
"Gilang...!" teriak Joni memanggil Gilang, karena Gilang berada jauh dari meja mereka.
Gilang yang merasa namanya dipanggil segera menoleh mencari keberadaan asal suara itu diikuti oleh teman-teman SMA nya salah satunya Riko.
Saat pandangan nya sudah terarah seseorang melambaikan tangannya yang Gilang pastikan itu adalah Joni. Tapi bukan Joni yang jadi perhatian Gilang melainkan pengantin wanitanya yang sedang duduk dengan anggun berkumpul bersama mereka.
Tiba-tiba hatinya kembali merasakan perih mengingat gadis yang dicintainya dari dulu kini telah menjadi milik orang lain.
"Lang, bukannya itu teman-teman Doni!" kata Riko menunjuk dengan dagunya.
"Iya benar, yuk kita samperin." kata salah satu teman yang lain.
Mereka kemudian menghampiri dan menarik Gilang yang tak ada semangatnya, Gilang sebenarnya tidak mau dekat-dekat dengan Zava karena itu hanya akan membuatnya tidak kuat menata hatinya.
Mungkin dirinya butuh waktu untuk menata hatinya kembali.
"Hay, semua apa kabar?" tanya Riko mengawali dan disambut dengan hangat oleh semua yang duduk disana.
"Hay, bro kabar gue baik." Joni menjawab dengan membalas jabatan tangan Riko.
Lalu diikuti dengan yang lain sambil berjabat tangan ria. Teman Gilang juga memberikan selamat pada Zava dan tak lupa terus memujinya. Zava hanya tersenyum menanggapinya.
Gilang merasa cemburu walau Zava bukan miliknya tapi dia juga tidak mau jika Zava terus dipuji oleh pria lain.
"Eh sudahlah, dia sudah punya suami jangan terus memujinya, jika nanti suaminya marah baru tau rasa kalian." ucap Gilang tegas.
Namun yang lain bukannya takut, mereka malah terkekeh sebab mereka tau kenapa Gilang berbicara seperti itu.
"Ngga usah bilang suami Lang, nih yang didepan kita juga sebenarnya cemburu." kata Joni meledek Gilang.
Gilang jadi salah tingkah sendiri, ternyata kentara sekali dari wajahnya jika Gilang memang cemburu.
Ah sial, kenapa malah jadi aku yang kena.
ucap Gilang dalam hati malu sendiri.
Ardan juga bisa melihat ternyata Gilang memang masih menyimpan rasa terhadap Zava dari dulu dan belum move on sampai sekarang. Untung dirinya sudah move on dan sekarang dia sudah benar-benar mencintai Lila sepenuhnya.
Hanya saja dia kagum dengan Zava yang sekarang karena sudah lama tidak bertemu namun hanya sebatas kagum dan cintanya tetap untuk Lila yang terus memperjuangkan cintanya.
"Eh Lang ngomong-ngomong, ada yang berubah darimu?" tanya Rendi pada Gilang.
"Ya iyalah masa iya mau kayak dulu aja. Ya ngga Lang!" Joni yang menjawab dengan merangkul pundaknya.
__ADS_1
Gilang hanya tersenyum menanggapinya.
Tak lama kemudian Dion sudah selesai dengan urusannya dan segera menghampiri pengantinnya yang dikerumuni banyak pria.
Dan sebenarnya dari tadi mata Dion tak berhenti memperhatikan Zava dan dia ingin segera menarik pengantinnya untuk menjauh dari sekumpulan para pria itu karena dia tidak suka.
Tentu saja Dion cemburu apalagi disitu ada Gilang yang matanya tak berhenti tertuju pada istrinya.
Dion melangkah pasti, derap langkah kakinya membuat sekumpulan pria itu berhenti berbicara dan memandang Dion dengan aura yang menguar tajam dapat dipastikan semuanya segan terhadap bos besar itu.
"Selamat siang semuanya!" sapa Dion dengan suara beratnya.
"Siang kak..." jawab semuanya serempak, kecuali Zava dan Gilang.
Membuat mereka jadi duduk lebih sopan dengan wajah yang gugup. Kecuali Ardan selalu bersikap tenang dalam keadaan apapun bukan berarti Ardan tidak tau siapa Dion sebenarnya.
