanitanya ini.
"Setelah ini, kita menikah!" ucap Dion setelah mencium keningnya dan Zava membuka matanya.
Dirinya merasa malu sendiri karena mengira atau mengharapkan Dion mencium bibirnya. Dia juga senang karena Dion kembali melamarnya.
"Kau ingin pernikahan seperti apa? aku akan mewujudkannya." ucap Dion lagi mengusap lembut pipi Zava.
"Aku... terserah kau saja aku akan ikut!" jawab Zava.
"Baiklah, aku akan memberikan kejutan untukmu." Lalu Dion memeluk Zava dan mengusap kepala serta menciumnya, Zava merasakan kehangatan dalam pelukan itu dia pun membalas pelukan Dion dan memejamkan matanya.
Zava sangat bersyukur sekali mendapatkan lelaki seperti Dion dia berjanji akan menjadi istri yang baik dan berbakti pada suami.
__ADS_1
"Setelah ini, kita akan mengunjungi makam ibuku, aku akan memberi kabar padanya." kata Dion tanpa melepaskan pelukannya.
"Iya, aku akan ikut denganmu" jawab Zava tak melepas juga.