Terjerat Cinta Single Parent

Terjerat Cinta Single Parent
33. Janji


__ADS_3

Setelah makan siang. mereka bergegas menuju pantai di jogja, tak lupa mereka membawa cemilan dan tikar untuk duduk di bibir pantai, syasa yang sedari tadi antusias mengajak jalan jalan pun, terlihat bahagia melihat debur ombak dan pasir. ia bermain pasir bersama Dini baby sisternya, sedangkan Bram dan wina duduk di tepi pantai beralasan tikar.


Bram mengenakan celana pendek selutut dan kaos oblong berwarna putih, kaca mata hitam, tak lupa topi yang yang selalu jadi andalannya saat berpergian. menambah kesan maskulin. sedang kan wina mengunakan celana pendek di atas lutut dan kaos oblong berwarna putih senada dengan Bram, mengenakan kaca mata hitam dengan rambut terurai, rambut Wina tertiup angin membuat jantung siapapun berdesir saat melihatnya. Wina duduk dan bersandar di dada Bram. Ia tersenyum melihat tingkah polah syasa ,mereka berdua tertawa lepas melihat tingkah syasa. tiba tiba ada yang menyapa Wina.


"Wina? Wina Wijaya?" tanya seseorang tersebut


"Ya? maaf, siapa ya?" tanya wina balik, ia langsung berdiri di ikuti bram. Wina mengingat ingat siapa laki laki yang menyapanya itu.


"Riyan? Astaga. maaf aku baru mengingatmu," ucap wina, lalu tersenyum. ia tidak menyangka bisa bertemu Riyan teman Almarhum suaminya Alfin.


"Apa kabar?" tanya riyan. lalu menyalami wina.


"Baik, ya begini lah." jawab wina. Bram tidak menyukai Laki laki yang menyapa istrinya. ia terus melihat tajam Riyan. namun Riyan tidak melihat tatapan Bram dan justru dengan berani menatap Wina.


"Ehem.." suara Bram terdengar.


"Oh iya. Riyan ini suami ku!" ucap Wina memperkenalkan Bram pada Riyan.


"Aku tahu. foto dan berita kalian sepekan ini menjadi tranding topik." memang berita pernikahan Wina dan Bram hampir di beritakan setiap hari di televisi maupun surat kabar, sudah pasti semua orang mengetahui pernikahan mereka tidak terkecuali Riyan.


"Tapi suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan anda tuan." ucap Riyan lalu mengulurkan tangan nya.

__ADS_1


"Ya. senang berkenalan dengan anda" jawab Bram lalu menjabat tangan Riyan dengan kuat dan menatap tajam Riyan.


"Astaga, sorot matanya seperti nya tidak bersahabat " ucap Riyan dalam hati. Riyan menyadari jika Bram sepertinya tidak menyukai kedatangannya.


"Mas. Riyan ini temen satu angkatan Almarhum mas alfin." jelas wina mencairkan suasana, karena melihat ekspresi Bram sungguh tidak bersahabat.


"Ah.. iya." jawab Bram singkat dan terpaksa tersenyum.


"Wina. kalau begitu aku permisi, permisi tuan." pamit Riyan lalu pergi dari hadapan bram dan Wina. ia tidak mau membuat hati Bram semakin panas, lebih baik ia segera pergi.


"Mas!" panggil Wina. Namun bram hanya diam.


"Mas cemburu? " tanya Wina seraya mengusap pundak Bram. Wina benar benar tidak hati melihat ekpresi suaminya.


"Sial! apa yang aku lakukan" ucap bram merutuki dirinya sendiri.


"Nyonya kenapa !? " tanya Dini heran dan mengikuti langkah wina.


"Ayo pulang Din.x jawab Wina sambil mengusap air mata di pipinya dan terus berjalan menggendong syasa.


"Wina! sayang!" panggil Bram. ia terus berlari mengejar Wina. ia berusaha meraih lengan Wina.

__ADS_1


"Sayang! maafkan aku, aku sudah bernada tinggi pada mu" Wina hanya Dian. Bram merasa sangat bersalah, kemudian memeluk Wina. syasa yang melihat Wina menangis, juga ikut menangis.


"Mama," ucap syasa dalam tangisnya


"Ssssttt. sudah, mama tidak apa apa." Bram mengamini Syasa lalu mencium pipinya.


"Maaf sayang" Bram mengusap air mata Wina dan Syasa lalu memeluk mereka.


"Dini! bawa syasa ke mobil, kita pulang," ucap Wina


"Baik nyonya," Dini mengajak syasa menuju mobil. Sementara itu Bram dan Wina masih berdiri di tempatnya.


"Sayang maafin mas.. tolong maafin mas..mas janji tidak akan bernada tinggi lagi pada mu,"


"Janji?"


"Mas janji," kemudian mereka pun berpelukan.


🍁🍁🍁🍁


vote like komen

__ADS_1


Terima kasih ☺❤


__ADS_2