
"OEKKK."
suara tangisan yang menggema di ruang bersalin Syalila.
"Selamat Tuan penerus dari Kerajaan hutan hijau telah lahir." ucap Rey.
Tak lama kemudian nampak satu suara lagi muncul dari ruang bersalin Syalila. mendengar suara tangisan bayi kembali. Hal itu membuat orang-orang yang ada di luar ruang bersalin sedikit kebingungan karena tadi ada suara tangisan sekarang muncul lagi suara tangisan.
"OEKKK..."
suara tangis seorang bayi lagi.
namun beberapa detik kemudian.
"OEKKK!!!"
terdengar satu suara lagi setelah 2 suara tangisan keluar dari dalam ruangan bersalin Syalila.
"Tuan, tadi sudah keluar dua. kok ada tangisan lagi?" tanya Phay yang senang sekaligus bingung. di kerajaan hutan hijau memang tidak pernah ada yang melahirkan langsung kembar Hal itu membuat para siluman yang ada di tempat itu benar-benar dibuat pusing serta takjub.
"Tidak tau, Phay." jawab acuh Ley yang masih tegang dengan kondisi seperti ini. pria itu masih belum melihat kondisi istri dan anak-anaknya. Tak berselang lama akhirnya tiga suara teriakan itu telah terhenti, yang artinya kalau bayi itu kembar tiga.
OEKKK!!
OEKKK!!
OEKKK!!
tangis tiga bayi yang baru lahir.
"Selamat tuan!!" seru Siluman Rubah wanita yang membantu proses kelahiran anak Syalila.
"Satu, dua, tig-tiga?" ucap Zhen yang menatap ketiga bayi kecil itu.
"Lihatlah tuan, anda mempunya dua putra dan satu putri!" seru gadis rubah.
"Benarkah?!" teriak Ley yang bahagia melihat ketiga bayinya. setelah itu Riu, Rey, Zhen dan Phay menatap satu persatu bayi itu.
"Cantik dan tampan!!" ucap Riu yang menyentuh pipi gadis kecil itu.
__ADS_1
"Iya, tapi semoga tak ada yang menuruni sifat nona Sya." ucap Zhen dan Rey.
"Benar, kalau ketiganya menuruni sifat nona Sya. maka gawat lah kita!" jawab Phay yang menatap wajah Rey.
"Bisa-bisa nama kita berubah secara permanen!!" bisik Zhen yang mengelus dadanya sambil membayangkan ketiga anak Syalila memanggilnya manusia berekor atau muka berekor wah bisa gawat.
"Hihhh..." Rey yang bergidik mendengar gerutuan Zhen. tentu saja para siluman yang ada di hutan hijau mereka selalu dibuat terperangah dengan kata-kata yang diucapkan oleh Syalila. memberikan nama tanpa bertanya kepada yang punya tubuh mengatakan sesuatu tanpa berpikir dahulu.
"Semoga ketiga anak ini meniru sifat tuan raja Hutan hijau." guman Rey sambil menutup mulutnya. jika sampai kata-katanya didengar oleh Syalila mereka semua bisa menjadi daging gosong yang tidak akan bisa melarikan diri dari wanita itu.
"Hihhh." keempat silaman itu menghela nafasnya dengan begitu kasar dan panjang membayangkan saja mereka benar-benar sudah dibuat mati kutu apalagi jika itu benar terjadi maka mereka bisa-bisa merasakan kegundahan yang sangat luar biasa.
"Kalian berbicara apa, awas kalau Isteriku mendengar pembicaraan kalian." ucap Ley yang membuat mereka berempat diam seketika.
EMPAT TAHUN KEMUDIAN
Hirup pikuk di hutan hijau kini semakin ramai dengan adanya suara tangisan tiga bayi Syalila dan Ley dan tak terasa usia ketiga bayi itu sudah tiga tahun. para siluman terkadang dibuat kebingungan dan pusing dengan semua tingkah dari bayi kembar tiga tersebut sekarang mereka bukan bayi lagi tapi bayi agak besar.
"Aaaa!" suara teriakan Syalila yang menggema dari kediamannya hingga membuat Ley langsung datang.
