
Setelah panggilan video itu berhenti tiba-tiba ada panggilan lain dari nomor tak dikenal. Zava mengerutkan alisnya bingung. Siapakah yang menelfonnya bukankah tidak ada yang tau karena Zava tipe orang yang tidak ingin ambil pusing dia pun tidak mengangkat panggilan itu dan mengabaikannya tetapi telfon itu terus berbunyi membuat Zava kesal yang akhirnya mengangkatnya.
"Halo siapa yah? kalau tidak kenal jangan menelfon." sewot Zava dibalik telfon.
"Aku mengenalmu, makanya aku menelfonmu tapi kau tidak mengangkatnya juga." suara itu suara seorang pria yang mengaku mengenal Zava.
"Tapi maaf aku tidak kenal!" Zava ingin mematikan ponsel itu tapi pria itu berkata lagi yang membuat Zava mengurungkan niatnya.
"Apa kau ingin bertemu dengan kakakmu!" kata pria itu lagi.
Zava terdiam tentu saja dia ingin bertemu. "Kau siapa?".
"Kau melupakanku, cepat sekali aku Edgar pria yang sudah dilempari ice cream olehmu." kata pria itu tersenyum.
Zava melotot seketika dari mana pria ini tau nomornya bukankah Dion tidak memperbolehkan nya menerima telfon dari seorang pria.
"Kau, dari mana kau tau nomorku?" tanya Zava panik.
"Itu urusanku, mendapat nomormu dari mana yang terpenting sekarang adalah kau mau bertemu dengan kakakmu atau tidak! karena rencananya kami hari ini ingin pergi keluar negri dalam jangka waktu yang lama dan kau tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi." kilah Edgar untuk memperdaya Zava.
"Hah, kakakku ingin pergi, baiklah aku akan menemuinya. Dimana aku bisa menemui kakakku." tanpa pikir panjang Zava menyetujui dan percaya ucapan Edgar.
Edgar tersenyum samar karena berhasil memperdaya Zava.
"Berikan saja alamat tempat tinggal mu, nanti aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu".Kata Edgar berdalih.
Zava terdiam mencoba berfikir dia orang jahat atau bukan tapi dia ingin sekali bertemu dengan kakaknya.
"Ya sudah kalau kau tidak mau, maka kau tidak akan bertemu dengan kakakmu lagi." ancamnya halus membuat Zava langsung bereaksi.
"Baiklah, aku akan berikan alamatnya." Zava pun menyebutkan alamatnya?.
"Baiklah, terimakasih! sebentar lagi akan ada yang menjemputmu." katanya lalu mematikan panggilan tersebut.
Zava masih termenung melihat ponselnya dia memang ingin bertemu dengan kakaknya tapi saat ini kakaknya sedang amnesia dan sedang bersama pria aneh yang menjadi tuannya.
__ADS_1
Lalu yang membuat dia bingung lagi dari mana pria itu tau nomornya padahal dia tidak pernah memberikan nomor pada siapapun apakah dia seorang Intel atau hacker membayangkannya saja sudah membuat bergidik.
Sekarang Zava menjadi bingung apakah dia harus menuruti saran pria itu atau tidak? mengingat dia tidak terlalu mengenal pria itu.
Lalu dia memutuskan untuk memanggil Dion untuk meminta persetujuannya tapi sebelum dia memanggil Dion sebuah mobil sedan mewah sudah memasuki halaman rumahnya dan keluarlah seorang pengawal berbaju hitam berbadan tegap dan besar.
Pengawal itu menyapa Zava dengan sopan, "Selamat pagi nyonya saya pengawal tuan Edgar ingin menjemput nona untuk bertemu dengan tuan Rio yang nona bilang kakak nona."
Zava memandang pria tinggi besar itu ada rasa takut yang menyelimutinya dan tak lama kemudian panggilan dari Edgar masuk kembali Zava mengangkatnya karena masih mengenal nomor itu meski belum ia beri nama.
"Hallo!"
"Hai Nona pengawalku sudah tiba kan, masuklah dia akan mengantarmu bertemu dengan kakakmu!" kata Edgar santai.
Zava tidak menjawab.
