Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Berkunjung Dimalam Hari


__ADS_3

Malam hari Zava sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dibuat besok karena hari ini Wawan tidak membantu, Daryna juga sedang ada mata kuliah malam maka dia harus menyiapkannya sendiri.


Pesanan pun kini bertambah tidak hanya ditempat kerja Wawan saja tapi Daryna juga telah mempromosikan usaha Zava ke sekolahnya jadi mereka ingin mencoba.


Saat sedang asik dengan aktifitasnya tiba-tiba pintu diketuk dari luar, Zava berfikir itu adalah Wawan maka dia bergegas untuk membukakan pintu tanpa melihat lagi di jendela.


Saat pintu sudah terbuka berdirilah seorang pria gagah dengan membelakangi Zava.


"Maaf, cari siapa yah?" tanya Zava sepertinya dia belum mengenali punggung Dion.


Dion berbalik saat Zava bertanya. Zava langsung melotot saat tau pria itu adalah Dion laki-laki mesum dan tidak sopan.


"Kamu...!" Dion langsung masuk tanpa dipersilahkan lagi membuat Zava melongo seketika.


"Hei, tuan siapa yang menyuruhmu masuk? cepat keluar dari kontrakanku." ucap Zava bersungut-sungut mengikuti Dion yang mengitari kontrakan Zava.


Dion datang sendiri dengan menyetir sendiri mobil mewahnya dan diparkirkan dengan mencolok pasti yang melihat akan bertanya-tanya.


Zava tidak menutup pintunya karena khawatir terjadi salah paham.


"Aku tidak butuh perintah dari siapapun untuk masuk ketempat seseorang termasuk rumahmu." balas Dion seenaknya.


Zava mengernyitkan alisnya, "Tapi jika masuk kerumah orang tanpa izin maka itu tidak sopan."


Dion tidak menjawab dia terus menelisik tempat tinggal Zava bahkan sampai kedapur-dapur.


"Kau sedang membuat apa?" Dion bertanya sambil memegang bahan-bahan olahan Zava.


karena Zava kesal dia membalas, diapun tidak menjawab pertanyaan dari Dion, Zava malah kembali keaktifitasnya mengabaikan Dion.


"Hey, kau tidak menjawab pertanyaanku." kata Dion melirik Zava.


"Tuan juga tidak menjawab pertanyaanku, jadi buat apa aku menjawab pertanyaan tuan." balas Zava tidak melihat Dion.


Dion menjadi gemas dia mendekati Zava dan merebut pisau yang sedang dipegang Zava untuk mengiris bawang.


"Tuan, apa-apain sih jangan ganggu aku!" ucap Zava kesal.


"Kau tidak boleh menggunakan ini, ini bisa melukaimu." pungkas Dion langsung membuang pisau itu kemeja didekatnya.


Zava geram, "Tuan sebenarnya, apa maksud tuan kesini?" Zava baru bertanya itu.


Dion tersenyum, "Tentu saja karena panggilanmu."


"Hah panggilanku kapan aku memanggilmu?" Zava mengernyitkan alis tidak paham.

__ADS_1


"Kau lupa kau sendiri yang memberikan alamat tempat tinggalmu yang ternyata... sangat menyedihkan." timpal Dion dan sedikit nada merendahkan diakhir kalimat.


Zava teringat dia memberikan kertas itu pada Kevin, tapi kenapa malah pria itu memberikannya pada Dion.


"Tuan, aku memberikan kertas itu pada asisten tuan, bukan pada tuan lalu kenapa tuan yang datang dan malah menghina lagi." balas Zava sedikit tidak terima.


"Sama saja itu berarti kau memberikannya padaku, memangnya kau tidak mau menerima bayaranmu." ucap Dion menyeringai.


Zava terdiam teringat bahwa pesanannya belum dibayar.


"Ya sudah kalau begitu mana uangnya dan cepat pergi dari sini, sebelum ada orang yang salah paham." ujar Zava menengadahkan tangannya.


Dion langsung mengambil dompetnya bukan uang yang dia ambil tetapi kartu ATM miliknya.


"Ini...!" Dion menyodorkannya.


"Tuan aku butuh uang bukan kartu, aku tidak punya benda untuk digesek." kata Zava merengut.


"Sudah pegang saja, kau bisa mengambilnya dibank atau kau gesek dimanapun kau mau. Karena aku tidak membawa uang kes." timpalnya santai mengambil tangan Zava dan meletakkan kartunya ditelapak tangan Zava, padahal Dion sengaja melakukannya.


"Tidak tuan, aku tidak mau pokoknya aku ingin uang kes," kekeh Zava mengembalikan kartu itu ketangan Dion.


"Ternyata kau teguh pendirian juga yah! baiklah karena kau tidak mau, maka malam ini aku tidak bisa membayar dan mungkin aku akan kembali lagi kesini." ujar Dion menyilangkan tangan didada.


