
Setelah semua selesai makan malam, Bram dan Wina bersantai di kamar. Wina memijit pundak sang suami, sebab ada hal yang ingin ia sampaikan yaitu tentang Ruko yang ia lihat pagi hari. Wina memeluk Bram dari belakang lalu mencium pipinya dan tersenyum.
“Kamu menginginkan apa, Sayang?” tanya Bram mengusap tangan sang istri yang sedang merangkulnya.
“Em ... Aku mau membeli Ruko, aku mau membuka catering. Boleh?”
Bram tersenyum lalu menarik Lembut Wina agar duduk di sampingnya.“ Boleh, sayang. Apa pun yang kamu inginkan akan aku penuhi.”
“Tapi aku mau membelinya dengan uangku sendiri. Aku hanya meminta izin denganmu saja.”
Bram mengusap lembut pipi Wina, ia tahu wanita di depannya ini begitu mandiri dan pekerja keras.
“Aku izinkan, tapi dengan satu syarat!”
“Apa!”
“Layani aku malam ini dan besok aku temani kamu ke pemilik ruko itu.” Bram mendekatkan wajahnya, menyatukan hidungnya ke hidung Wina. Wina tersenyum lalu menarik kerah baju Bram.
“Tidak perlu minta, Mas. Kapan pun kamu mau aku akan berikan.”
Mereka pun berciuman dan melakukannya. Mereka saling memberikan kehangatan, lengkuhan nikmat saling bersautan membuat suasana kamar semakin panas. Mereka saling melengkapi gejolak hasrat mereka masing-masing.
Tentu saja rasa itu begitu bergejolak, dimana mereka baru saling kenal dan rasa penasaran masih sangat melekat dihati keduanya terutama Bram.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Bram saat sudah selesai. Wina tersenyum lalu mengecup pipi Suaminya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan suaminya.
Wina menatap suaminya dan masuk ke dalam pelukannya, entah bagaimana mengutarakan isi hatinya dan rasa terima kasihnya mempunyai suami yang pengertian seperti almarhum suaminya.
“Mas, maaf ya kalau aku banyak kekurangan. Maaf juga kalau nanti aku merepotkan dirimu.”
“Direpotkan istri itu sudah tugas suami, Tidak apa-apa. Aku malah senang.”
“Terima kasih.” Wina kemudian bangkit menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak lama Bram juga ke kamar mandi setelah itu mereka tidur.
Pagi harinya, mereka berdua bersiap pergi dan ingin melihat ruko yang dimaksud Wina. Namun, sebelum itu mereka berdua mengantarkan sekolah Syasa.
Di perjalanan menuju ruko Bram terus menggenggam tangan Wina sampai sopir dan Boy, sang bodyguard pun tersenyum melihat keromantisan mereka berdua.
“Tuan, Nyonya. Sudah sampai,” ucap Pak Dedi, sang sopir.
__ADS_1
“Iya, Pak. Terima kasih. Ayo Mas turun!” ajak Wina.
Boy dengan sigap membuka pintu belakang, Wina dan Bram turun .
Bram melihat sekitar ruko tersebut dan memang tempatnya begitu strategis untuk usaha. Kemudian ia melihat sang istri yang sudah berbicara dengan pemilik rukonya. Ia tersenyum istrinya begitu jeli melihat peluang bisnis didepan mata, pantas saja saat masih bekerja di perusahaan pak Herman reputasinya tidak diragukan lagi.
“Mas, bagaimana menurutmu?” tanya Wina meminta pendapat Bram.
“Bagus, tempatnya strategis. Kamu memang pintar, Sayang.” Bram mengusap punggung Wina.
“Terima kasih, tapi harganya belum deal. Bantu nego!” bisik Wina diakhir Kalimatnya.
Bram tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Wina.
“Apa imbalannya?” bisik Bram.
Wina tersenyum malu, ia tahu maksud suaminya.“Nanti malam 3 ronde,” bisik Wina membuat Bram melengkungkan senyum bahagianya.
“Ok!” Bram kemudian bernegosiasi pada pemilik ruko agar melepaskan ruko tersebut untuk istri tercintanya.
“Nyonya, bukannya kemarin sudah deal harganya.”Ucap Boy yang heran kenapa Wina meminta Bram untuk nego harga lagi.
“Siapa tahu bisa turun sedikit harganya,” ujar Wina tersenyum melihat sang suami bersama pemilik toko.
