
"Zava...!" panggil Gilang mendekati tapi Zava bingung ingin bereaksi apa terhadap Gilang.
Zava pun berbalik ingin menghindari Gilang tapi dia kalah cepat dari Gilang karena lelaki itu sudah mencekal tangannya.
"Zava tunggu!" cegah Gilang.
Zava hanya terdiam membelakangi Gilang tapi matanya berkaca-kaca tidak mengerti kenapa dia menangis.
"Zava, maafkan aku karena aku menjadi lelaki pengecut selama ini dan hanya bisa mencintaimu dalam diam." ucap Gilang menundukkan kepalanya.
Lalu Zava menyeka air matanya dan berbalik menatap Gilang dengan tersenyum.
"Sejak kapan kau punya perasaan seperti itu kepadaku?" tanya nya berusaha bersikap biasa.
"Sejak dihutan, waktu kau membantu mengobati kulit, aku pikir hanya biasa saja dan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya tapi... ternyata aku salah semakin lama aku mengenalmu rasa cinta itu semakin tumbuh dan tumbuh. Walau aku tau waktu itu ada Doni yang mencintaimu tapi perasaanku tidak berubah aku masih tetap mencintaimu." Gilang menghela nafas sejenak dan Zava masih menyimak.
"Setelah aku tau Doni meninggal, aku telah berjanji pada diriku sendiri akan melamarmu dan menikahimu setelah keluar dari penjara dan menuntut ilmu kepesantren. Tapi nyatanya sang kehendak ilahi tidak mengijinkannya meski aku berjanji tetap saja kau tidak bisa kumiliki karena kau sudah milik orang lain. Andai saja waktu terulang kembali, aku lebih memilih tidak mengenalmu supaya hatiku tidak sesakit ini." ucap Gilang lirih menundukkan kepalanya dan memukul dadanya pelan.
Zava ikut merasakan perasaan yang dirasakan Gilang, air matanya turun kembali tapi meski Gilang sudah banyak berkorban dan membantunya, hati tidak bisa dipaksakan karena kali ini hati Zava sudah berlabuh kepada Dion dan dia akan segera menikah.
"Maafkan aku Gilang, aku tidak bisa membalas perasaanmu karena hatiku sudah milik orang lain dan aku sangat mencintainya." jawab Zava pelan tak ingin menyinggung hatinya.
"Aku tau, aku yang seharusnya minta maaf karena masih menyimpan perasaan ini."
"Sebaiknya tutup hatimu untukku dan bukalah hati untuk orang lain. Lihatlah kau bahkan sudah dapat melihat bahwa ada seorang gadis yang menunggumu dan dia sama sepertimu. Kau tau kan rasanya jadi ku mohon jangan kecewakan dia terimalah dia, jadikan dia ratu dalam hidupmu." kata Zava membujuk Gilang dan gadis yang dimaksud adalah Salma.
"Aku mohon Gilang, aku sedih melihatmu seperti ini aku tidak mau ada seseorang yang sakit hatinya karena aku." sambungnya lagi, karena memang Zava tak tega melihat Gilang yang tak dapat apa-apa darinya.
Gilang belum bersuara dia membisu untuk beberapa saat.
"Terimakasih Gilang, selama ini kau selalu ada untukku dan selalu menolongku aku hanya berharap semoga kau dapat membuka hatimu untuk Salma yang mencintaimu dengan tulus."
"Zava, kau sudah selesai." Dion menepuk pundak Zava tiba-tiba membuat Zava terhenyak dan Gilang langsung mendongak.
"Mas Dion, se-jak kapan ada disini?" tanya Zava takut Dion mendengar pembicaraan antara dirinya dan Gilang.
"Sejak tadi," jawabnya santai.
"Apa mas mendengar semuanya?"
"Mendengar apa? justru aku ingin bertanya ada apa dengan kalian? dan kenapa kau menangis?" tanya Dion pura-pura.
Sebenarnya Dion mendengar semuanya tapi dia rasa sudah cukup makanya dia menghampiri karena tidak ingin melihat gadisnya merasa bersalah dan terus menangis.
__ADS_1
Dion membiarkan Gilang dan Zava untuk berbicara supaya tidak ada perasaan yang tersakiti lagi dan dia tidak takut Zava akan berpaling, buktinya Zava tetap memilihnya.
"A-ku tidak apa-apa! hanya sedang bercerita sedih saja dengan Gilang. Ya kan Gilang." Zava mengelak dan menatap Gilang penuh harap.
