Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2

Terjerat Cinta Kakak Tiri Cinta Masa Laluku (Usia 17) Season 2
Seminggu Tak Bertemu


__ADS_3

Sudah satu minggu Dion mencari keberadaan Zava tapi tak kunjung berhasil, Edgar memang sangat pintar sehingga Dion kesulitan mencari jejak wanitanya.


Dion sampai frustasi memikirkannya bahkan tak jarang urusan perusahaan dia limpahkan pada Kevin sepenuhnya dan dia hanya sibuk dengan pikirannya pada gadis itu.


Padahal niatnya setelah pesta itu dia ingin melangsungkan pernikahan yang mewah dan indah untuknya dan Zava tapi niat itu harus dia tunda dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.


Dion sangat merindukan Zava, setiap hari dia hanya memandangi fotonya saja dan dia pun tidak akan menyerah untuk mencari Zava.


Dion bahkan tak jarang waktunya dihabiskan untuk minum-minuman yang sudah jarang dia sentuh bahkan dia sampai meracau mengatakan dirinya tidak berguna.


****


Sementara itu dikontrakan ibu Lusi. Daryna dan Wawan juga kehilangan Zava karena semenjak pertemuan dipesta itu mereka tidak bertemu Zava lagi, bahkan mereka mengira Zava pindah tapi itu tidak mungkin karena setelah dicek menggunakan kunci cadangan barang-barang nya masih ada jadi tidak mungkin Zava pindah begitu saja apalagi dirinya tidak mengatakan apa-apa.


Mereka sudah mencari kemanapun tapi tidak kunjung ketemu apalagi Zava tidak punya sanak saudara disini karena dia pendatang baru disini.


Saat mereka sedang kebingungan mereka dikejutkan dengan kedatangan Gilang dan Salma setelah mereka pulang kampung selama dua minggu.


"Hai, assalamualaikum!" sapa Gilang dan Salma pada Wawan dan Daryna yang sedang duduk diteras depan kontrakan Zava.


"Waalaikum salam." terkejut mereka menjawab, tidak dapat dipungkiri wajah mereka berdua sama-sama sendu.


"Ada apa dengan wajah kalian? kenapa murung begitu?" tanya Gilang berjalan kearah mereka bersama Salma.


"Iya kita kembali, apa kalian tidak senang?" tambah Salma sambil tersenyum.


"Kami senang kalian kembali, tapi..." Daryna menjawab, saat kata terakhir dia berhenti sambil memandangi pintu rumah Zava.


"Tapi kenapa? kenapa kau melihat kearah sana. Zava ada kan." Gilang merasakan sesuatu yang ganjal dari mereka saat mereka memandang kepintu Zava.


"Zava tidak ada, sudah seminggu dia tidak ada.!" jawab Wawan dengan lesu.


Gilang terkejut bukan main dunia serasa berhenti saat mendengar kata Zava tidak ada begitu juga dengan Salma tapi dia tidak terlalu kentara.


"Apa maksudmu tidak ada? selama seminggu." dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang Gilang berubah panik, dipikirannya dia takut Zava pindah atau lebih parahnya diculik.


"Aku juga tidak tau, terakhir bertemu waktu acara pesta dan setelah itu kita tidak bertemu dia lagi sampai sekarang. Orang-orang dikantor semua menanyakannya." jawab Wawan lirih.


"Pesta, pesta apa?" tanya Gilang lagi, wajahnya mulai serius membuat Salma harus kuat menahan perasaannya.


"Pesta ulang tahun perusahaan tempatku bekerja dan dia juga pergi bersama bosku." kata Wawan memandang Gilang.

__ADS_1


"bos mu tuan Dion bukan."


"Iya.!"


Gilang terdiam beberapa saat dirinya malah menduga bahwa Zava dibawa oleh Dion, diapun mengepalkan tangannya dengan mengeraskan rahangnya.


"Apa sekarang Dion ada disana." tanya Gilang tanpa memandang Wawan.


"Sejak Zava tidak ada, bosku pun sama dia tidak pernah datang keperusahaan, sekilaspun tidak." jawab Wawan.


Dan Gilang semakin yakin, "Kalau begitu, berikan alamat tempat tinggal Dion sekarang." pinta Gilang dengan datar.


"Untuk apa?" Gilang malah menatap tajam Wawan karena dirinya malah bertanya membuat Wawan menciut juga.


"Baiklah, baiklah akan aku kirim alamatnya sekarang." dengan tergesa Wawan membuka ponselnya dan mengirim alamat Dion yang dia tau ke nomor Gilang.


