Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Tertembak


__ADS_3

"Cepat Gilang bawa dia pergi, biar aku yang mengurus sipengecut ini!" ucap Dion lagi dengan suara tinggi.


Lalu Gilang melangkah maju, dan secepat kilat Edgar mengambil senjata pistol yang berada didalam nakas dan ketika ingin menembak, Dion melihatnya diapun segera menghalangi Gilang dan Zava dari tembakan yang akan dilontarkan oleh Edgar.


Dorr


Dorr


Dua kali suara tembakan tepat mengenai tubuh bagian depan milik Dion membuatnya seketika terdiam.


Gilang dan Zava yang mendengar suara tembakan ikut terdiam, suasana dalam ruangan itu seketika mendadak hening dan seluruh aliran darah berhenti.


Gilang memutar tubuhnya yang masih membopong Zava untuk melihat siapa yang tertembak.


Dion yang berada didepannya ambruk dengan darah yang sudah mengalir dibagian tubuhnya.


Zava dengan pandangan kosong merasa dejavu dia menurunkan tubuhnya sendiri dari pangkuan Gilang dan dengan derai air mata dia memapah kepala Dion kepangkuannya.


Dan pada saat itu juga Kevin datang dengan membawa senjata dia terperangah melihat tuannya jatuh dengan darah yang mengalir, lalu matanya beralih menatap Edgar yang sedang memegang pistol, dengan secepat kilat Kevin menembak Edgar beberapa kali dibagian jantungnya hingga membuat Edgar ambruk kelantai dirinya memuntahkan darah segar dan nyawanya pun melayang tewas seketika.


Zava menatap sendu pada Dion hati dan jantungnya tiba-tiba seperti terasa ditusuk sembilu hingga membuatnya sesak dan lidahnya terasa tercekat tidak dapat mengeluarkan suara.


Gilang dan Kevin pun ikut terdiam, sejurus kemudian Kevin menelfon pihak rumah sakit agar menyiapkan ruangan untuk Dion yang tertembak, juga para pengawalnya untuk menyiapkan pesawat.


Tangan Dion terulur menyentuh pipi Zava yang sudah terkena darah, Zava menyambut tangan itu dan menggenggam erat, air mata terjatuh dan mengenai pipi Dion dia memejamkan matanya merasakan hangatnya air mata itu.


"Di-on...!" akhirnya Zava dapat mengeluarkan kata itu yang sedari tadi ingin dia panggil, dia sungguh tak sanggup jika kejadian yang dialami Doni dulu akan terjadi lagi pada Dion dan dia akan kehilangan cintanya lagi.


Mungkin dunianya akan hancur bersama cintanya dan Zava tidak tau apakah dia bisa bangkit kembali dari keterpurukan itu atau tidak?.


"A-ku men-cintaimu, sa-ngat men-cin-taimu." ucap Dion dengan nada terbata-bata.


Zava memejamkan matanya meresapi kata-kata itu tapi dia juga sedih mendengar kata-kata itu dalam keadaan yang seperti ini. Kembali dirinya diingatkan dengan kejadian masa lalu.

__ADS_1


"Ja-wab a-ku Zava, apa-kah kau men-cintaimu ju-ga."


"Iya Dion aku juga mencintaimu, aku sangat mencintaimu dan aku mau menikah denganmu. Tolong jangan tinggalkan aku lagi." ucap Zava dengan nada lirih masih menggenggam erat tangan Dion.


jederr


Bagai petir disiang bolong Gilang mendengar ungkapan perasaan Zava pada Dion dia sungguh melihat dan bisa merasakannya bahwa Zava memang benar mencintai Dion dengan tulus tanpa paksaan ataupun hanya sekedar menyenangkan hati Dion.


Kini hati Gilang yang terasa teriris-iris terluka tanpa berdarah, cintanya terenggut lagi pada kakak beradik itu dan cintanya dari dulu memang bertepuk sebelah tangan.


Dirinya menyadari bahwa cinta memang tak harus memiliki meski dia mempertahankan perasaan ini untuk satu orang gadis yang sangat dia cintai.


Pupus sudah harapannya dan impiannya untuk menikahi Zava dan menjadikan dia istri seutuhnya. Mungkin Allah memang tidak menakdirkannya untuk bisa bersama dengan gadis pujaannya.


Dia juga dapat melihat bahwa keduanya memang saling mencintai tanpa syarat, Gilang kemudian menundukkan kepalanya tak mampu melihat gadis pujaannya menangisi pria lain penuh dengan kekhawatiran didepan matanya.


