
Mereka kini telah tiba di salon ternama dimana salonnya para selebritis.
Bahkan saat mobil diparkir pun gedung itu sudah terlihat begitu tinggi dan mewah hanya dari luarnya saja.
"Silahkan nona kita sudah sampai!" ucap Kevin.
Zava terpaku ditempat duduknya hanya dengan melihat luarnya saja dia sudah menduga bahwa salon itu untuk orang-orang bergengsi.
"Tuan, untuk apa kita kesini?" tanya Zava setelah diamnya menatap takjub bangunan itu.
Kevin tidak menjawab tapi dia keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil dibelakangnya.
"Nona akan tau jawabannya jika nona keluar." jawab Kevin selalu membuat Zava penasaran.
"Aku heran padamu tuan, kenapa kau tidak langsung menjawab saja pertanyaanku? selalu saja membuatku penasaran." oceh Zava mengerucutkan bibirnya tapi Kevin tidak terpengaruh dia tetap diam tak menjawab.
"Hey, kenapa diam saja? bagaimana kalau aku pacarmu? apa kau masih mendiamkanku.?" ujar Zava lagi mencoba memancing Kevin yang datar itu.
"Itu tidak mungkin nona, kau sudah milik tuan muda."
"Hey, dia belum mengatakan apa-apa padaku yah!" jawab Zava mengelak.
"Terkadang seorang pria untuk mewujudkan itu bisa dengan berbagai cara tinggal bagaimana wanitanya menanggapi." jawab Kevin seperti pujangga cinta padahal dia sendiri jomblo.
Zava mengernyit tak mengerti kemudian dia keluar dari mobil tak mau ambil pusing dengan pernyataan Kevin.
"Ya sudah aku ikut denganmu, lalu kita mau apa?" tukas Zava sudah berada disamping Kevin.
"Mari ikuti saya nona.!" ucap Kevin berjalan terlebih dahulu, Zava pun mengikuti sampai masuk kedalam salon.
Pandangan pertama yang ditampilkan Zava adalah kagum karena memang dia belum pernah memasuki salon manapun hanya restoran-restoran yang bagus yang pernah dia singgahi.
Matanya tak berkedip memandangi interior dalam gedung itu hingga dia malu sendiri karena terciduk oleh pegawainya.
Zava pun hanya tersenyum malu dan menunduk.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Kevin pada resepsionis cantik didepan yang selalu tersenyum.
"Atas nama tuan Dion Raditya,!" Kevin mengangguk. "Sudah tuan, silahkan."
Kevin mengangguk lagi lalu berbalik pada Zava.
__ADS_1
"Nona silahkan ikuti wanita ini dan nikmati saja apa yang dilakukannya pada nona dan aku harus pergi. Jika sudah selesai akan ada yang menjemput nona disini. Mengerti nona." ucap Kevin panjang lebar memberi arahan pada Zava yang hanya manggut-manggut walau banyak pertanyaan dibenaknya karena percuma bertanya pun tidak dijawab oleh Kevin.
"Silahkan nona, mari ikut saya!" kata pegawai salon itu ramah.
"Iya..!" jawab Zava singkat.
Zava dibawa masuk kedalam sedangkan Kevin segera meninggalkan salon itu dan kembali keperusahaan sesuai perintah Dion.
Hal yang pertama yang dilakukan Zava adalah Zava disuruh mandi berendam air susu yang sangat wangi.
"Silahkan nona mandi terlebih dahulu, nona akan melakukan perawatan sebelum itu lepaskan semua pakaian nona dulu dan pakailah handuk ini." kata spesialis salon yang ditunjuk langsung oleh Dion untuk melayani Zava.
"Tunggu... boleh aku bertanya dulu padamu?" ucap Zava berharap ada jawaban.
"Apa nona?"
"Siapa yang membiayai ini semua? bukan aku kan karena jujur aku tidak punya uang." bisik Zava malu tak mau terdengar oleh yang lain padahal disitu hanya ada berdua.
Pegawai itu terkekeh dibuatnya, nonanya benar-benar lucu dan jujur.
"Nona tenang saja semuanya sudah dibayar, dan nona hanya menikmati saja." jawabnya ramah.
"Orang yang akan menjemput nona nanti." katanya membuat Zava menghela nafas jengah lagi-lagi dirinya dibuat penasaran. Ya sudahlah kalau begitu nikmati saja.
"Baiklah, tunggu disini aku akan melepas pakaianku." kata Zava kemudian.
Lalu Zava mendapatkan perawatan ekselusif dimulai dari berendam hingga selesai. Zava keluar dari berendamnya lalu dilanjutkan dengan Spa terus saja bahkan Zava hingga tertidur saking enaknya pijatan itu.