Gilang malas berdebat maka dia hanya menganggukkan kepalanya saja pasrah dengan keadaan.
Tapi hatinya cukup lega karena Zava sudah mengetahui bahwa dirinya sudah lama mencintainya, meski perasaannya tak terbalas.
"Sepertinya waktu mengajarku sudah dekat kalau begitu, aku pergi dulu." pamit Gilang melihat jam ditangannya sebenarnya untuk menghindari Zava dan Dion.
"Iya tidak apa-apa silahkan!" Dion memberi jalan pada Gilang.
"Tunggu Lang."
Gilang berhenti saat hendak melangkah dan menoleh pada Dion.
"Datanglah ke acara pesta pernikahan kami. Ini untukmu." ucap Dion menyerahkan undangan cantik untuk Gilang. Gilang menerimanya dengan perasaan yang semrawut.
"Oh iya jangan lupa, ajak dia juga siapa sayang namanya yang tinggal bersamamu." kata Dion kemudian melirik Zava.
"Salma." jawab Zava pelan.
"Iya Salma, ajaklah dia untuk jadi pendampingmu."
"Kau sudah selesai." tanya Dion menatap Zava intens.
"Sudah, tadi aku sudah bertemu Daryna dan tidak sengaja bertemu Gilang disini jadi sekalian saja." ucapnya pelan.
"Kalau begitu kau mau ikut aku!".
"Kemana?"
"Kesuatu tempat yang sangat indah yang mungkin belum pernah kau singgahi dinegara ini." kata Dion menyentuh pipi Zava.
"Mas, ini disekolah jangan pegang-pegang." Zava menyingkirkan tangan Dion yang tak tau malu menyentuh pipinya.
"Memang kenapa, sebentar lagi kan kau jadi istriku." Dion malah semakin mendekatkan wajahnya membuat Zava memundurkan wajahnya.
"Mas, lihat tuh kita diliatin aku malu."
"Jadi kau mau ikut tidak."
"Tidak, nanti saja setelah kita menikah sekarang lebih baik kita makan aku lapar sekali." kata Zava karena dia sedang tidak mood untuk kemana-mana untuk saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, jadi kau ingin makan apa?" tawar Dion dia juga mengerti keadaannya.
"Eh.. aku ingin makan nasi kuning, sudah lama sekali tidak makan nasi kuning. Ayo kita buat dirumah.
"Hey, kau lupa kalau kita akan pergi ke makam ibuku." ucap Dion karena memang mereka ingin mengunjungi makam ibu Dion.
"Oh iya, maafkan aku. Baiklah pulangnya saja kita buat. Aku juga harus membeli bahannya dulu." ujar Zava teringat dengan tujuannya.
"Ya sudah ayu kita pergi."
"Yuk.."
Mereka berdua pun pergi dari sekolah itu menuju ketempat pemakaman umum, yang ternyata tempatnya sama dengan tempat pemakaman Doni dan ayahnya.
Zava memandangi TPU itu dan melihat sekelilingnya, mereka juga sudah membawa bunga dan air untuk makam orang tercinta mereka.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Dion melihat Zava yang aneh.
"Em... ibumu dimakamkan disini."
"Iya, dan kau pasti tau juga bahwa Doni dan ayahku dimakamkan disini juga."
Zava beroh ria tanpa suara Karen dia mengenali TPU ini.
"Tapi, kalau tempatnya sama, kenapa kau tidak datang ketempat peristirahatan Doni yang terakhir."
"Apa kau melihat aku datang kesini?"
"Tentu saja tidak."
"Ya begitulah, asal kau tau setelah semuanya pergi termasuk dirimu aku baru datang kesini." jawabnya memang benar. Setelah Zava pergi Dion baru menghampiri adik tirinya itu.
"Oh..!"
"Kau mau ke makam ibuku dulu atau kemantanmu dulu." ucap Dion meledek Zava.
Zava merengut kesal dengan ledekan Dion, "Apa sih? kau meledekku. Kita ke makam ibumu dulu. Ayo!" Zava menarik tangan Dion melangkah maju.
"Hey, tunggu memangnya kau tau dimana makam ibuku?"
"Oh iya aku tidak tau." Zava tersenyum malu dan mundur kebelakang.
"Silahkan tuan duluan."
__ADS_1
Dion hanya terkekeh melihat tingkahnya dan melangkah maju.