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir aku tidak menyakitimu dan aku tidak akan menculikmu aku hanya ingin membantumu itu saja kau tidak perlu tegang begitu." kata Edgar lagi seperti mengerti apa yang dirasakan Zava saat ini.
"Cepatlah nona kita tidak punya waktu jangan terlalu banyak berfikir." lanjutnya lagi mengingatkan.
"Baiklah aku tutup telfonnya." sambungan pun terputus.
Zava melangkah ragu setelah mengunci pintu kontrakannya dan memasuki mobil yang sudah terbuka itu.Hatinya ragu tapi dia ingin sekali bertemu kakaknya satu-satunya keluarga yang tersisa maka dia halaukan keraguan itu dan meyakini bahwa Allah akan selalu melindunginya.
"Tuan, apakah anda yakin gadis itu akan kesini?" tanya Rio ragu pada Edgar.
"Aku yakin dia akan kesini menemuimu, apa kau sendiri tidak yakin bahwa dia adalah adikmu?" Edgar balik bertanya.
"Em... aku tidak tau tuan, aku tidak mampu mengingat semuanya hanya saja gadis itu memang tidak asing menurutku dan aku merasa dekat dengannya!" jawab Rio mengungkapkan isi hatinya.
"Kau bisa mengecek darahmu dan darahnya jika kau ragu dan pelan-pelan lah mengingatnya tapi yang aku lihat aku percaya bahwa dia adalah adikmu karena kalian memiliki kemiripan." Edgar saja bisa menganalisis orang lain karena dia sangat pintar dan dia juga ahli di bidang IT.
"Tuan saja yakin dan percaya bahwa dia adikku kenapa aku tidak?" Rio terkekeh sendiri dengan keraguan hatinya semoga saja setelah dia bertemu dengan adiknya ingatannya perlahan kembali.
Edgar hanya tersenyum datar mendengarnya.
__ADS_1
****
Sampailah Zava pada tempat asing sebuah gedung tinggi bertingkat-tingkat rupanya Edgar tinggal diapartemen mewah miliknya sendiri selama tinggal di Indonesia. Bahkan Zava baru melihatnya sudah terkagum-kagum sepertinya dia harus terbiasa dengan hal-hal mewah kalau dia tidak ingin dikatakan kampungan.
"Ayo nona ikut saya!" pengawal itu menuntun Zava memasuki gedung bertingkat itu memasuki lift khusus untuk sampai kelantai sepuluh lantai yang tengah ditempati Edgar saat ini.
Zava pun mengikuti langkah pengawal itu dengan tenang.
Pengawal itu berhenti pada pintu bertuliskan nomor 555 dan mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
"Dia sudah datang bukalah dan sambutlah." kata Edgar seperti tau saja itu adalah orang yang dimaksud. Rio hanya mengangguk dan berjalan melangkah untuk membuka pintu itu.
Pintu terbuka dengan menampakkan wajah dua orang kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu. Mata Zava berkaca-kaca melihat kakaknya meski kakaknya sudah berubah dari penampilannya tapi Zava masih sangat mengenal wajah kakaknya kemudian dengan reflek Zava memeluk Rian dengan erat.
"Kakak aku rindu padamu, kau kemana saja kak!" Zava terisak,mereka masih diambang pintu belum masuk dan tidak keluar.
Rian ikut membalas pelukan adiknya dia juga merasakan kerinduan yang amat terasa dan kerinduan ini tersalurkan dengan kehadiran Zava.
"Hey, masuklah kenapa kalian berpelukan ditengah-tengah pintu." Edgar menyadarkan mereka yang masih terhanyut dengan pertemuan ini.
Keduanya kemudian melepaskan pelukan mereka dan tersadar mereka masih diambang pintu.
"Ayo masuklah!" suruh Rian pada Zava.
Zava mengangguk kemudian masuk ke apartemen mewah itu, sedangkan pengawal itu sudah pergi sedari tadi.
"Anggaplah rumahmu sendiri, aku akan ambilkan air untukmu." Edgar pergi ke dapur untuk membiarkan kakak beradik itu bernostalgia.
"Kak Rian, apa benar kau tidak mengingatku?." ucap Zava mengawali.
"Rian...!" ulang Rian.
"Iya nama kakak adalah Rian, Rian Ardiansyah kakak tidak ingat."
__ADS_1