"Ada apa isteriku? Kenapa?" tanya Ley santai saat pria itu berjalan mendekati sang istri.
"Memang kenapa?" dengan sabar Ley menghampiri isteri dan putrinya. Ley bukanlah tipe seorang pria yang akan mudah marah ketika dia bersama istri dan anak-anaknya. dengan begitu sabar pria itu duduk sembari menanyakan kejadian yang terjadi kepada dua putranya.
"Ada apa?!" seru Syalila yang memutar badan dan menunjukkan hasil karya kedua putranya kepada suaminya. wanita itu menunjukkan hasil karya kedua anaknya yang benar-benar sangat luar biasa hingga membuat ratu kerajaan hutan hijau benar-benar murka luar biasa.
"Phuft.." Riu yang menahan tawa setelah melihat wajah Syalila dan putrinya penuh dengan gambar.
"Hehh." Ley yang berusaha bersikap bisa, langsung menyikut Riu. le tidak ingin ada amarah keributan bahkan salah satu anak buahnya akan dilempar salilah entah ke mana.
"Kau lihat suamiku, lihatlah wajahku dan putrimu ini. kau kira aku lukisan dinding apa!!" seru Syalila yang marah dengan kelakuan dua putranya itu pagi buta ketika dia dan putrinya masih tertidur, wanita itu merasakan sesuatu yang aneh. Ley sudah pergi dari kediamannya ketika pagi belum nampak. saat Syalila terbangun, wanita itu menatap wajah putrinya dia benar-benar syok ketika melihat wajah putrinya di penuhi lukisan. sedangkan saat putrinya bangun malah putrinya tertawa terbahak-bahak melihat lukisan di wajah ibunya.
"Lariiii!!" seru kedua putra Syalila dan Ley yang menghindari amukan ibunya.
"Dasar anak pria berambut putih!!" seru Syalila yang mengejar kedua putranya. wanita itu lupa dengan kondisi wajahnya dia mengejar kedua putranya dengan amarah yang begitu luar biasa.
Setelah mendengar cerita dari Syalila. Hal itu membuat Ley dan Riu hanya menahan tawa dan tak mau jadi bahan pelampiasan kekesalan Syalila atas perbuatan kedua putranya.
"Akar abadi." ucap Ley yang langsung menarik putranya dengan akar pohon.
__ADS_1
"Ebun..ebun..maap!!." seru kedua putra syalila meminta maaf kepada sang ibu dengan suara yang agak cadel.
"Ebun. ebun.. ibundamu ini bukan kebun. dasar ni anak kok gak seperti ayahnya sih!" gerutu Syalila yang mengambil putranya dari tangan suaminya. seketika hal itu membuat Riu bergumam dan menahan tawa.
"Ayah." manja putri Syalila kepada Ley.
"Ada apa putri cantik ayah?" tanya Ley dengan sabar.
"Belcihin muka acila." ucap Axila pada ayahnya.
Oya perkenalkan dulu ya anak kembar syalila dan ley.
- anak pertama Rion Han Zhey
- anak kedua Leon Han Zhey
- anak ketiga Azela Han Zhey
"Yah sayang!!" jawab Ley sambil membersihkan wajah putri kecilnya. le terlihat melakukan semua pekerjaannya dengan begitu lembut begitu sabar bahkan semua yang dia lakukan itu tidak akan menunjukkan kemarahan sama sekali berbeda dengan Ratu cerewet yang sudah memberikan kedua putranya itu hukuman.
"Nih anak, bikinan siapa sih." gerutu Syalila sambil memukul pelan tangan kecil itu.
"Phuff." lagi-lagi Riu menahan tawanya, setelah mendengan perkataan Syalila. memang benar jika orang tak bisa meraba dirinya sendiri. bahkan Syalila lupa bagaimana dirinya dan dia lupa bagaimana kelakuannya sendiri. Hal itu membuat Riu harus menahan sekuat tenaga ketika dia mendengar kata-kata yang diucapkan oleh ratunya tersebut.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Mawar hitam berduri
- I love you uncle Bastian
- Terlempar ke dimensi kerajaan
__ADS_1