Dion tersenyum mendengar ungkapan balasan cinta dari Zava, kata-kata itu membuatnya bersemangat untuk bertahan.


"Stttt..." Zava menghentikan kata yang ingin diucapkan Dion.


"Sudah jangan banyak bicara, aku akan membawa mu kerumah sakit." lanjutnya dengan mata yang sudah teramat sembap.


Lalu tak lama kemudian para pengawal datang dengan melaporkan bahwa pesawatnya sudah siap terbang.


"Nona kita harus membawa tuan pergi sekarang juga." kata Kevin segera.


"Iya cepat, bawa dia tolong selamatkan dia." jawab Zava dengan antusias.


Kemudian Gilang membantu Kevin mengangkat Dion dan sebelum itu Kevin berkata.


"Nona tutuplah kepalamu dulu, tuan pasti tidak akan senang melihatmu seperti ini." ucap Kevin mengerti seperti mewakili perasaan Dion.


Zava yang mendengar itu segera mengambil hijabnya dan memakainya namun dia masih memakai sprei dan membungkus tubuhnya dengan rapih, rasa sakit yang terluka akibat jatuh pada lengan dan kakinya tidak dia rasakan lagi bahkan darah itu sudah mengering dengan sendirinya.

__ADS_1


"Dan kau kalian urus jenazahnya." perintahnya dengan dingin pada pengawalnya menunjuk pada tubuh Edgar yang tergeletak.


"Baik tuan."


Mereka semua pun pergi menaiki pesawat dan terbang meluncur meninggalkan vila itu. Didalam pesawat jet milik Dion Zava terus saja menggenggam erat tangan Dion, sedangkan Dion berusaha tenang meskipun sangat menyakitkan demi membuat wanitanya tidak terlalu panik.


Zava berdoa dalam hati dengan memejamkan mata, sambil mulutnya berkomat kamit.


Tapi tak lama kemudian karena Dion terus mengeluarkan darah meski lukanya sudah dibebat kuat oleh Kevin membuat kesadarannya kini berkurang, perlahan matanya menutup dan tangannya yang digenggam Zava mengendur hingga terjatuh.


Zava yang menyadari tangan itu terjatuh langsung merasa cemas dengan degup jantung yang sudah tak beraturan dirinya benar-benar trauma dengan kejadian masa lalunya.


Dengan pandangan kosong Zava menatap Dion yang kini sudah menutup matanya rapat dan hal itu membuat Gilang khawatir karena Zava tiba-tiba mendadak seperti patung.


"Zava kau kenapa?" Gilang mengguncang bahu Zava, namun Zava diam saja tak bereaksi apapun membuat Gilang semakin khawatir.


"Kevin ada apa ini? ada apa dengan mereka berdua." ucap Gilang jadi panik diikuti Kevin yang biasanya bersikap tenang kini menjadi ikut cemas juga.


Tak lama kemudian Zava pun ambruk dan Gilang dengan sigap menangkapnya sebelum Zava mengenai tubuh Dion yang terluka.


"Zava bangun kau kenapa?." ucap Gilang, air mata pun luruh seketika.


Kevin memeriksa tubuh Zava dan Dion dan bernafas lega karena mereka masih hidup.


"Tenanglah, mereka masih hidup kita masih punya harapan." kata Kevin.


Gilang tak kuasa menahan tangis dia lega mendengar pernyataan Kevin, kemudian memeluk Zava dengan erat dan mengucapkan kata yang selalu ingin dia ungkapkan.


"Zava, aku mencintaimu sejak dulu dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku keluar dari penjara aku akan menjadi lelaki yang baik dan menjadi imam untukmu dan juga melamarmu untuk kujadikan istri, itulah impianku. Namun melihat kau mencintai pria lain dengan tulus itu sudah menjadi takdirku bahwa kita memang tidak berjodoh dari dulu.


Maafkan aku yang pengecut ini Zava yang menyatakan perasaanku ketika dirimu tak sadarkan diri." ucap Gilang dari hati sampai dia terisak mengatakannya tapi dia merasa lega telah mengungkapkannya meski Zava tidak mendengarnya.


Kevin tersentuh hatinya mendengar kata-kata Gilang yang sangat tulus itu tapi Kevin pun tak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk cinta segitiga itu.

__ADS_1


__ADS_2