Zava berfikir, bagaimana ini kalau tidak diambil maka pria ini akan sering kesini jika diambil dia merasa tidak pantas.


"Baiklah, aku ambil kartunya dan sekarang kau boleh pulang." Zava seolah mengusir secara halus.


"Kau mengusirku, apa begini caramu memperlakukan seorang tamu."


Zava mendesis kesal lalu tersenyum paksa.


"Baiklah tuan, ini sudah malam lebih baik tuan pulang karena tidak baik seorang gadis dan pria berduaan." ucap Zava dengan lembut dan senyum yang dipaksakan.


Dion malah makin gemas dia langsung menarik tangan Zava hingga ke pelukannya membuat Zava terkejut dengan tiba-tiba.


Dion bahkan ingin mencium tapi tiba-tiba...


"Zava...!" panggil seseorang yang tidak lain adalah ibunya Wawan yang datang bersama Wawan.


"Kalian sedang apa?" tanyanya lagi karena yang dia lihat sungguh tidak pantas untuk gadis seperti Zava.


Wawan pun sangat terkejut karena bosnya ada disini apalagi dia melihat keintiman Zava dan bosnya.


Zava langsung melepaskan diri saat terciduk tiba-tiba oleh pemilik kontrakan dia jadi tidak enak.

__ADS_1


"Kami tidak sedang apa-apa kok Bu." jawab Zava gugup.


"Lalu siapa pria ini, Zava?" tanyanya sambil melotot karena dia berfikir kalau Zava gadis baik-baik


"Aku calon suaminya, Dion Raditya Mahendra." jawab Dion tegas membuat Zava dan Wawan terkejut membuat jantung Zava berdetak keras.


"Bu, dia juga bos ditempatku bekerja." bisik Wawan pada ibunya saat sudah menetralisir jantungnya.


Ibu Wawan melotot dan segera memasang senyum lebar.


"Oh maaf yah tuan bukan maksud saya tidak sopan, kenapa tuan ada disini? kenapa tidak duduk saja didepan." kata ibu Wawan tiba-tiba ramah.


"Aku hanya sedang membantu calon istriku, sepertinya dia butuh bantuan dan kalau boleh saya mau menginap disini untuk membantunya lagi pula rumahku sangat jauh. jadi hanya menumpang satu malam, bolehkah." ucap Dion asal membuat ketiga orang itu langsung melotot.


Zava menggelengkan kepalanya, "Tidak usah jangan menginap tidak boleh kan ya Bu." Zava mengerlingkan matanya pada ibu Wawan supaya membantunya.


Ibu Wawan mengerti dia segera menyahut.


"Benar tuan, meskipun tuan calon suaminya tapi kalian kan belum menikah jadi tidak boleh menginap." jawab ibu Wawan, Zava dan Wawan pun mengangguk.


"Baiklah kalau begitu aku akan pulang, tolong jaga calon istriku baik-baik. Dan jangan sampai ada pria lain yang memasuki tempatnya termasuk anakmu." tegas Dion melirik Wawan dengan dingin.


Wawan yang dilirik seperti itu menjadi gemetar dia tidak berani memandang Dion barang sedikitpun.


"Silahkan kalian boleh keluar dulu sebentar lagi aku akan pulang." sambungnya menyuruh mereka keluar.


Dengan segan dan sopan mereka keluar dari kontrakannya sendiri.


"Baik tuan, saya percaya pada anda. ayo Wan." kata ibunya menyuruh Wawan untuk keluar. Wawan meskipun menurut tapi dia merasa tidak rela jika Zava berdua dengan bosnya itu.


Setelah mereka pergi Zava dengan sengaja menginjak kaki situan muda Dion sehingga membuat siempunya langsung berjingkat kesakitan.


"Kau... menginjakku." ucap Dion geram tapi tak bisa membalas.


"Iya, aku sengaja kenapa kau bilang pada mereka bahwa kau calon suamiku memangnya siapa yang setuju." Zava menggeram kesal ternyata Dion lebih menyebalkan dari Doni.


"Memangnya kenapa kalau aku mengakui calon suamimu, asal kau tau aku menyelamatkanmu kalau aku tidak melakukan itu kau bisa dicap gadis tidak baik. Kau mengerti." timpal Dion pada Zava.


Zava berfikir benar juga yah apa yang dikatakan Dion, dia pasti akan dikira gadis tidak baik karena membawa pria asing.


"Sudah jangan terlalu lama berfikir, aku haus buatkan aku minum sejak tadi aku tidak diberi apa-apa bahkan tidak disuruh duduk pula." Dion mendengus dan berjalan kearah depan.


Zava tersadar setelah dijitak oleh Dion dia memasang wajah kesal dan tersenyum paksa.


"Iya tuan aku akan membuatkanmu minuman ." Kata Zava dengan berteriak karena Dion sudah didepan.

__ADS_1


"Huh menyebalkan sekali!" lanjutnya bergumam kecil.


__ADS_2