
Kini Zava dan Dion berada dibazar, Zava sangat senang sekali karena sudah lama dirinya tidak kesana.
Banyak aneka pedagang yang menjajakan dagangannya, banyak juga yang terus menawari dagangannya pada calon pembeli.
Zava hari ini tidak ingin belanja hanya ingin makan kuliner yang ada disitu, kuliner yang dia sukai.
Dion terus mengikutinya dengan sabar dan tenang dia juga tentu saja jadi pusat perhatian meski dia sudah merubah penampilannya tidak seperti waktu dipasar tapi tetap saja mata para wanita tidak berhenti menatap dirinya.
Tapi dia tidak peduli selagi istrinya senang dan bahagia dia akan melakukannya.
Seperti hari ini, Dion tidak berhenti diseret sana sini oleh istrinya hanya demi mencicipi jajanan yang disukai istrinya seperti corndog, pentol cabe,kue crepes dan semua jenis jajanan lainnya.
Dion hanya mampu menggelengkan kepala istrinya sangat suka sekali makanan lokal sedangkan dirinya baru pertama kali mencoba jajanan lokal itu. Awalnya Dion tidak suka tapi karena terus dijejeli oleh Zava dia jadi suka juga membuat istrinya tertawa senang saat melihat Dion yang kepedasan.
Sudah dua jam mereka disana, Zava juga sudah puas berkeliling dan hanya mendapatkan makanan tidak dengan benda ataupun barang sehingga Dion pun bertanya.
"Kau sedari tadi berkeliling, hanya ini yang mau beli. Tidak ingin membeli sesuatu." kata Dion menunjuk bungkusan plastik ditangannya yang isinya makanan semua.
"Dan kenapa kau membeli banyak makanan ini? memangnya kau ingin menghabiskan makanan ini sendiri." sambungnya lagi menatap heran. Karena tidak mungkin istrinya bisa menghabiskan makanan itu sedangkan dirinya sudah mencicipi.
"Tidak lah, aku ingin bagi-bagi makanan ini." balasnya seraya tersenyum.
"Bagi-bagi dengan siapa?" tanya Dion heran.
"Dengan orang lain, boleh kan." ucapnya dengan mata berbinar.
Melihat mata Zava yang menampilkan seperti itu membuat Dion tak kuasa untuk menolak dia pun mengangguk tersenyum.
"Terimakasih suamiku. Lain kali kita berbagi yang lain juga yah!"
__ADS_1
"Apapun untukmu sayang?". Zava pun tersenyum.
Setelah itu mereka pergi ke taman dimana disana banyak orang-orang yang berlalu lalang demi untuk menyempatkan diri bersama keluarga, teman maupun pasangan.
Ada juga pekerja kebersihan, pengamen dan bahkan pengemis pun ada.
Mobil berhenti, pasangan pengantin itupun keluar dengan membawa banyak bungkusan makanan.
Sambil berjalan Zava membagikan makanan itu kepada yang didekatnya dan dilihatnya tanpa memandang tetapi dia mengutamakan yang lebih membutuhkan.
Saat Zava sedang berkeliling bersama Dion matanya tak sengaja menangkap seseorang yang sedang termenung sendiri, dari punggungnya dia bisa melihat kalau seseorang itu adalah yang dikenalinya dan terlihat sekali bahwa dia sedang gelisah, Zava pun berniat untuk menghampirinya.
"Mas, coba lihat disana! sepertinya dia butuh seseorang." kata Zava menunjuk dengan tangannya.
Dion menyipit untuk memastikan seseorang itu.
"Itu seperti Gilang, untuk apa dia termenung sendiri disana. Apa dia masih belum melupakanmu." kata Dion asal membuat Zava memutar bola mata malas.
"Benarkah! dia sudah move on secepat itu." Dion berdalih tidak percaya.
"Iya, aku dengar dari Daryna dia sedang memikirkan Salma yang kembali kepesantren ayahnya dan tidak akan kembali kesini. Mungkin dia merasa kehilangan." jawab Zava.
"Lagi pula untuk apa juga dia masih memikirkanku yang sudah pasti tidak bisa membalas. Kau akan marah nanti." lanjutnya dengan tersenyum.
"Tentu saja aku akan marah, siapapun yang mendekatimu tidak akan aku biarkan." ujar Dion serius.
"Serius sekali kau ini, sudahlah lebih baik kita samperin dia." kata Zava menyudahi.
"Untuk apa?"
__ADS_1
Zava memutar bola mata malas mendengar ucapan suaminya, "Tentu saja aku akan menghiburnya."
Setelah berkata seperti itu Zava langsung pergi meninggalkan Dion yang termenung lalu memanggil dan mengikutinya.
****
"Gilang...!" sapa Zava ketika sudah didekatnya.
Pria itu segera menoleh dan terkejut melihat Zava berada dibelakangnya disusul Dion yang dibelakangnya juga.
"Zava, Dion. Kalian kenapa disini?" tanya Gilang heran.
"Kebetulan aku sedang jalan-jalan, dan membeli sesuatu lalu melihatmu disini sendiri, makanya aku samperin." jawab Zava tersenyum.
Dion merasa cemburu saat istrinya tersenyum pada pria lain lalu dia berbisik ditelinga Zava.
"Jangan tersenyum pada pria lain, atau aku akan mengurungmu dikamar seharian dan tak akan melepaskanmu." ucap Dion yang mana perkataannya membuat tubuh Zava menegang,
lalu tersenyum kikuk pada Gilang.
"Boleh aku duduk!"
"Silahkan!" Gilang menggeser duduknya ke ujung, dengan gerak cepat Dion langsung duduk disamping Gilang sebelum Zava duduk disebelahnya. Jadi Dion berada ditengah mereka.
Zava memutar bola mata malas melihat kelakuan suaminya lalu diapun duduk.
"Makanlah ini dulu Lang." Zava menyodorkan makanan yang masih ada pada Gilang.
"Terimakasih" Gilang menerimanya dan memakannya.
__ADS_1
Gilang sedang makan, Zava pun ikut makan makanan itu diikuti Dion.
Mereka pun makan dengan lahap tak terasa makanan itu sudah habis lalu Zava memulai pembicaraan mereka.