Wina hanya tersenyum, ia hanya mencoba menawar kembali apa salahnya.
“Sayang, harganya deal. Hanya turun sedikit.” Bram menghampiri Wina.
"Ok, terima kasih.” Wina memeluk Bram sekilas.
“Pak, terima kasih. Selebihnya nanti untuk surat-suratnya biar pengacara saya yang mengurusnya,” ucap Bram pada pemilik ruko.
"Iya Tuan, terima kasih. Terima kasih, Nyonya. Mari!” pemilik ruko pun pamit.
Wina begitu senang akhirnya impiannya ingin membuat usaha catering pun segera terwujud.
"Ya sudah, Ayo berangkat ke kantor.”
Mereka semua masuk kedalam mobil dan menuju kantor.
__ADS_1
Di kantor Wina memeriksa pekerjaan yang selama ini di pegang orang kepercayaan Pak Herman. Ia dibantu Ara, asistennya untuk memeriksa semuanya. Banyak sekali kejanggalan yang menurut Wina tidak wajar, banyak laporan yang tidak sesuai di lapangan.
"Ara, laporan sebanyak ini kok, tidak ada satu pun yang sesuai di lapangan, sih! Kenapa tidak dilaporkan ke pusat, pasti banyak yang korupsi disini,” terka Wina.
“Anu, Bu. Eum ... itu ....”
“Anda jangan menuduh tanpa bukti, Nona!” Suara bariton itu tiba-tiba terdengar di ruangan Wina
Wina melihat ke arah sumbar suara lalu ia bangkit dan tersenyum jengah. “ Apa Anda merasa tertuduh?” ujar Wina datar.
"Anda orang baru tidak perlu mengkoreksi apa yang sudah kami kerjakan di perusahaan ini,”
‘Brakkk!’ Wina menggebrak meja, pria di hadapannya itu pun terkejut.
“Saya memang baru disini! Tapi saya sudah lama berkecimpung di pekerjaan ini, dan saya tahu seluk beluk perusahaan ini. Dan Saya juga tahu jika ada kecurangan di dalamnya. Anda lihat sendiri, Tidak ada sejarahnya perusahaan ini berhenti di tengah jalan saat mengerjakan proyek besar maupun kecil.” Wina melempar beberapa dokumen proyek yang mangkrak sudah dua tahun.
"Jangan pikir saya selama ini tidak mengawasi kalian. Apa perlu saya beberkan bukti anda berlaku curang di perusahaan ini, mulai dari istri kedua Anda.”
Pria yang menjadi orang kepercayaan Mertua Wina itu pun tidak terima sudah diperlakukan tidak sopan. ia berjalan melangkah mendekati Wina dan menarik kerah bajunya.
“Aku tidak takut dengan gertakan anak kemarin sore!”
’Grep’ tiba-tiba ada yang memegang tangan pria tersebut.
“Singkirkan tangan kotormu itu dari baju istriku, tuan Sami!” Bram mengibaskan tangannya dengan begitu emosi.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” Bram mencium kening istrinya.
Wina menggeleng lalu merapikan bajunya kemudian menatap tajam Sami.
“Aku memang anak kemarin sore, Tuan. Tapi pengalaman Anda lebih banyak saya. Tapi saya tidak pernah main-main dengan pekerjaan saya. Saya beri Anda kesempatan untuk memperbaiki pekerjaan Anda. Jika tidak, Anda tahu resikonya.”
Sami merapikan jasnya dan menatap tajam Wina dan Bram, tatapan penuh dendam dan Amarah, Ia pun kemudian keluar meninggalkan ruangan Wina.
“Ara, tolong ambilkan minuman untuk saya dan suami saya.” Wina kemudian duduk di kursinya.
“Baik, Bu!” Ara bergegas keluar menuju pantry.
Bram mengusap lembut rambut Wina lalu menciumnya, ia melihat raut wajah sang istri yang tampak kesal dengan Sami.
__ADS_1
“Sudah, nanti pasti semua masalah di perusahaan ini semua teratasi. Jangan terlalu di pikirkan. kalau butuh bantuan, nanti Mas bantu!”
Wina mengusap punggung tangan suaminya lalu tersenyum.“ Terima kasih. Sejauh ini aku masih bisa mengatasinya. Sebenarnya aku sudah lama ingin membuka semuanya tapi baru sekarang ada waktu yang tepat.”