"Apa aku mengganggu kalian?" ucap Dion lagi.
"Ti-dak." jawab sebagiannya gugup sebagian lain menjawab dengan gelengan kepala gugup juga.
"Kalau begitu, bolehkah aku mengambil pengantinku.!" ucapnya dengan tenang namun tetap saja mengintimidasi.
"Boleh, silahkan!".
Karena tidak ingin membuat mereka tidak nyaman terpaksa Zava harus menghentikan obrolannya yang padahal masih rindu dengan Lila, sahabatnya.
"Maaf yah teman-teman, sepertinya aku harus pergi." kata Zava berdiri tidak enak pada yang lain.
"Tidak apa-apa, mungkin suamimu membutuhkanmu." jawab Ardan mengerti dan Lila juga tersenyum mengangguk.
"Lila, aku pergi dulu yah! kau bersenang-senang lah disini." pamit Zava pada Lila.
"Iya tidak apa-apa, aku mengerti. Sekali lagi selamat yah aku turut bahagia denganmu." Lila ikut berdiri sambil menggendong putrinya.
"Iya terimakasih yah Lila sudah mau datang."
"Oh iya, setelah ini kami akan langsung terbang dan tidak tau kapan akan bertemu lagi." kata Lila menatap sendu.
"Jadi kalian langsung pulang, tidak menginap dulu." timpal Zava menatap sendu juga.
Dan yang lain ikut mengangguk.
"Maaf yah Ti, bukannya aku tidak mau berlama-lama disini, hanya saja waktu yang tidak memberikan kami kesempatan." kata Lila.
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa-apa, kalian sudah hadir disini juga aku sudah senang."
Lalu Zava dan Lila berpelukan, kembali menghimpit putri kecil Lila.
"Hey, kalian menghimpit anakku lagi!" ucap Ardan dan membuat semuanya tertawa.
"Eh maaf ya sayang, aunti masih kangen soalnya." timpal Zava dengan menyentuh hidung mungil putri Lila.
"Sayang, ayo!" kata Dion sudah tidak sabar.
Zava tersipu malu karena ini pertama kalinya Dion memanggilnya dengan kata 'Sayang'.
"Eh iya! semuanya aku pamit yah!"
Semua pun mengangguk.
Zava dan Dion segera pergi meninggalkan mereka semua. Gilang memandangi punggung Zava yang sudah menjauh dengan perasaan sedih.
"Sabar Lang, cinta memang tidak harus memiliki." ucap Joni menepuk bahu Gilang.
Gilang terhenyak menyadari dirinya ketauan lagi.
"Iya Lang perempuan diluar sana masih banyak bukan cuma dia doang, relain dia kalau emang Lo cinta dia." kata Riko bijak.
Mengenai perempuan lain, Gilang jadi teringat Salma. Apakah mulai sekarang dirinya harus membuka hati untuk gadis itu? sepertinya tidak apa-apa.
"Tapi gue benar-benar ngga nyangka kalau Titi bisa berjodoh sama Dion, lo semua tau kan siapa Dion." Joni menggelengkan kepala tidak percaya.
"Iya, padahal rumornya yang gue denger Dion itu ngga mau nikah tapi ternyata nikah juga sama Titi pula cewek yang disukai Doni adiknya sendiri." tambah Rendi antusias.
"Kalau seandainya Doni masih hidup, mereka rebutan ngga yah!" tambah Joni menimpali, tangannya sambil menyentuh dagunya berfikir.
"Mungkin, rebutan tapi tetap menurut gue yang dapat kakaknya." jawab Riko asal.
"Lah kenapa kakaknya?"
"Karena kakaknya lebih pemaksa, dan berkuasa dari Doni dan menurut gue juga si Titi lebih suka sama kakaknya". kata Riko berekspektasi sendiri.
"Hey, sudah kenapa kalian jadi ngomongin orang yang sudah meninggal itu tidak baik." ujar Gilang yang sebenarnya kesal.
"Sudah lah aku pergi dulu, aku ada urusan lain." katanya sambil berlalu membuat mereka menggedikkan bahu acuh.
"Sudah mengertilah dia sedang patah hati." kata Alvian menimpali.
__ADS_1
Dan disambut gelak tawa dari mereka semua.