Drrt drrt


Gilang langsung membuka ponselnya setelah pesan itu masuk dan memasukkannya kembali kesakunya.


"Salma, kau disini saja. Aku ingin mencari Zava." Kata Gilang pamit pada Salma. Dan Salma hanya bisa mengangguk tanpa bisa melarang.


"Boleh aku membantumu." tawar Wawan sambil beranjak.


"Tidak perlu, aku sendiri saja."


Gilang langsung bergegas melajukan motornya pergi ke alamat yang diberi Wawan.


****


Sampailah Gilang dikediaman Dion, dia berdiri digerbang dan bertanya pada Satpam.


"Permisi, aku ingin bertemu dengan tuan Dion." sapa Gilang ramah pada penjaga itu.


"Maaf, apa anda sudah ada janji karena tuan Dion tidak ingin diganggu." jawab penjaga itu membalas ramah.


"Katakan saja ini dari Gilang, penting ingin bertemu." kata Gilang tegas.


"Baik, tunggu sebentar." penjaga itu bergegas melaksanakan perintah tamunya.


Sedang didalam Dion sedang menyesap rokok sambil meminum bir. wajahnya kacau, kantung matanya hitam karena jarang tidur, rambutnya pun acak-acakan dia seperti anak yang tak terurus. Namun meski begitu dia tetap tampan.

__ADS_1


"Tuan permisi, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." kata penjaga dengan sopan.


"Kau sudah tau, bahwa aku tidak ingin bertemu siapapun kan." jawab Dion dingin.


"Iya benar tuan, tapi dia berkata dia adalah Gilang dan ingin berkepentingan bertemu tuan." kata pengawal itu lagi.


Dion terdiam dan berfikir. "Baiklah suruh dia masuk dan temui aku."


"Baik tuan.!" penjaga itu langsung pergi melaksanakan perintah tuannya.


Dion menyesap rokok terkahirnya dan membuangnya keasbak yang sudah penuh dengan puntung rokok dan dia bergumam pelan.


"Jika kedatangannya tidak membantuku dan hanya mengacaukanku saja, lebih baik kubunuh dia." katanya dengan mata memerah tajam.


Tidak lama kemudian Gilang sudah masuk ke kediaman Dion dan langsung diantar keruangan Dion.


Saat masuk Gilang mencium bau tidak sedap yang sangat menusuk hidung dia memang tau ini bau apa? tapi karena dia sudah taubat dan tidak menyentuh barang itu lagi dia jadi merasa asing dengan baunya.


"Ada apa kau mencariku? jika kau bertanya Zava ada dimana maka jawabannya aku pun tidak tau dan jangan memprofokasiku" tebak Dion langsung yang ternyata benar dan dia berbalik menghadap Gilang yang tadinya membelakangi.


Gilang sedikit terhenyak, tadinya dia ingin berkata begitu tapi Dion sudah memberi telak padanya, saat ini dia hanya kaget melihat penampilan Dion yang lebih mirip seperti pengamen jalanan tapi berparas tampan.


"Kenapa kau kaget melihatku begini? kau tau sudah seminggu aku mencarinya tapi tidak ketemu juga, aku memang tidak berguna." ucap Dion menggeleng Lirih.


Gilang yang tadinya ingin marah jadi merasa kasian melihat penampilan Dion yang seperti ini yang sangat jauh dari kesehariannya yang biasa memakai jas dan berpakaian sangat rapih serta harum.


Gilang mencoba mendekat perlahan melihat lebih jelas wajah Dion dari dekat dan dirinya terkejut. Dia kemudian menyadari bahwa Dion sangat mencintai Zava.


"Jadi bukan kau yang membawa Zava." tanya Gilang pelan.


"Apa aku harus bersaing tidak sehat denganmu sampai aku harus menyembunyikan wanitaku? heh kalau begitu pikiranmu, kau picik sekali." kata Dion menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan.


"Jadi siapa yang membawa Zava.?" tanya Gilang.


"Dia musuhku sejak lama dan dia juga menginginkan Zava dengan berkilah tinggal bersama kakaknya yang sekarang sudah kembali." kata Dion datar.


"Apa...? kakaknya kembali jadi dia masih hidup." Gilang terkejut tak percaya dengan kenyataan ini.


"Jadi Rian ada disini." lanjutnya lagi.


"Ya dan dia adalah asisten dari musuhku." ujar Dion menatap tajam kedepan.

__ADS_1


__ADS_2