Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Bertemu Doni


__ADS_3

Kini Rian sudah diruangan Zava dan kaget melihat adiknya terbaring lemah, disitu masih ada Gilang dan yang lain dengan dipapah Tomi, Rian melangkah menemui adiknya.


Karena merasa ada kehadiran seseorang Gilang berdiri dan dia sedikit terkejut melihat Rian kini ada dihadapannya.


"Kak Rian.!" gumam Gilang memandang Rian dengan senang.


"Kau mengenalku." kata Rian mengerutkan alisnya melihat Gilang.


"Tentu saja aku mengenalmu, tapi mungkin kau tidak mengenalku." kata Gilang, memang dirinya mengenal keluarga Zava tapi keluarganya tidak mengenalnya hanya Zava saja yang mengenal.


"Aku teman adikmu juga selain Doni. Tapi aku memang tidak pernah kerumahnya seperti Doni." tambahnya.


"Siapa namamu?" tanya Rian kemudian.


"Namaku Gilang, kami semua ingin menjenguk Zava.


"Gilang, aku rasa sudah cukup berbasa-basinya sebaiknya kau bawa mereka semua keluar." ucap Dion yang merasa sesak karena diruangan itu penuh dengan manusia.


"Baiklah, semuanya ayo kita pulang.!" balas Gilang tidak tersinggung sama sekali dia mengerti mungkin kakaknya ingin bersama adiknya.


Mereka yang mengikuti Gilang pun keluar dan tak lupa tersenyum pada Dion, Rian, Tomi dan Kevin yang hanya Rian dan Tomi yang membalas.


Rian mendekati Zava dan duduk disampingnya, Rian kagum dengan perubahan Zava yang ternyata sangat cantik namun saat ini dengan wajah pucat dan lemah.


Dia jadi mengingat waktu terakhir bertemu pada saat terjadi kebakaran dan akhirnya sekarang dia bisa mengingat semuanya, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini.


"Sejak kapan dia seperti ini?." tanya Rian pada siapapun, karena pandangannya terarah pada gadis yang sedang berbaring itu sambil mengelus kepalanya.


"Sejak dua hari yang lalu." Dion yang menjawab.


"Kenapa dia bisa seperti ini? kenapa kita dipertemukan dalam keadaan seperti ini?". lirih Rian, air mata turun seketika.


"Ayah, ibu apa kalian tau apa yang terjadi dengan anak gadismu?".


"Sudah cukup ya tuhan, meski aku tidak tau apa yang terjadi padanya setelah kebakaran itu. Tapi aku merasakan penderitaan yang dia rasakan selama ini. Dia gadis baik berilah dia kebahagiaan." ucapnya dengan lirih.


Dan yang lain ikut merasa sedih mendengar penuturan Rian, Dion maju dan menyentuh pundak Rian.


"Kau tenang saja Rian, sekarang ada aku. Aku yang akan membahagiakannya seumur hidupku." ucap Dion dengan yakin.


Rian mendongakkan kepalanya pada Dion.


"Kau Dion." tanya nya dengan serius dan berdiri menghadap Dion.


"Iya aku Dion!."


"Titi, pernah cerita tentangmu dan dia berkata padaku bahwa dia sangat mencintaimu tapi aku malah mencoba untuk memisahkan kalian dan... malah menyetujui Edgar hanya karena balas budi." terang Rian merasa bersalah.


"Tidak apa-apa itu semua sudah berlalu, lagi pula Edgar sudah tewas." balas Dion tersenyum tipis.

__ADS_1


"Apa...??? tuan Edgar tewas." Rian terkejut mendengarnya karena memang dia belum tau.


"Iya Ian, tuan Edgar sudah tewas, tapi kau tidak usah terkejut dan merasa bersalah karena asal kau tau penyerangan yang terjadi padamu itu karena tuan Edgar yang sengaja ingin mencelakaimu supaya kau tidak bisa menemui adikmu, karena tuan Edgar hanya ingin memanfaatkanmu." ungkap Tomi panjang lebar.


Tentu saja Rian tak habis pikir, dia jadi terdiam, "Jadi tuan Edgar hanya ingin...!"


"Iya dia juga ingin memperkosa adikmu."


"Apa?? memperkosa, lalu bagaimana?" mendengar Zava ingin diperkosa Rian langsung panik.


"Adikmu baik-baik saja untungnya tuan Dion datang tepat waktu." tambah Tomi.


"Syukurlah!" Rian menghela nafas lega.


Lalu Rian menghadap Dion lagi, "Terimakasih dan maafkan aku." ucap Rian tersenyum.


"Tidak masalah, aku senang melakukannya dan sekarang apakah aku boleh meminang adikmu." balas Dion ikut tersenyum.


"Tentu saja kau boleh meminang adikku kapanpun." kata Rian tersenyum merekah.


