Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Mencari


__ADS_3

Lalu mereka pun terdiam beberapa saat, tiba-tiba terlintas nama seseorang dibenak Gilang dan dia yakin orang itu bisa membantunya.


"Aku punya teman, mungkin dia bisa membantu kita." kata Gilang membuyarkan keheningan


Dion menoleh, ada secercah harapan dimatanya saat Gilang berkata seperti itu.


"Siapa? cepat hubungi dia."


"Baik tunggu sebentar."


Gilang membuka ponselnya dan mencari nama yang dia tuju dalam hatinya dia berharap orang itu tidak mengganti nomornya karena yang dia tau orang itu sedang berada diluar negri.


Ponsel dia letakkan ditelinga hatinya harap-harap cemas, dan dia sangat lega saat mendengar ponsel itu terhubung berarti orang itu tidak mengganti nomornya.


tuut... panggilan pun tersambung.


"Hallo... Alvian. Ini aku Gilang.!" ternyata yang dicari Gilang adalah Alvian salah satu teman Terthe best Doni yang selalu dapat diandalkan dan dia juga sangat jenius melebihi kejeniusan Doni dan dia sangat pintar dalam bidang IT.


(Gilang...! ya aku mengenalmu. Ada apa tumben sekali kau menelfonku, kau tau dari mana nomorku.) cerocos Alvian diseberang telfon merasa heran.


"Sudah ini genting, kau tidak perlu tau dari mana aku mendapatkan nomormu. Yang penting sekarang kau bisa kesini. Aku ada perlu denganmu." kata Gilang meminta.


(Tunggu, aku kesana. Kau gila yah! aku dimana kau dimana. Maaf aku tidak bisa.) jawab Alvian tegas hendak mematikan telfonnya tapi Gilang langsung berkata yang membuat Alvian terdiam seketika.


"Apa kau tidak ingin membantu Doni temanmu yang sudah tiada? saat ini aku sedang mencari Zava dia telah diculik."


Kali ini Dion yang mengerutkan alisnya. Doni.


(Zava, siapa?). tanya Alvian.


"Eh maksudku Titi." sela Gilang cepat.


(Apa? jadi maksudmu Titi diculik.) Alvian kaget mendengarnya.


"Iya jadi cepatlah aku butuh bantuannya datanglah kemari." kata Gilang memohon lagi.


(Baiklah aku terbang sekarang). kata Alvian langsung menutup telfonnya sepihak membuat Gilang yang disana menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Dia akan kesini sebentar lagi." ucap Gilang pada Dion.


"Tunggu, tadi kau menyebut nama Doni." ujar Dion.


"Iya Doni, dia temanku juga dan dia sudah meninggal dan yang aku telfon adalah teman terbaik Doni, dia pasti akan membantumu." ucap Gilang datar.


"Lalu apa hubungannya dengan Zava?"


"Tentu saja ada hubungannya karena Zava adalah gadis yang sangat dicintai Doni sebelum dirimu." ucap Gilang dan Gilang belum mengetahui bahwa Dion adalah kakak tirinya.


"Astaga, aku benar-benar manusia yang tidak berguna sekarang aku benar- benar menyesal." ucap Dion melongsorkan tubuhnya.


Gilang langsung mendekat menyentuh pundak Dion dan heran melihat Dion yang tiba-tiba seperti itu.


"Hey, kenapa kau begini?"


"Bahkan teman-temannya saja aku tidak tau, ingin rasanya aku mengubur diriku hidup-hidup." oceh Dion membuat Gilang bertambah heran.


"Hey, ada apa denganmu? kenapa kau berbicara seperti itu?" Gilang memegang kedua lengan kekar Dion menyuruhnya agar menatapnya.


"Kau tau Doni adalah adikku, adik tiriku tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya bahkan aku membencinya hanya karena ibunya telah merebut ayahku." ungkap Dion sambil tertunduk.


"Jadi... kau kakaknya." ulang Gilang.


"Iya, aku kakak yang tidak berguna sekarang, dulu Doni pernah meminta tolong padaku agar aku menjaga gadis yang dicintainya yang ternyata gadis itu adalah gadis yang aku cintai sekarang ini." terang Dion lagi lirih.


