Terjerat Cinta Single Parent

Terjerat Cinta Single Parent
17.panggil aku mas


__ADS_3

Bram memarkirkan sepeda motor wina di tempat parkir, membuka helm dan masker nya,kemudian memakai topi, wina melepas helm dan memberikan pada Bram. Mereka berdua berjalan menuju taman, kemudian duduk di bangku taman. sebelumnya bram membeli minuman terlebih dahulu


"Sudah lama tidak kemari "ucap wina yang melihat sekeliling taman dan berjalan berdampingan bersama Bram mencari tempat duduk


"Apa kamu sering kemari ?" tanya bram lembut


"Dulu saat masih ada mas alfin " jawab wina santai


"Kita duduk di sini saja pak, tidak terlalu banyak orang yang melintas " ucap wina lalu tersenyum dan duduk di bangku taman.


"Ternyata di sini sudah banyak berubah, aku juga sudah lama tidak datang kemari? " ucap bram lalu melihat wina


" Jangankan tempat ini yang berubah, kehidupan juga berubah dengan seiring nya waktu, " ucap wina yang sudah meneteskan air matanya karena teringat kenangan nya bersama Alfin namun Bram tidak menyadari jika wina sedang meneteskan air matanya


"Walau sudah banyak berubah tapi kenangan itu akan tetap sama dan tidak ada yang bisa merubahnya " ucap wina lagi lalu menghapus air matanya


"Kamu menangis? " tanya Bram saat melihat wina mengusap air matanya


"Eum.. tidak pak, hanya mata saya terkena debu " bohong wina namun air matanya semakin deras


"Kamu tidak bisa berbohong pada ku, maaf jika tempat ini mengingat mu pada Almarhum suami mu " ucap Bram lalu menggenggam jemari wina


"Maaf pak.. " ucap wina lalu menghapus air mata nya.


"Menangis lah jika itu membuat mu lega " jawab bram, wina semakin tak kuasa menahan air matanya kenangan nya bersama alfin begitu kuat di ingatan nya ditambah ia berkunjung di tempat yang banyak meninggalkan kenangan bersama alfin. Bram yang melihat wina menangis tak tega lalu menarik lembut kepala wina ke pelukan nya, selama ini wina hanya menyimpan kesedihannya sendiri, entah mengapa bersama Bram ia bisa menumpahkan isi hatinya dan kegalauan nya,. dirasa hati nya sudah lega berlahan ia menarik tubuh nya dari perlukan Bram dan menghapus air mata nya sendiri

__ADS_1


"Maaf Pak.. ? " ucap wina sambil mengusap sisa air mata nya


"Tidak tidak apa apa.. " ucap bram lalu tersenyum dan mengusap lembut rambut wina


"Wina.. apa kamu benar benar ingin membuka hati mu untuk seseorang ,siapa pun itu? " tanya Bram menatap serius wina


"Memang saya akan mencobanya, tapi saya tidak tahu ,saya bisa atau tidak " ucap wina lalu membalas tatapan Bram


"Jika aku yang masuk kedalam hati mu apa kamu mengizinkan nya " tanya Bram serius


"Maksud bapak? " tanya Wina yang masih sedikit bingung


"Izinkan aku mengenal mu lebih dekat sebagi laki laki dewasa yang menyukaimu" jawab Bram lembut. Wina terdiam dan menatap lekat sorot mata bram seolah mencari keseriusan disana


"Kenapa bapak menyukai ku, aku seorang janda, dan mempunyai anak "


"Aku tidak perduli dengan status mu yang aku tahu, aku menyukai mu " balas Bram yang sudah berlutut di hadapan wina


"Pak, apa yang bapak lakukan?, duduklah " ucap Wina tidak enak hati melihat Bram berlutut di hadapannya


"Aku mencintaimu " ucap Bram lagi dan masih memandang wajah wina begitu lekat hingga Wina menjadi salah, perlahan Bram meraih jemari Wina dan mmasih posisi yang sama.


"kiita baru satu minggu kenal pak, secepat itu bapak menyatakan perasaan bapak? " tanya wina memastikan keseriusan bram


"Apa aku butuh waktu lama lagi untuk jatuh hati pada mu? tidak win.. aku jatuh hati pada mu semenjak pandangan pertama, semenjak aku melihat kamu dari semua karyawan ku, " ucap Bram begitu serius

__ADS_1


"Yapi..? " ucap wina menggantung


"Kenapa kamu harus mengucapkan tapi jika kamu memang ingin mencoba membuka hati mu? " ucap bram yang masih berlutut di hadapan wina


"Baiklah jika bapak memaksa tapi beri saya waktu untuk menerima semuanya " ucap wina sedikit ragu lalu tersenyum ke arah bram


"ok, aku harap secepatnya kamu benar benar membuka hati mu dan jangan biarkan orang lain lagi masuk kedalam hati mu karena aku yang mengisinya sekarang " jawab bram tanpa sadar mencium punggung telapak tangan wina, dan wina hanya tersenyum malu. lalu bram pun duduk di sampingnya


"Mulai sekarang jangan panggil aku bapak, karena aku bukan bapak mu " ucap Bram lalu tersenyum


"Lantas aku harus memanggil bapak siapa? "


"panggil aku mas.. " ucap bram lalu tersenyum kearah wina


"baiklah, mas.. " ucap wina ragu dan terasa lucu lalu sedikit tertawa


"Mas.., baik kita pulang syasa pasti sudah menunggu " ucap wina


"ıya ayo.. "


🍁🍁🍁🍁


vote like komen


Terima kasih😘💕

__ADS_1


__ADS_2