"Terimakasih!" maka merekapun berpelukan.


****


Disebuah pemandangan yang sangat indah seorang gadis cantik sedang menghirup udara yang sangat segar dengan pakaian gamis panjang yang indah.


Angin segar berhasil membuat hijab dan gamisnya melambai-lambai cantik.


Burung-burung pun berterbangan bersama kupu-kupu yang lain seolah tak ada beban.


"Hai kupu-kupu cantik, kenapa kau menghampiriku." tanya gadis itu dengan tersenyum manis.


Tiba-tiba kupu-kupu itu menjawab membuat gadis itu terkejut.


"Karena aku mencintaimu, dan sampai kapanpun akan terus mencintaimu". jawab kupu-kupu itu dengan bersuara lelaki.


"Kau bisa bicara kupu-kupu." tanya gadis itu terkejut.


"Iya karena ini dunia mimpi, jadi aku bisa melakukan apapun." ucapnya tak lama kemudian kupu-kupu itu terbang menjauh dan berubah menjadi sesosok lelaki yang tampan yang sangat dikenali gadis itu.


"Doni...!" ucap gadis itu menutup mulutnya.


"Hay Ti, apa kabar?" ucap Doni tersenyum manis.


Mata gadis itu berkaca-kaca ingin sekali memeluk lelaki itu.


"Kalau ini dunia mimpi, boleh aku memelukmu." kata gadis itu berharap.


"Tentu saja, silahkan!" jawab Doni dengan merentangkan tangannya.

__ADS_1


Lalu gadis itu langsung berhambur kepelukan lelaki itu dengan erat dan lelaki itu juga membalas pelukan gadis itu dengan erat juga.


Air mata pun tumpah tak dapat dibendung, dua-duanya meneteskan air mata menahan kerinduan yang tiada tara.


"Aku rindu padamu, aku rindu... akhirnya aku bisa bertemu denganmu." ucap gadis itu lirih.


"Aku juga rindu padamu Titi." ucap Doni menyebut nama gadis itu.


"Aku ingin ikut kamu saja Doni, aku tidak mau disana." kata Titi alias Zava menangis dipelukan Doni.


Doni melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Zava, "Jalanmu masih panjang Ti, masih ada orang yang menyayangi dan mencintaimu. Ini sudah takdir kita bahwa kita tidak bisa bersama." Lalu memeluk lagi.


"Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukmu dan mungkin aku kurang baik untukmu, makanya aku diambil duluan." kekeh Doni membuat Zava mencubit lengannya.


"Kenapa bicaramu begitu, bilang saja kamu tidak mau denganku?" kata Zava mengerucutkan bibirnya.


"Kamu semakin cantik sekarang, kalau aku masih hidup, mungkin aku tidak akan rela melihat kamu disukai pria lain. Aku akan mengikat dan mengurungmu agar kamu tetap disisiku." ucapnya sambil mencubit lembut hidung Zava.


Zava tersipu malu dan menepis pelan tangan Doni.


"Aku jadi seperti burung dalam sangkar emas dong" jawabnya sambil tersenyum malu.


"Tapi... aku juga merasa yakin kalau lelaki yang akan jadi suamimu kelak dia pasti akan lebih posesif dariku, Kau lihat saja nanti." kata Doni menyentuh dagunya.


Zava memukul lengan Doni lagi, "Jangan meledekku, memangnya aku siapa sampai harus diseperti itukan." kesal Zava.


Doni terkekeh, lalu Doni menyentuh kedua pundak Zava dan menatapnya serius membuat Zava menjadi tegang.


"Kembalilah ke dunia mu Titi. karena disana banyak orang yang menyayangimu sedang menunggumu sekarang."


"Apa maksud kamu Doni?".


"Kembalilah kepelukan orang yang benar-benar mencintaimu, dia sedang menunggumu sekarang. Lihatlah disana.!" ucap Doni kemudian menunjuk dibelakang Zava.


Zava pun menoleh kebelakang melihat ada seekor burung yang terbang melintasinya dan burung itu menjelma menjadi lelaki yang begitu tampan rupawan.


"Pergilah dengannya, kamu pasti akan bahagia dengannya." ucap Doni tersenyum tulus.


"Mas Dion..." ucap Zava.


Dion yang disana tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.


"Ayo sambutlah!"


"Ta-pi..!" Zava menjadi ragu.


"Ikutlah dia, dan berbahagialah." kata Doni menganggukan kepalanya.


Zava perlahan berjalan menuju Dion dia mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Dion dan saat Zava sudah menyambut tangan Dion, Doni perlahan menjauh bersama kabut asap yang mengitarinya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Terimakasih Doni." ucap Dion pelan.


Zava menangis kembali melihat Doni yang menghilang bersama kenangan indah mereka, kemudian Dion memeluk gadis itu untuk menenangkannya.


__ADS_2