Gilang terdiam tak bisa berkata-kata, apakah kali ini dia akan kalah lagi sedang kakak beradik itu sangat berkuasa. Dia lalu mengesampingkan perasaan itu bukan waktunya untuk meratapi tapi sekarang dia harus mencari Zava dulu.


"Ya sudah aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian? yang pasti saat ini Zava membutuhkan kita. Dan kau jangan terpuruk seperti ini, bukankah kau laki-laki hebat dan bisa melakukan segala cara, sudah lebih baik singkirkan perasaan sedihmu dulu. Ayo akan membantumu." ujar Gilang menyemangati Dion, dia membantu Dion berdiri tegak.


Dion kali ini dapat terbantu, kedatangan Gilang menjadi angin segar untuknya sekarang dia harus bangkit dan tidak boleh menyerah demi wanita yang dia cintai.


"Terimakasih." hanya itu ucapan Dion yang singkat pada Gilang namun dia mengatakannya dengan tulus dan Gilang tau itu dan dia tersenyum.


****


Zava sedang termenung dibalkon kamarnya dirinya sudah seminggu berada disini, semakin hari dia semakin rindu dengan Dion dan suasana disekitar tempat tinggalnya.

__ADS_1


Dia ingin pulang tapi Rian selalu beralasan yang membuatnya jadi tidak bisa pulang, padahal Zava sudah merengek seperti anak kecil tapi tetap saja Rian selalu melarangnya pulang.


Rian juga melakukan itu bukan karena keinginannya sendiri tapi tuannya yang meminta dan Rian tidak bisa menolaknya, mereka masih bisa bolak-balik keluar hanya untuk soal pekerjaan dan tidak membawa Zava.


Dan Zava merasa seperti burung dalam sangkar emas dirinya memang difasilitasi dengan barang-barang mewah dan makanan enak tetapi dirinya merasa kesepian seperti sekarang ini dirinya hanya seorang diri didalam vila yang besar itu dan hanya ditemani dengan seorang penjaga.


Kakaknya akan kembali besok setelah urusannya selesai, lama kelamaan Zava tidak betah berada disini.


"Dion, kapankah kau akan datang menjemputku? aku rindu sekali.!" gumam Zava sambil menatap hamparan bukit yang luas.


"Aku tidak betah disini, sekarang aku jadi merasa kehilanganmu dan menyadari lebih baik bersama denganmu walaupun kau pemaksa dan menyebalkan." Zava tersenyum sendiri saat mengatakan itu.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka yang memang tidak dikunci dan masuklah Edgar tanpa permisi.


"Zava...!" panggil Edgar sudah berada dibelakang Zava.


Zava kaget langsung berbalik dan mundur secara reflek.


"Tu-an... kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?"


Edgar tersenyum, "Maafkan aku, aku sudah mengetuk tadi tapi rupanya kau tidak dengar makanya aku masuk saja." kilah Edgar berbohong.


"Lalu, tuan mau apa kesini?" tanya Zava tidak nyaman karena hanya berdua bersama pria didalam kamarnya.


"Dan dimana kakakku?" sambungnya melihat kebelakang.


"Itulah yang ingin aku sampaikan, kakakmu tidak bisa pulang dalam beberapa hari ini, dia menitipkanmu padaku supaya aku menjagamu." ujar Edgar beralasan.


Zava seketika mempunyai firasat yang tidak enak, "Loh urusan apa? kenapa tidak memberitahuku dulu.".


"Dia tidak sempat memberitahumu, makanya dia memberitahu melalui aku, kenapa kau keberatan." tanya Edgar, tersenyum tipis.


"Ah tidak apa-apa hanya kaget saja, Ya sudah tuan maaf, bukannya aku mau mengusir tapi ini kamar seorang gadis tidak baik berduaan disini." kata Zava pelan sambil menunduk.


Edgar tersenyum smirk, "Baiklah, maaf aku sudah mengganggumu kalau begitu aku keluar dulu. Selamat beristirahat."


Kata Edgar kemudian berbalik dan Zava merasa lega.

__ADS_1


Sebentar lagi kau akan menjadi milikku Zava.


ucapnya dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2