Zava juga padicure dan manicure untuk mempercantik tangan dan kakinya.
Setelah itu rambutnya pun tak luput juga semua kena hingga membuat Zava benar-benar seperti ratu hari ini.
Setelah semua perawatan telah selesai dilakukan kini Zava didudukkan dimeja rias untuk dimake up, Zava benar-benar menjadi penurut sekarang apa yang diperintahkan dlselalu dituruti hingga mereka tidak kerepotan dalam melayani Zava sebaliknya justru mereka senang.
Saat dimeja rias Zava di make over sesuai dengan bentuk wajahnya pengaplikasian dalam memakai alat rias sungguh sudah ahli mereka dan tidak perlu diragukan bahkan Zava sampai terkantuk-kantuk lagi saking lembutnya.
Setelah selesai Zava diperintah untuk memakai gaun panjang yang sangat indah dan mewah gaun yang tertutup beserta hijabnya sangat serasi dan berkelas.
Zava bahkan sampai tertegun melihat gaun yang sangat indah itu merasa tidak pantas dia yang memakainya dia pun jadi ragu.
"Ada apa nona? apa gaunnya kurang cocok dengan anda?" kata pegawai melihat raut wajah yang ditunjukan Zava.
__ADS_1
Zava segera berdalih, "Ah tidak bukan itu malah sebaliknya, aku tidak pantas memakai gaun itu, itu terlalu bagus sampai silau aku melihatnya." jawab Zava jujur.
Pegawai itu kembali terkekeh, "Nona gaun ini adalah pilihan dari tuan untuk nona. Saya yakin nona akan tambah cantik dengan gaun ini, mari saya pakaikan."
Pegawai itu tak menyerah dia menggiring Zava keruang ganti dan Zava hanya pasrah menerimanya.
Pada saat Zava sedang berganti pakaian, orang yang menjemput Zava datang bersama pengawalnya dengan pakaian yang sudah rapi dan gagah.
Dia memakai tuxedo mewah dengan warna senada dengan gaun yang dikenakan Zava warna silver dipadu dengan coklat transparan sungguh indah rancangan dari designer ternama sehingga membuatnya semakin tampan dan berkarisma.
Pria itu memasuki salon dengan auranya yang terpancar sehingga mampu membuat pegawai wanita tak bergeming melihatnya sungguh terpesona sayangnya lelaki itu bukan miliknya dia hanya bisa mengagumi dalam diam.
"Bagaimana?, apa dia sudah selesai?" tanyanya dengan suara baritonnya.
"Sebentar lagi tuan, dia sedang dipakaikan pakaian." jawab pegawai dengan menunduk hormat.
Pria itu mengangguk, "Bawa dia kehadapan ku jika sudah selesai." katanya lagi dengan nada datar namun tetap tampan.
Tak lama kemudian Zava kini telah selesai dirombak habis-habisan dan itu membutuhkan waktu lebih dari setengah hari sungguh waktu yang lama kini hari sudah gelap Zava baru dikeluarkan disangkar perawatannya yang mewah.
"Nona, lihatlah anda dicermin!" kata Pegawai yang setia itu menuntun Zava kehadapan cermin.
Zava kini didepan cermin tapi matanya tertutup seolah tidak ingin melihat perubahan apa yang akan terjadi pada dirinya. Dia membuka mata perlahan dan mulai mengintip lalu dia membola dengan mulut terbuka, tatapannya terpesona melihat dirinya sendiri tapi pikirannya mengatakan tidak percaya bahwa itu dirinya dia menutup mulutnya kemudian dan berputar sungguh perubahan yang begitu kentara sangat indah dan cantik.
"Apa ini diriku mbak?" tanya nya tak percaya.
"Iya nona, itu nona cantik kan aku yakin yang menjemput nona pun akan terdiam tak bisa berkata-kata saking terpesonanya." jawabnya tersenyum tulus.
"Ah orang yang menjemputku sudah datang.!" tiba-tiba pipinya memerah.
"Iya, sekarang dia sedang menunggu nona."
"Siapa dia?".
"Lihatlah jika nona ingin tau!" katanya masih tak mau memberitahu dari awal karena dia sudah mendapat peringatan dari Kevin untuk tetap tutup mulut hingga akhir.
"tunggu, apa yang menjemputku termasuk orang yang sama yang membiayai semua perawatan ini?" tanya Zava.
"Iya nona benar!" jawabnya membenarkan.
"Baiklah, ayo aku sudah siap.!" ucap Zava dipikirannya dia telah menebak satu nama yang telah merencanakan ini semua dan dia terus tersenyum sepanjang hari. Siapakah dia? tentu saja pria itu adalah Dion Raditya.
__ADS_1